Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
For
You

Eunike Elisaveta & Chriskevin Adefrid Menghidupkan Dunia Mimpi di 'Musikal Perahu Kertas'

Perahu Kertas 1.jpg
POPBELA.com/Niken Ari
Intinya sih...
  • Eunike Elisaveta & Chriskevin Adefrid mengadaptasi Perahu Kertas ke dalam musikal baru
  • Fokus utama musikal: bukan cinta, melainkan mimpi Kugy dan Keenan
  • Tantangan besar mewujudkan 'dunia mimpi' di atas panggung
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Mengadaptasi karya yang sudah dicintai banyak orang bukanlah pekerjaan yang sederhana. Terlebih, Perahu Kertasbukan hanya sebuah novel dan film, tetapi sebuah memori bagi pembaca dan penontonnya. Dalam produksi musikal perdananya, duo produser Eunike Elisaveta dan Chriskevin Adefrid membawa misi besar: menghadirkan kisah klasik ini dalam bentuk yang sama sekali baru, segar, dan penuh kejutan visual.

Tidak hanya menjanjikan nostalgia, mereka ingin membawa penonton ke dalam sesuatu yang lebih luas: dunia mimpi Kugy dan Keenan. Sebuah ruang yang selama ini hanya hadir dalam imajinasi pembaca kini diwujudkan lewat set panggung yang megah, karakter fantasi yang hidup, serta musik yang saling berpaut antara versi original dan lagu-lagu baru. Semua ini adalah buah dari perjalanan yang panjang dengan lebih dari satu tahun proses pengembangan.

Fokus utama musikal: bukan cinta, melainkan mimpi

Perahu Kertas 3.jpg
POPBELA.com/Niken Ari

Salah satu keputusan kreatif terbesar dalam musikal ini adalah menggeser fokus cerita. Jika novel dan film kuat di jalur romansa, musikal hadir dengan perspektif baru: mimpi. Bagi Eunike dan Chriskevin, justru dari titik inilah panggung bisa menawarkan sesuatu yang berbeda, lebih relevan, dan lebih dekat dengan keresahan generasi hari ini.

Dengan fokus pada perjalanan mengejar mimpi Kugy dan Keenan, para produser ingin menunjukkan bahwa mimpi bisa menjadi pusat konflik, kedewasaan, dan bahkan alasan mengapa hubungan keduanya terasa begitu kuat.

"Cintanya tetap ada, tapi ia bukan pusatnya," begitu gambaran mereka. Pendekatan ini membuat musikal tampil lebih segar, lebih inspiratif daripada sekadar romantis.

Tantangan besar mewujudkan 'dunia mimpi' di atas panggung

Salah satu pertanyaan terbesar dari publik adalah: bagaimana musikal ini akan menghadirkan elemen ikonik seperti perahu kertas, dunia imajinasi Kugy, dan bahkan “air” yang menjadi simbol cerita? Eunike dan Chriskevin menjawab tantangan itu dengan cara paling kreatif. Mereka membangun konsep panggung yang memadukan elemen realistis dan fantasi, sebuah dunia dua lapis yang membuka jalan bagi visual-visual mimpi.

Akan ada karakter-karakter imajinatif seperti Wortelita, Pangeran Lobak, hingga kapal yang muncul langsung di panggung. Semua ini adalah interpretasi dari pikiran Kugy dan Keenan, ruang yang biasanya hanya hidup dalam imajinasi kini benar-benar menjadi bagian dari pertunjukan. Mereka sengaja tidak membocorkan detailnya, karena ingin membuat penonton merasakan kejutan visual yang jarang ditemui dalam musikal Indonesia.

Membangun produksi yang megah, dari naskah hingga musiknya

Perjalanan musikal ini dimulai sejak setahun lalu, ketika tim mulai menulis naskah dan mengembangkan struktur cerita. Proses panjang ini melibatkan banyak kolaborator: penulis kreatif, sutradara, vocal director, komposer, orkestra Trinity Youth, hingga partner besar seperti Indonesia Kaya.

