Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
Install

Kenapa Orang Bisa Jahat di Media Sosial? Ini Penjelasan Psikologinya!

3 min read
Kenapa Orang Bisa Jahat di Media Sosial? Ini Penjelasan Psikologinya!
Dok. IDN
  • Nanin Aritrana menjelaskan di BeautyFest Asia Surabaya 2026 bahwa interaksi digital dapat membuat orang lebih mudah melontarkan komentar negatif kepada orang asing.

  • Di media sosial, pelaku tidak melihat ekspresi, bahasa tubuh, atau respons emosional penerima, sehingga merasa lebih berani berkata tanpa memikirkan dampaknya.

  • Jarak dalam komunikasi online dapat mengurangi kesadaran bahwa ada manusia berperasaan di balik akun; komentar yang dianggap candaan tetap bisa memengaruhi penerimanya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Media sosial kini menjadi tempat bagi banyak orang untuk berinteraksi, berbagi cerita, hingga menyampaikan pendapat. Namun, di balik kemudahan tersebut, tidak sedikit pula yang memanfaatkannya untuk melontarkan komentar negatif, menghina, bahkan menyerang orang lain.

Menariknya, perilaku tersebut terkadang dilakukan kepada orang yang bahkan tidak mereka kenal secara pribadi. Seseorang bisa dengan mudah menuliskan kata-kata menyakitkan di kolom komentar, padahal belum tentu berani mengatakan hal serupa ketika bertemu secara langsung.

Nah, fenomena tersebut ternyata dibahas oleh psikolog klinis sekaligus CEO Invira Humania, Nanin Aritrana, M.Psi dalam sesi talkshow Feeling is Healing: Emotions but Make It Healthy di BeautyFest Asia Surabaya 2026 yang digelar di Convention Hall, Tunjungan Plaza 3 pada Jumat (30-10-2026).

Dalam sesi tersebut, Nanin Aritrana menjelaskan bahwa ada perbedaan antara interaksi secara langsung dan melalui dunia digital yang dapat memengaruhi cara seseorang berperilaku. Berikut penjelasannya!

  1. Tidak melihat reaksi orang lain memunculkan rasa berani

    Beautyfest Asia 2026
    Dok. IDN

    Salah satu hal yang dibahas dalam sesi ini adalah perbedaan ketika seseorang berkomunikasi secara langsung dan melalui media sosial. Saat bertemu secara langsung, seseorang bisa melihat ekspresi wajah, bahasa tubuh, hingga respons emosional lawan bicaranya.

    Namun, kondisi tersebut berbeda ketika komunikasi berlangsung secara online. Seseorang tidak bisa melihat secara langsung bagaimana perasaan orang yang menerima perkataannya. Hal ini bisa membuat mereka lebih leluasa melontarkan komentar tanpa memikirkan dampaknya.

    Dalam sesi tersebut, Nanin Aritrana turut mengangkat pertanyaan, "Kenapa sih orang-orang ini bisa melakukan hal tersebut, padahal kita nggak kenal?"

    Pertanyaan ini menggambarkan bagaimana seseorang bisa begitu mudah melontarkan perkataan negatif kepada orang asing di media sosial.

    "Orang-orang di media sosial berani karena mereka tidak melihat reaksi dari komentar jahat itu sendiri, jadi mereka bisa berkata sesukanya," kata Nanin.

  2. Jarak membuat seseorang kurang memikirkan dampak

    Beautyfest Asia 2026
    Dok. IDN

    Berbeda dengan komunikasi tatap muka, interaksi online menciptakan jarak antara orang yang berbicara dan penerima pesan. Akibatnya, seseorang bisa lebih mudah melupakan bahwa ada manusia dengan perasaan di balik akun yang sedang mereka komentari.

    "Kalau ketemu langsung, kita bisa melihat emosi orang lain yang membuat ada rasa tertahan untuk melontarkan hal-hal negatif," ucap Nanin.

    Padahal, setiap perkataan yang dituliskan di media sosial tetap memiliki dampak bagi orang lain. Komentar yang dianggap sekadar candaan oleh pengirimnya pun belum tentu diterima dengan cara yang sama oleh orang yang membacanya.

    Pada akhirnya, penjelasan ini mengingatkan bahwa media sosial tetap menjadi ruang interaksi antarmanusia. Meski tidak bertemu secara langsung, penting bagi setiap orang untuk tetap memperhatikan cara berkomunikasi dan memahami bahwa kata-kata yang dituliskan bisa memengaruhi perasaan orang lain.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More