Gembar-gembor soal film Paranoia ini sudah saya dengar sejak tahun 2020 lalu. Bagaimana tidak, kru dan para pemain dari film ini terbilang cukup berani mengambil risiko dengan melakukan proses produksi di tengah kasus pandemi yang sedang tinggi-tingginya saat itu.

Vibes film ini semakin terasa dengan begitu banyaknya pemberitaan serta publikasi tentang film yang dibintangi oleh Lukman Sardi, Nirina Zubir, Caitlin North-Lewis dan Nicholas Saputra ini. Saya pun cukup berekspektasi tinggi terhadap film ini karena menurut saya, Paranoia bisa memberikan pengalaman baru di saat bioskop sudah mulai kembali dibuka.

‘Paranoia’, Film Thriller Penuh Ekspektasi yang Nyatanya AntiklimaksDok. Miles Films

Paranoia bercerita tentang Dina (Nirina Zubir), seorang single-parent yang bekerja sebagai karyawan agen penginapan di Bali. Bersama anaknya, Laura (Caitlin North-Lewis), Dina seringkali berpindah tempat tinggal demi menghindari Gion (Lukman Sardi), mantan suaminya yang kasar dan kerap melakukan KDRT.

Hidup Dina sedikit lebih tenang saat Gion dipenjara. Setidaknya, ia bisa bernafas lega beberapa tahun sampai masa hukuman Gion selesai. Namun, realita tak sesuai ekpektasinya. Gion justru mendapat remisi dan bebas di masa pandemi ini. 

Dina pun bersembunyi di sebuah villa terpencil dan di sana dia bertemu dengan Raka (Nicholas Saputra) yang juga memiliki masa lalu misterius. Berhasilkah Dina dan Laura bersembunyi dari Gion yang masih terus mengejarnya?

‘Paranoia’, Film Thriller Penuh Ekspektasi yang Nyatanya AntiklimaksDok. Miles Films

Rasa deg-degan, tegang dan dibayangi ketakutan, menjadi suasana yang ingin dibangun sepanjang menonton film ini. Jujur Prananto, dibantu Riri Riza dan Mira Lesmana, sebagai penulis skenario, menurut saya, cukup berhasil membangun cerita menegangkan dari awal hingga pertengahan film. 

Sangat brilian malah menurut saya, bagaimana Riri sebagai sutradara mengarahkan film ini. Bayang-bayang ketakutan akan bertemu dengan sosok Gion yang psycho benar-benar saya rasakan, hingga merasa mual sendiri. Padahal, sejujurnya, sepanjang menonton Paranoia, tak ada jump scare berlebihan a la film thriller yang siap mengagetkan penonton di setiap adegan.

‘Paranoia’, Film Thriller Penuh Ekspektasi yang Nyatanya AntiklimaksDok. Miles Films

Less is more. Istilah tersebut saya sematkan untuk film ini. Sebab, hanya dengan empat karakter utama dan lokasi yang sama, jalan cerita film ini tetap tersampaikan dengan rapi, tanpa ada kurang apapun.

Sayangnya, beberapa detail justru terabai begitu saja dan cukup mengganggu. Misalnya, tak ada darah saat adegan binatang terlindas, atau ponsel yang dalam keadaan mati, namun bisa melakukan panggilan. 

Detail yang terabai ini cukup termaafkan dengan pemandangan Bali yang sepi dan bersih. Sinematografi arahan Teoh Gay Hian berhasil mempertahankan keindahan Bali, sekalipun nuansa gloomy di sepanjang film menjadi warna utamanya.

‘Paranoia’, Film Thriller Penuh Ekspektasi yang Nyatanya AntiklimaksDok. Miles Films

Dari sisi pemain, kali ini perhatian saya sangat tertuju pada Lukman Sardi. Ia berhasil membawakan sosok Gion dengan begitu totalitas. Tentu kita tahu, di kehidupan nyata, Lukman adalah seorang family man yang begitu mencintai keluarganya. Namun di film ini, Lukman keluar dari zona nyamannya, menanggalkan predikat family man yang selama ini dikenal di dunia nyata untuk kemudian bertransformasi menjadi Gion, sosok arogan, kasar, cemburuan dan penuh nafsu.

Jika diingat kembali, Paranoia menjadi film pertama Lukman memerankan sosok psycho. Karakter ini menambah kaya pengalaman pria kelahiran 14 Juli 1971 ini, di bidang akting. Sebelumnya, Lukman pernah memerankan karakter berkebutuhan khusus dalam film Rectoverso, menjadi seorang guru sekaligus pejuang yang melawan penjajah di trilogi Merah Putih, serta menjadi sosok ‘abu-abu’ dalam film superhero Gundala.

‘Paranoia’, Film Thriller Penuh Ekspektasi yang Nyatanya AntiklimaksDok. Miles Films

Lokasi yang indah, para aktor dan aktris papan atas yang mumpuni, hingga premis cerita yang menjanjikan, ternyata tak cukup membuat Paranoia untuk memberikan penutupan yang maksimal. Saya cukup kecewa dengan ekspektasi saya soal grafik alur yang terasa antiklimaks di film ini, sampai terucap, “begini doang?”

Gion yang garang dan seolah tak terkalahkan, bermuara ke pergulatan yang ternyata menjadi sia-sia. Apakah mungkin karena ini karya thriller perdana Mira dan Riri yang ternyata menyeberang genre bukan perkara mudah.

Menurutmu sendiri bagaimana, Bela? Sudah menonton film ini, belum? Jika sudah, tulis pendapatmu di kolom komentar, ya.

Baca Juga: 'Story of Dinda', Bukan Sekadar Film Percintaan Biasa

Baca Juga: ‘Selesai’, Romansa Rumah Tangga yang Terlalu Jujur untuk Diekspos

Baca Juga: 'Ali & Ratu Ratu Queens', Kisah dari New York yang Hangatkan Hati