5 Spesialisasi Dokter yang Jarang Dilirik dan Langka di Indonesia

Lima spesialisasi dokter yang jarang terdengar meliputi odontologi forensik, kedokteran kelautan, kedokteran nuklir, kedokteran penerbangan dan ruang angkasa, serta bedah anak.
Jumlah dokter dan fasilitas di sejumlah bidang tersebut masih terbatas, sementara kebutuhan layanan terus terlihat di berbagai bidang.
Pendidikan, biaya, fasilitas, perizinan, dan stigma menjadi tantangan bagi calon dokter yang ingin menekuni spesialisasi langka.
Kalau bicara tentang dokter spesialis, kamu mungkin familiar dengan dokter anak, kandungan, gigi, penyakit dalam, atau kejiwaan. Padahal, ada banyak spesialisasi yang jumlahnya bisa dihitung jari di seluruh Indonesia, Bela.
Sebagai gambaran, Konsil Kedokteran Indonesia mencatat ada sekitar 59 ribu dokter spesialis di Indonesia. Nah, lima spesialisasi di bawah ini termasuk yang paling jarang terdengar. Yuk, kenalan!
Table of Content
1. Odontologi Forensik

chatgpt Ini adalah spesialis yang mengidentifikasi seseorang lewat gigi, untuk keperluan hukum maupun bencana. Berdasarkan lama PDGI (Persatuan Dokter Gigi Indonesia), jumlah dokter spesialis ini hanya berjumlah 23 orang. Tugas mereka mencakup pemeriksaan gigi, rekaman gigi, dan analisis forensik sebagai bukti medis dalam proses hukum.
Odontologi forensik kerap sepi peminat karena penghasilannya dinilai tidak worth it dengan biaya yang dikeluarkan untuk pendidikannya. Belum lagi stereotip di masyarakat tentang dokter forensik. Tapi, kalau kamu berminat di spesialis ini, kelebihannya adalah hampir tanpa saingan, dan keahliannya krusial saat identifikasi korban bencana atau kasus pidana. Spesialis ini juga mudah mendapat tempat bekerja karena para mahasiswa yang lulus kebanyakan sudah dipesan oleh rumah sakit.
2. Kedokteran Kelautan

Gemini Spesialis ini mengurus kesehatan di dan sekitar laut, mulai dari penyelaman, terapi oksigen hiperbarik, sampai kesehatan kerja maritim. Beberapa sumber menyebut jumlah dokter spesialis ini hanya sekitar 60-70an orang saja. Program pendidikannya pun masih baru. Universitas Mataram menyebut programnya sebagai prodi spesialis kedokteran kelautan pertama di Indonesia.
Spesialis ini mungkin terlihat punya peluangnya luas, dari rumah sakit dan fasilitas terapi oksigen hingga bidang kesehatan kerja di lingkungan laut dan pesisir. Sebagai negara kepulauan, kebutuhannya jelas besar. Pemerintah sendiri pernah menyebut kebutuhan spesialis di bidang ini mendesak untuk ditambah. Namun, sayangnya pilihan tempat pendidikan masih sangat terbatas, dan ekosistemnya (misalnya chamber hiperbarik) belum merata.
3. Kedokteran Nuklir

Gemini Meski terdengar agak menyeramkan, tapi spesialis kedokteran ini memakai zat radioaktif dosis kecil untuk mendiagnosis dan mengobati penyakit, terutama kanker, lewat PET scan dan SPECT. Kabarnya, jumlah dokternya sekitar 72 orang saat ini. Tercatat pula hanya ada 14 fasilitas kedokteran nuklir yang beroperasi penuh untuk diagnosis dan terapi.
Seiring kasus kanker yang semakin meningkat, kebutuhan dokter satu ini juga terus naik, dan teknologinya selalu berkembang. Kemenkes pun berencana menambah 18 mesin PET scan di 16 kota besar. Jika melihat sisi lainnya, karier dari dari bidang ini sangat bergantung pada ketersediaan fasilitas dan alat yang canggih, serta perizinan radiasi dari Bapeten. Jadi tidak semua daerah bisa jadi tempat praktik.
4. Kedokteran Penerbangan dan Ruang Angkasa

Gemini Nggak cuma laut, spesialisasi yang berkaitan dengan penerbangan dan ruang angkasa ini juga sepi peminat. Spesialisasi tersebut fokus pada kesehatan individu yang bekerja atau bepergian di lingkungan penerbangan dan ruang angkasa.
Mereka mempelajari dampak ketinggian, tekanan udara rendah, dan kondisi gravitasi terhadap tubuh manusia. Dalam dunia penerbangan, mereka memastikan kesehatan para pilot dan kru maskapai, termasuk kelayakan fisik untuk terbang.
Di sektor eksplorasi ruang angkasa, para dokter spesialis ini merancang program kesehatan untuk astronot, termasuk adaptasi tubuh terhadap gravitasi nol. Meskipun terdengar futuristik, spesialisasi ini berperan penting di era modern, terutama dengan meningkatnya eksplorasi ruang angkasa. Hanya saja, tantangannya melibatkan pengembangan solusi untuk kondisi medis dalam lingkungan ekstrem, yang jarang dihadapi dokter lainnya.
Spesialis ini jarang dilirik karena lembaga pendidikan yang terbatas, pertimbangan orientasi penempatan kerja, hingga kesadaran masyarakat yang masih minim. Kedokteran Penerbangan dan Ruang Angkasa di Indonesia, didukung oleh institusi seperti Lembaga Kesehatan Penerbangan dan Ruang Angkasa (Lakespra) dr. Saryanto milik TNI-AU serta Program Studi Spesialis Kedokteran Penerbangan di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI).
5. Bedah Anak (dan Bedah Jantung Anak)

Gemini Terakhir ada spesialis Bedah Anak dan Bedah Jantung Anak. Melansir dari beberapa sumber, dokter spesialis ini hanya ada belasan hingga puluhan orang saja di seluruh Indonesia dan penyebarannya pun tidak merata di mana terkonsentrasi di kota besar.
Operasi pada anak sendiri butuh keahlian khusus. Dampaknya terasa, bahkan anak dengan penyakit jantung bawaan harus menunggu sampai 2 tahun untuk operasi. Tak heran kalau kehadiran mereka sangat dibutuhkan, dan pemerintah mendorongnya lewat kolaborasi beasiswa Kemenkes dan LPDP untuk menambah dokter bedah anak.
Tantangan dari spesialis ini adalah jalurnya panjang, sekitar 9–10 semester pendidikan bedah, ditambah 2 tahun pendidikan profesi bedah anak. Untuk bedah jantung anak, tantangannya juga ada di studi atau praktik di luar negeri dan fasilitas.
Itulah beberapa spesialisasi kedokteran yang langka dan jarang dilirik di Indonesia. Spesialisasi langka bukan berarti tidak menjanjikan. Justru kelangkaan ini menunjukkan masih banyak ruang untuk generasi baru dokter. Sayangnya, sebagian terhambat soal biaya studi, fasilitas, dan stigma.























