Kini Bebas, Ini Kronologi Evakuasi Buaya Berkalung Ban yang Legendaris

Kamu masih ingat, Bela, dengan buaya legendaris yang berkalung ban? Ya, buaya yang berada di sungai di Kota Palu, Sulawesi Tengah ini kerap menampilkan dirinya ke daratan untuk berjemur. Namun yang menarik sekaligus membuat miris para masyarakat, adalah bagian bawah lehernya yang kalung ban.
Setelah viral pada 2016, buaya ini banyak mendapat simpati. Bahkan, sudah banyak ahli satwa dan pemerhati reptil yang datang untuk mencoba menyelamatkannya. Tak kunjung berhasil, akhirnya setelah perjalanan enam tahun, ban tersebut pun terlepas dari buaya pada Senin (7/2/2022) kemarin. Bagaimana kronologinya? Berikut selengkapnya!
1. Berawal dari viral pada tahun 2016

Buaya berkalung ban viral di media sosial dan seluruh media pada tahun 2016, tepatnya pada 20 September. Diduga karna warga yang sering membuang sampah ke sungai menjadi penyebab buaya tersebut tersangkut ban.
Tapi tak sedikit juga yang beranggapan sengaja memasangkan ban tersebut. Buaya sebesar empat meter itu pun ramai diperbincangkan dan membuat seluruh warga Indonesia bersimpati. Ketua Satgas Penyelamatan Satwa Liar, Haruna, mengatakan BKSDA pernah menyelidiki asal mula buaya tersebut terjebak ban di 2016.

"Berdasarkan investigasi kami, buaya ini berasal dari Desa Loli, ditangkap sama masyarakat yang ada di Loli. Ia ditambatkan di pinggir laut, karena takut kalau pakai nilon akan melukainya, maka dimasukanlah ban yang diikatkan nilon.
Kemudian tali nilon itu terlepas dan buaya ini lepas dengan membawa ban di lehernya. Motifnya sederhana, dia mau memelihara buaya itu sehingga banyak yang menonton, dan bisa mendapatkan sesuatu dari banyaknya penonton yang melihat itu," kata Haruna.
2. Upaya evakuasi dari pemerintah

Sejak viral itu, Dinas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah mencoba berbagai cara untuk menyelamatkan dan melepaskan ban dari leher buaya tersebut. Beberapa usaha di antaranya dengan jala yang diberi pemberat dan menggunakan kerangkeng. Namun, upaya itu tak berhasil.
3. Upaya Panji Petualang bersama timnya pada 2018

Bersama timnya, Panji yang dikenal sebagai pemerhati reptil ini mendatangi Palu pada 2018 untuk menyelamatkan buaya berkalung ban itu. Namun, ia masih kesulitan menentukan cara menangkap buaya. Banyak pertimbangan terkait risiko yang besar, mulai dari arus deras, adanya buaya lain, hingga takut menyakiti buaya tersebut. Akhirnya, upaya penyelamatan itu tak berhasil di lakukan.
4. Gelar Sayembara pada awal 2020

Pada awal tahun 2020 lalu, BKSDA Sulteng menggelar sayembara. "Jika ada masyarakat berhasil melepas ban bekas di leher buaya itu, kami akan berikan imbalan," kata Kepala BKSDA Sulteng Hasmuni Hasmar, 28 Januari 2020.
Sayembara diadakan karena BKSDA Sulteng tidak punya cukup sumber daya untuk mencari buaya dan menyelamatkannya. Sayembara juga diadakan setelah diinstruksikan oleh Gubernur Sulteng kala itu, Longki Djanggola. Namun, karena sepi peminat, sayembara akhirnya ditutup.
5. BKSDA Datangkan Matt Wright dari Australia

