“Kalau aku mau berjalan jauh, aku harus bareng-bareng. Kalau mau jalan cepat, aku bisa jalan sendiri. Tapi aku mau jalan jauh.”

Marchella FP bukanlah siapa-siapa saat masih menjadi mahasiswi jurusan DKV di Universitas Bina Nusantara. Bagi kebanyakan orang, IP 1,8 bukanlah angka yang ingin dilihat dalam laporan akademiknya. Tapi itu kenyataan yang harus Marchella terima. Hingga saat menghadapi skripsi, jalan pikirannya cukup sederhana, yaitu ingin memberikan sesuatu kepada dirinya dan putra-putrinya kelak. Generasi 90-an pun bukan menjadi tema unggulannya saat ingin membuat buku grafis, namun dosennya berkata lain. “Cel, suatu hari buku ini jadi, ini bakal jadi buku sejarah yang menghibur karena mengarsipkan pop culture Indonesia,” kenang perempuan yang akrab disapa Cecel ini. 

Meski jadi ‘anak DKV’, dirinya masih buta dengan ilustrasi dan harus kursus kilat dengan seniornya. Di titik ini, Marchella perlahan berevolusi. Layaknya skripsi lain, Marchella juga melakukan riset melalui Twitter secara anonim dan mengumpulkan kenangan para millennial tentang masa kecil mereka. Singkat cerita, setelah skripsinya selesai, ia memutuskan untuk mengangkat karyanya menjadi buku karena banyaknya responden yang ‘kecewa’ jika diskusi tentang era 90an tersebut disudahi. 

#IAMREAL: Marchella FP, Generasi 90-an dan Kebahagiaan yang SederhanaPopbela.com/Andre Wiredja

Ketika tema kampanye #IAMREAL untuk bulan ini muncul, saya nggak pikir panjang untuk memilih siapa yang ingin saya temui. Entrepreneur muda itu banyak, tapi saya yakin Marchella punya cerita yang berbeda. Sampai di kalimat ini, mungkin kamu bertanya, di mana letak entrepreneurship-nya? 

Begini... 

Ada banyak pertimbangan ketika Marchella mengajukan karyanya ke penerbit, mulai dari dianggap terlalu segmented hingga buku grafis untuk dewasa yang dianggap nggak akan laris. Setelah berkali-kali ditolak oleh penerbit, Marchella akhirnya bekerja sama dengan penerbit KPG untuk mencetak karya pertamanya yang diberi judul Generasi 90-an. Royalti dari penjualan buku ia pakai untuk mendirikan brand keduanya, ProudtoPostIt, yang bergerak di bidang merchandising. Yup, bisnis Marchella berawal dari sini. Seperti startup business pada umumnya, hampir semua pekerjaan dipegang langsung oleh Marchella dan dibantu oleh beberapa rekannya. 

#IAMREAL: Marchella FP, Generasi 90-an dan Kebahagiaan yang SederhanaPopbela.com/Andre Wiredja

Tahun 2015 membawa pelajaran berharga dalam hidup Marchella. Memasuki tahun ke-3, bisnisnya mulai goyah. Uang untuk menjalankan bisnisnya dibawa kabur. “Dulu finansialku juga masih sembarangan, belum ada manajemennya. Duit habis, teman-teman yang bantu juga cabut, dan di situ aku berpikir sepertinya aku nggak bisa mengerjakan semuanya sendiri. Aku akhirnya berpikir, ‘kalau aku mau berjalan jauh, aku harus bareng-bareng. Kalau mau jalan cepat, aku bisa jalan sendiri. Tapi aku mau jalan jauh’,” tuturnya. 

Marchella mengaku sempat sangat idealis pada awal mendirikan bisnisnya dan sama sekali nggak menerima iklan serta pemasukan dari pihak luar. Namun, uang di tangan sudah tak seberapa. Generasi 90-an pun terancam tutup di usianya yang masih sangat muda. Menggunakan sisa uang belasan juta rupiah yang nggak dibawa kabur, Marchella menyewa ruko dan mempekerjakan 2 orang untuk membantu bisnisnya selama 3 bulan. Bayang-bayang untuk kembali bekerja di perusahaan agensi sempat datang jika bisnis yang ia bangun dari nol ini nggak menunjukkan hasil. 

