“Industri kecantikan sangat membutuhkan peran beauty educators, mulai dari membina generasi muda yang bersiap memasuki dunia kerja, meningkatkan keterampilan karyawan, hingga membekali masyarakat dengan keahlian kecantikan yang membuka peluang penghasilan dan kehidupan yang lebih mandiri.
Di ekosistem L’Oréal Indonesia, peran ini hadir antara lain melalui pendidik vokasi di SMK rekanan program Hairducation serta trainer Beauty for a Better Life yang mendampingi komunitas dari kelompok rentan. Kontribusi mereka sangat layak mendapatkan pengakuan dan dirayakan.
Melalui momentum World Teachers’ Day, kami ingin mengangkat peran beauty educators yang terus mengembangkan potensi talenta kecantikan sekaligus turut membentuk masa depan industri kecantikan Indonesia,” kata Melanie.
Rayakan World Teachers’ Day, L’Oréal Indonesia Angkat Peran Beauty Educators

Beauty educators berperan mengajarkan teknik, etika profesional, dan keterampilan untuk mempersiapkan talenta kecantikan menghadapi dunia kerja.
Ibu Aca dan Ibu Made menunjukkan pendampingan dapat membantu peserta belajar, bekerja, serta mengembangkan usaha di bidang kecantikan.
Program Hairducation dan Beauty for a Better Life mendukung pengajar serta komunitas melalui pelatihan yang relevan dengan kebutuhan industri.
Awal Oktober lalu, dunia merayakan Hari Guru untuk memberikan penghormatan kepada para pahlawan tanpa tanda jasa ini yang telah memunculkan berbagai talenta. Merayakan hari besar tersebut, dalam sebuah media gathering yang digelar pada Selasa (27-10-2026) ini, L’Oréal Indonesia mengangkat sosok beauty educators sebagai guru di balik ribuan talenta kecantikan Tanah Air.
Merekalah yang mengajarkan teknik, etika profesional, dan mempersiapkan para beauty enthusiast tersebut menghadapi dinamika dunia kerja. Penasaran dengan sosok dan kisahnya? Scroll terus, ya!
Pentingnya Beauty Educators Dalam Dunia Kecantikan

Dok. L’Oréal Indonesia Para profesional dan praktisi kecantikan tidak akan ada tanpa kehadiran mentor, guru, atau pengajar di baliknya. Oleh karena itu, peran mereka sangat penting dalam industri ini untuk terus melahirkan generasi beauty expert yang mumpuni. Melanie Masriel, Chief of Corporate Affairs, Engagement & Sustainability L’Oréal Indonesia, mengatakan kalau industri kecantikan itu perlu banget beauty educators, bukan cuma untuk membagikan ilmu tentang teknik, tapi juga membina para generasi muda dalam memasuki dunia kerja.
Kisah Ibu Aca dan Ibu Made: Dua Sosok Edukator yang Hidupkan Potensi Talenta Kecantikan

Dok. L’Oréal Indonesia Dampak seorang guru dapat terlihat dari langkah yang diambil murid setelah meninggalkan ruang belajar. Dedikasi tersebut hadir melalui figur Ibu Achadiningtyas (Aca), trainer Beauty for a Better Life (BFBL) Training Center Cianjur, dan Ibu Made Sumiati, guru tata kecantikan SMKN 3 Bogor.
Aca telah berkarya di industri kecantikan selama kurang lebih 45 tahun. Ia memulai karier di salon pada usia 20 tahun, kemudian menjadi pengajar di berbagai lembaga kursus dan pelatihan, asesor sertifikasi kompetensi nasional di bawah Badan Nasional Sertifikasi Profesi, serta Ketua Tiara Kusuma Kabupaten Cianjur. Sejak bergabung sebagai trainer BFBL pada 2015, ia telah membantu melatih dan meluluskan sekitar 4.800 peserta.
Di antara peserta yang ditemuinya, ada perempuan yang ingin kembali bekerja setelah jeda karier, ada yang membagi waktu belajar dengan tanggung jawab keluarga, dan ada pula yang masih meragukan kemampuannya sendiri. Aca memahami bahwa mereka tidak selalu dapat didampingi dengan cara yang sama. Ia perlu menyesuaikan ritme pengajaran, menyederhanakan materi ketika dibutuhkan, dan memberi dorongan agar peserta berani menggunakan keterampilan yang telah dipelajari.
“Mengajar tata rambut tidak cukup hanya dengan menunjukkan teknik. Saya juga harus terus belajar karena kebutuhan di industri berubah, sementara setiap peserta datang dengan kondisi yang berbeda. Ada yang cepat menguasai materi, ada pula yang perlu lebih banyak waktu dan dorongan untuk percaya pada dirinya sendiri. Bagi saya, hal yang paling berarti adalah ketika mereka mulai berani menggunakan keterampilannya untuk bekerja atau memulai usaha,” kata Aca.
Pendampingannya tidak selalu berhenti saat pelatihan selesai. Pemilik salon, termasuk alumni BFBL yang telah membuka usaha, kerap menghubungi Aca untuk meminta rekomendasi lulusan yang siap bekerja. Dengan demikian, pengalaman dan jaringan yang ia bangun ikut membantu menghubungkan peserta dengan peluang berikutnya.