Pada Februari 2020 lalu, presenter asal Australia Matt Wright dan rekannya, seorang pakar reptil, Chris Wilson, berkunjung untuk melepaskan buaya dari jeratan ban. Ahli penanganan satwa liar asal Australia yang juga presenter di National Geographic ini memasang perangkap pada lokasi kemunculan buaya yang terjerat ban sepeda motor di Sungai Palu di Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (11/2/2020).
Perangkapnya selalu gagal alias tak kunjung berhasil, BKSDA lantas membentuk satgas untuk menangkap buaya itu. Keduanya bergabung dengan tim satuan tugas yang dipimpin Kepala Seksi Wilayah I Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah Haruna setelah berkonsultasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan mendapat izin resmi.
Segala upaya bahkan latihan pun dilakukan, namun sangat sulit memancing buaya tersebut naik ke darat. Hingga akhirnya Matt dan rekannya harus mengucapkan selamat tinggal pada buaya tanpa bisa menyelamatkannya.
6. Forrest Galante dan Discovery Channel juga turut

Masih di tahun 2020, Forrest Galante dan tim Discovery Channel juga turut untuk berupaya menyelamatkan si buaya yang sudah semakin besar ini. Pembawa acara Extinct or Alive on Animal Planet ini mulai beraksi pada 12 Maret 2020, dibantu oleh pakar buaya bernama Jamal. Berbagai metode dan alat pun disiapkan. Namun, masih belum berhasil dan juga terkendala pandemi COVID-19, yang harus membuat upaya terhenti dan Forrest kembali ke negara asalnya.
7. Buaya sempat kembali muncul untuk berjemur
Setelah cukup lama tak terlihat, si buaya berkalung sempat muncul kembali dan berjemur di tepi sungai di Palu. Buaya tersebut kembali terlihat pada akhir tahun 2020 setelah di tahun tersebut beberapa kali dilakukan upaya penyelamatan. Menariknya, ibu-ibu dengan daster terlihat santai berada dekat dengan ‘buaya seleb’ itu dan tak berapa lama, buaya pun kembali ke sungai.
8. Perjalanan panjang 6 tahun pun akhirnya membuahkan hasil

Kini setelah hampir enam tahun berkalung ban, ‘buaya seleb yang legendaris’ di Palu itu akhirnya bebas dari lilitan. Sosok yang menyelamatkannya adalah seorang pria bernama Hili (35), warga Kota Sragen, Jawa Tengah, yang datang ke Palu.
Ia berhasil melepaskan ban dari badan buaya pada Senin (7/2/2022) malam. Dalam pengakuannya, Hili mengatakan, sudah tiga pekan mencoba menangkap buaya berkalung ban itu. Setiap sore, dia memasang umpan yang terikat tali ke sungai sekitar.

Ujung tali lainnya diikat pada batang kayu besar yang ada di sekitar sungai untuk memudahkannya menarik buaya saat umpan itu berhasil dimakan. Merpati atau ayam biasa digunakan menjadi umpan.
Senin petang, Hili kembali memasang umpannya dan berhasil menangkap buaya itu. Dia tak sendiri, warga setempat yang menonton aksi Hili turut membantu. "Saya memang mau menangkapnya karena kasihan. Buaya itu terlilit ban selama bertahun-tahun," ucap Hili.

Saat buaya berhasil ditarik ke darat, Hili dengan sigap mengikat buaya itu. Menurut Hili, buaya berkalung ban berhasil dia evakuasi sekitar pukul 18.30 WITA. “Yang jerat saya sendiri, tapi saya minta bantuan warga untuk angkat ke darat. Mungkin ada 50 orang yang bantu angkat,” cerita Hili.
Setelah diangkat ke darat dan diikat dengan baik, ban pun akhirnya dilepaskan dari badan buaya tanpa menyakitinya. Warga yang membantu pun tak ada yang terluka. Kemudian masyarakat bersama Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Palu serta Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah melepaskan kembali buaya tersebut ke habitatnya di Sungai Palu.
Itulah kronologi penyelamatan atau evakuasi buaya berkalung ban sejak 2016 hingga 2022, yang akhirnya bisa terbebas.



