#IAMREAL: Marchella FP, Generasi 90-an dan Kebahagiaan yang SederhanaPopbela.com/Andre Wiredja

Hingga kini, aroma idealisme masih tercium di bisnisnya. Marchella paham betul jika bisnis membutuhkan modal yang nggak sedikit, apalagi untuk ukuran perusahaan. Tapi, idealisme ini bisa saya terima. Generasi 90-an enggan mencari investor karena ingin tetap mempertahankan karya dan kreativitas mereka tanpa campur tangan pihak lain. “Karya yang terlalu business-minded itu bakal terasa nggak tulus lagi dalam penyampaiannya. Cukup sulit menyeimbangkan keduanya karena bisnis butuh uang tapi karya juga harus hidup. Selama ini kami bertahan dengan hasil karya kita sendiri. Generasi 90-an sudah seperti bayiku, jadi nggak apa-apa kecil asalkan impactful.” 

Baru 3 tahun menjadi perusahaan, PT. Kebahagiaan Itu Sederhana juga punya filosofi tersendiri. Sebagai founder, Marchella mengartikan kebahagiaan sebagai sesuatu yang cukup dan memiliki dampak. Hidup di era millennial, Marchella ingin suasana kerja di perusahaan yang ia bangun juga diperhitungkan. “Sempat kerja di perusahaan yang besar tapi dramanya seperti anak-anak. Suatu hari aku mau bikin perusahaan yang kita bisa bermain seperti anak-anak, tapi orang-orangnya dewasa dan nggak menjatuhkan satu sama lain. Itu spirit yang ingin aku bangun di sini.” 

Sedikit nostalgia, saya jadi teringat masa kuliah saya dulu ketika buku Generasi 90-an pertama kali beredar di pasaran. Di tahun 2013 lalu, saya sempat berpikir, kenapa ada orang yang kepikiran membuat karya tentang era 90-an yang saat itu belum ‘disentuh’ oleh siapa pun. Bagi saya yang belum merasakan pedihnya menyusun skripsi kala itu, saya berpikir, “Kayak apa sih penulisnya?”. Siapa sangka, 5 tahun kemudian, saya bisa mendengar langsung respons penulisnya. Baginya, ide generasi 90-an tersebut bisa turun di mana pun, namun Tuhan memilih untuk menurunkan ide tersebut kepadanya. “Kalau hal seperti ide, itu di luar kuasa aku. Sisanya yaitu konsisten dan kerja keras, termasuk mereka yang sudah bantu aku. Aku merasa diberkahi.” 

#IAMREAL: Marchella FP, Generasi 90-an dan Kebahagiaan yang SederhanaPopbela.com/Andre Wiredja

Keinginan Marchella untuk menciptakan karya dan perusahaan yang impactful nyatanya telah terwujud. Saat buku pertamanya rilis, ia mengaku sering menangis karena respons masyarakat yang di luar dugaan. Nggak sedikit pembaca yang berterima kasih karena bertemu dengan karya di mana mereka bisa membaca dan sharing pengalaman kepada anak-anaknya serta mengajarkan kebahagiaan yang sederhana. Bahkan, baru-baru ini peluncuran buku ketiga Marchella yang berjudul Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI) juga sempat heboh. NKCTHI sendiri merupakan ‘mesin waktu’ yang menceritakan kehidupan masa sekarang untuk masa depan. Sebanyak hampir 5 ribu buku ludes terjual kurang dari 10 menit lewat sistem pre-order. 

Berdiri di antara karya dan bisnis memang nggak mudah, tapi sudah menjadi tanggung jawab Marchella sebagai founder Generasi 90-an untuk menjaga keduanya. Berharap Generasi 90-an semakin membawa hiburan yang positif dan bermakna bagi setiap penikmatnya. Saya harap ke depannya Generasi 90-an sesuai dengan bagaimana cara Marchella menggambarkan dirinya.

“Aku seperti bohlam. Dari zaman aku sekolah, aku selalu menganggap diriku bohlam. Di kala orang lain ingin jadi matahari, bulan, bintang, yang semua orang bisa lihat, yang bisa menerangi seisi bumi. Aku merasa aku bohlam, aku cukup di satu ruang, satu ruang itu nyaman, dan orang dalam ruang itu nyaman, ya itu cukup.”

Photo credit:

Photographer: Andre Wiredja

Makeup & Hair: Jilly Loren, Sari

Stylist: Wilsen Willim

Fashion Editor: Michael Richards

Asst. Stylist: Ranti Kusuma, Soraya Aini

Wardrobe & Accessories: Wilsen Willim, RACCOONANDBABIES

Location: NPM Studio

Baca Juga: #IAMREAL: Jadi Desainer Eco-Friendly, Ini Perjalanan Aurelia Santoso