Saat menyaksikan Pagelaran Sabang Merauke, penonton akan melihat panggung dan multimedia visual sebagai satu kesatuan. Namun, keduanya lahir dari dua bidang kerja yang berbeda. Dalam Pagelaran Sabang Merauke - Hanya Indonesia yang Punya 2026, tata panggung ditangani oleh Iskandar Loedin, sementara multimedia visual dirancang oleh Ivan Reyhan.
Ini Dia Dua Peran di Balik Panggung & Visual Pagelaran Sabang Merauke 2026

- Pagelaran Sabang Merauke 2026 memisahkan tata panggung oleh Iskandar Loedin dan multimedia visual oleh Ivan Reyhan, meski keduanya tampil sebagai satu kesatuan bagi penonton.
- Iskandar merancang panggung dari tema, alur cerita, kebutuhan penari, musisi, dan koreografi, lalu menyempurnakannya bersama tim melalui simulasi teknis hingga pemasangan di venue.
- Ivan mengolah referensi budaya menjadi visual bergerak melalui mood board, storyboard, animasi, dan pengujian, sambil menyelaraskannya dengan layar, kostum, pencahayaan, musik, serta koreografi.
Penasaran bagaimana proses kreatif dari dua sosok tersebut? Selengkapnya hanya di artikel berikut ini.
Iskandar Loedin, Penata Panggung

Dok. Pagelaran Sabang Merauke Iskandar Loedin bukan nama baru dalam seni pertunjukan Indonesia. Ia telah aktif sejak 1995 dan mendalami tata artistik panggung bersama mendiang Roejito. Pada 2001, Iskandar melanjutkan studi stage and lighting design di Yale School of Drama, Yale University. Perjalanannya kemudian membawanya terlibat dalam berbagai produksi teater, tari, instalasi, hingga ruang seni bersama seniman Indonesia dan internasional.
Karya Iskandar juga hadir di luar panggung pertunjukan, mulai dari pencahayaan Terowongan Silaturahmi, desain cauldron Asian Games 2018 "Bilah Nusantara", hingga Teater Salihara. Pengalaman lintas ruang tersebut membuatnya terbiasa melihat panggung bukan sekadar sebagai tempat penampil berdiri, tetapi sebagai bagian penting dari cara sebuah cerita disampaikan.
Dalam Pagelaran Sabang Merauke, ide panggung setiap tahunnya berangkat dari tema dan perjalanan cerita yang ingin dibawa kepada penonton. Iskandar perlu memahami karakter pertunjukan, jumlah penampil, kebutuhan koreografi, posisi musisi, hingga perubahan suasana dari satu adegan ke adegan berikutnya. Dari situ, gagasan awal dituangkan dalam bentuk sketsa, pembagian ruang, serta rancangan struktur panggung.
Konsep tersebut kemudian terus dikembangkan bersama sutradara, koreografer, tim musik, multimedia, dan produksi. Setiap elemen perlu diuji, apakah panggung memberi cukup ruang bagi ratusan penari, apakah perpindahan penampil dapat berjalan aman, serta apakah komposisinya tetap terlihat jelas dari berbagai sisi penonton. Setelah melalui penyesuaian teknis dan simulasi, rancangan itu baru masuk ke tahap produksi, pembangunan, pemasangan, hingga uji coba langsung di venue.
Pada Pagelaran Sabang Merauke 2026, Iskandar kembali menghadapi tantangan untuk membangun ruang yang mampu mempertemukan banyak tokoh, latar budaya, dan skala pertunjukan dalam "Hikayat Srikandi Nusantara". Panggung harus cukup fleksibel untuk berubah mengikuti cerita, tetapi tetap terasa sebagai satu dunia yang utuh.
Ivan Reyhan, Perancang Multimedia Visual

Dok. Pagelaran Sabang Merauke Sementara itu, Ivan Reyhan bergerak di wilayah multimedia visual. Ia dikenal sebagai perancang multimedia dan seniman new media yang mendalami motion graphics, animasi, serta video mapping. Pengalamannya dalam pameran kontemporer dan berbagai produksi besar membuat Ivan terbiasa menerjemahkan gagasan yang abstrak menjadi gambar bergerak yang bisa langsung dirasakan penonton.
Dalam Pagelaran Sabang Merauke, ide visual biasanya dimulai dari cerita, karakter, daerah, dan suasana yang ingin dihadirkan. Ivan bersama tim akan mengumpulkan referensi berupa motif, lanskap, tekstur, warna, simbol budaya, hingga arsip visual yang relevan. Materi tersebut kemudian tidak langsung dipindahkan begitu saja ke layar, tetapi diolah menjadi bahasa visual yang lebih sesuai dengan kebutuhan panggung masa kini.
Prosesnya berlanjut melalui pembuatan mood board, sketsa visual, storyboard, hingga animasi awal. Ivan juga perlu memperhitungkan ukuran layar, posisi penampil, warna kostum, pencahayaan, dan ritme musik. Visual yang terlalu ramai bisa mengalihkan perhatian dari penari, sementara visual yang terlalu sederhana belum tentu cukup membantu membangun suasana.
Setelah konsep disepakati, tim masuk ke tahap produksi konten, animasi, pengujian resolusi, serta sinkronisasi dengan musik dan jalannya adegan. Saat latihan gabungan, visual masih dapat mengalami perubahan agar perpindahannya pas dengan tempo, koreografi, dan kemunculan setiap tokoh.
Pembagian peran keduanya pun terlihat jelas. Iskandar membangun ruang fisik tempat cerita berlangsung, sementara Ivan mengisi ruang tersebut dengan visual yang dapat berubah mengikuti perjalanan cerita. Keduanya sama-sama memulai dari gagasan, mengembangkannya melalui diskusi dan simulasi, lalu menerjemahkannya menjadi pengalaman yang akhirnya dilihat penonton di Indonesia Arena.





