Dok. L’Oréal Indonesia Sementara di ranah pendidikan formal, Ibu Made mengabdikan dirinya mengajar tata rambut di SMKN 3 Bogor. Ketertarikannya pada dunia kecantikan membawanya memperoleh beasiswa pemerintah untuk menempuh pendidikan sebagai calon guru kecantikan pada 1986. Sejak itu, ia mengabdikan diri untuk mengajar tata rambut hingga kini mendekati masa pensiun.
Kesempatan belajar bersama L’Oréal memperdalam pemahaman Ibu Made mengenai ilmu di balik teknik tata rambut, termasuk anatomi rambut dan proses pewarnaan. Pengetahuan tersebut mengubah cara ia mengajar. Murid tidak hanya diminta mengikuti tahapan kerja, tetapi juga memahami mengapa suatu teknik digunakan dan bagaimana menyesuaikannya dengan kondisi rambut yang mereka hadapi.
“Sebelum mengikuti pelatihan bersama L’Oréal, saya sudah dapat mempraktikkan teknik pewarnaan rambut, tetapi belum memahami teorinya secara mendalam. Saya kemudian mempelajari anatomi rambut dan hair science, termasuk bagaimana warna meresap ke batang rambut serta perubahan yang terjadi selama proses pewarnaan.
Pengetahuan itu mengubah cara saya mengajar. Sekarang saya dapat menjelaskan bukan hanya apa yang harus dilakukan, tetapi juga alasan di balik setiap tahap, sehingga murid tidak sekadar menghafal prosedur, tetapi mampu menganalisis kondisi rambut dan menentukan penanganan yang tepat,” ujar Made.
Ibu Made juga mencari cara agar ilmunya menjangkau lebih banyak orang. Saat pandemi, ia membuat materi presentasi dan video agar murid dapat terus belajar dari jarak jauh. Ia menulis buku Pemangkasan dan Pewarnaan Rambut untuk Kelas XI yang telah memiliki ISBN dan digunakan oleh sejumlah guru di Indonesia. Ia pun membawa murid belajar langsung di L’Oréal Professionnel Academy dan menghadirkan guru tamu melalui kelas Hairducation agar pembelajaran di sekolah semakin dekat dengan praktik industri.
Hairducation dan Beauty For A Better Life: Selaraskan Talenta Kecantikan dengan Kebutuhan Dunia Kerja

Dok. L’Oréal Indonesia Kisah Ibu Aca dan Ibu Made menunjukkan bahwa guru juga perlu mendapat kesempatan untuk terus belajar. Teknik dan standar profesional berubah; kebutuhan murid pun berbeda dari satu ruang belajar ke ruang belajar lainnya. Ketika kemampuan pengajar terus berkembang, pengetahuan yang mereka teruskan dapat tetap relevan dan menjangkau lebih banyak peserta.
Dalam menyelaraskan talenta kecantikan dengan kebutuhan dunia kerja, L’Oréal Indonesia menghadirkan berbagai program yang relevan. Misalnya, ada program Hairducation yang memberikan pelatihan kepada guru agar terus mendapatkan ilmu-ilmu baru, baik berupa tren, teknik, inovasi produk, pemahaman standar keselamatan, hingga pelayanan konsumen.
“Industri tata rambut bergerak sangat cepat dengan standar teknis yang kian tinggi. Program Hairducation memberikan ruang bagi para guru kejuruan untuk secara berkelanjutan memperbarui kompetensi mereka. Ketika seorang guru memperoleh pemahaman teknis dan standar industri terkini, manfaat tersebut akan tereskalasi kepada ratusan murid yang mereka didik setiap tahunnya, menciptakan talenta masa depan yang siap bersaing,” ungkap Indra Tanudarma, Head of Education Performance Professional Products Division L’Oréal Indonesia.

Dok. L’Oréal Indonesia Selain jalur vokasi formal, ada juga pelatihan untuk para komunitas, khususnya para perempuan yang memiliki keterbatasan, bernama Beauty for a Better Life (BFBL) yang telah hadir sejak 2014. Program ini dirancang khusus untuk memulihkan harapan serta martabat perempuan dari kelompok rentan sosio-ekonomi agar dapat meraih kemandirian finansial dan berkontribusi bagi perekonomian keluarga.
BFBL membekali para instruktur dengan kurikulum tata rambut dan rias berstandar internasional serta modul bimbingan sosial berbasis empati. Berkat dedikasi serta kesabaran para beauty educators ini, kini ada ribuan peserta yang telah membuka usaha sendiri di bidang kecantikan, bahkan ada yang sudah memiliki cabang.
“Instruktur dalam program BFBL mengemban tanggung jawab mulia yang melampaui transfer keterampilan teknis. Mereka hadir sebagai mentor yang mendengar, memotivasi, dan menumbuhkan daya juang para peserta. Melalui modul pelatihan yang terstruktur, L’Oréal berkomitmen mendampingi para trainer agar dapat terus mentransformasi keterampilan vokasi menjadi mata pencaharian nyata dan kemandirian hidup yang berkelanjutan,” kata Magdalena Rospita, Corporate Affairs and Impact Director L’Oréal Indonesia.
Itulah kisah dan peran penting dari beauty educators bagi industri kecantikan. Dalam momen World Teachers’ Day ini, yuk, rayakan jasa para guru yang telah berkontribusi dalam menjadikan generasi-generasi muda masa kini.