Salah satu hal paling menarik adalah keberanian untuk menggabungkan lagu-lagu ikonik dari film—seperti "Perahu Kertas", "Selamanya Cinta", dan lagu-lagu lainnya—dengan komposisi lagu baru. Beberapa lagu lama bahkan di-remix total dan diganti liriknya agar sesuai dengan alur musikal. Kolaborasi erat antara komposer dan penulis dialog membuat transisi antara dialog dan nyanyian berlangsung mulus dan natural, menjadi elemen kuat yang menyatukan seluruh pertunjukan.

Keputusan memilih Alya Syahrani dan Dewara Zaqqi sebagai Kugy-Keenan

WhatsApp Image 2025-12-08 at 17.04.45.jpeg
POPBELA.com/Niken Ari

Menghidupkan kembali dua karakter ikonik seperti Kugy dan Keenan tentu membutuhkan pertimbangan panjang. Bukan sekadar mencari aktor berbakat, Eunike dan Chriskevin mencari karakter yang bisa "menyatu" secara emosional dengan jalur mimpi yang ingin diangkat oleh musikal ini. Ketika Alya dan Dewara muncul di audisi, ada kejujuran dan energi yang mereka cari.

Keduanya bukan hanya kuat secara vokal dan akting, tetapi juga punya sensitivitas yang sejalan dengan visi musikal. Mereka mampu menangkap inti karakter bukan dari versi film, melainkan dari spirit cerita itu sendiri.

"Kami mencari Kugy dan Keenan untuk versi panggungnya, bukan versi filmnya," begitu kurang lebih gambaran yang mereka bangun. Dan pilihan itu terbukti tepat, sebab keduanya tumbuh organik selama latihan dan menemukan chemistry yang meyakinkan.

Proses produksi yang panjang, dari latihan hingga run-through

Di balik panggung yang megah, ada perjalanan sangat panjang yang harus ditempuh. Audisi dimulai sejak Juni, pemilihan cast diumumkan pada Agustus, dan sejak itu latihan berlangsung hampir setiap hari. Mulai dari workshop acting, latihan vokal, pengenalan lagu, big reading, hingga run-through selama berbulan-bulan.

Eunike dan Chriskevin ingin musikal ini bukan hanya spektakuler secara visual, tetapi juga kuat secara emosi. Karena itu, proses latihan yang intens dibuat untuk membangun kedalaman karakter dan hubungan antar pemain. Hasilnya, energi ensemble terasa menyatu, baik ketika menyanyikan 22 lagu yang disiapkan, maupun ketika memainkan adegan yang lebih intens.

Hidupkan lagi mimpi-mimpi...

Perahu Kertas 2.jpg
POPBELA.com/Niken Ari

Pertunjukan ini sengaja dipentaskan pada awal tahun untuk menyambut suasana resolusi. Ada pesan yang ingin disampaikan produser kepada penonton: mimpi tidak pernah benar-benar hilang, hanya kadang tertutup rutinitas dan realitas hidup.

Melalui cerita Kugy dan Keenan, mereka ingin mengingatkan bahwa mimpi boleh berubah bentuk, jalannya boleh memutar, tetapi tetap layak diperjuangkan. "Hidupkan mimpi-mimpimu" menjadi tagline musikal, dan seluruh elemen—lagu, visual, karakter fantasi, hingga staging—dibangun untuk menggugah kembali keberanian bermimpi.

Ini bukan sekadar musikal adaptasi; ini adalah ajakan untuk kembali percaya pada diri sendiri.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Niken Ari Prayitno
EditorNiken Ari Prayitno
Follow Us

Latest in Career

See More

16 Film yang Dilarang Tayang di Dunia, Apa Saja?

02 Jan 2026, 10:15 WIBCareer