Satu lagi, film Indonesia yang mengangkat salah satu nama yang mengharumkan bangsa yaitu Susi Susanti. Siapa yang nggak kenal dengan sosok Susi Susanti? Yup! Sang legenda bulu tangkis yang prestasi-prestasinya membuat bangga negara Indonesia.

Kisah perjalanan Susi yang sukses menjadi atlet pebulutangkis Indonesia ini diangkat dalam film layar lebar berjudul Susi Susanti Love All yang bisa kalian saksikan di bioskop mulai tanggal 24 Oktober. Sebelum menonton, simak dulu yuk review Popbela berikut ini.

Sinopsis: Kisah Cinta dan Perjuangan Sang Legenda

Review Film Susi Susanti Love All: Sang Legenda Bulu Tangkis Instagram.com/@filmsusisusanti

Susi (Laura Basuki), perempuan asal Tasikmalaya yang lahir dari keluarga sederhana keturunan Tionghoa. Dimulai saat lomba 17an, Susi menolak untuk mengikuti lomba tari balet dan memilih untuk melihat kakaknya, Rudi (Delon Thamrin) yang mengikuti lomba bulu tangkis. Saat itu, Susi menantang lawan kakaknya bermain bulu tangkis dan ia berhasil mengalahkannya. 

Dari kemenangannya itu yang berhasil membawa Susi untuk menjalani try out di salah satu perkumpulan bulu tangkis, PB Jaya Raya di Jakarta. Beranjak dewasa, Susi pun semakin matang dalam dunianya dan melangkah ke pelatihan nasional PBSI. Di tempat inilah kisah cintanya dengan Alan Budikusuma (Dion Wiyoko) dan perjuangannya menjadi atlet terkenal dimulai.

Bukan Peran yang Mudah, Perlu Latihan

Review Film Susi Susanti Love All: Sang Legenda Bulu Tangkis Instagram.com/@filmsusisusanti

Mungkin untuk beberapa orang, bermain bulu tangkis itu mudah, apalagi bagi pecinta olahraga tersebut. Tapi bagi Laura Basuki dan Dion Wiyoko yang nggak memiliki latar belakang sebagai pemain bulu tangkis terbilang cukup sulit untuk berperan sebagai atlet bulu tangkis. Bagi Laura, bulu tangkis hanya sebatas olahraga ringan yang biasa ia mainkan di depan rumahnya saat kecil. 

Namun demi mendalami karakter, Laura dan Dion menjalani latihan badminton selama 5 bulan dengan Ping Chu Sia, pelatih Susi Susanti. Dari mulai latihan fisik selama 5-6 jam hingga latihan badminton selama 3 jam pada siang hari, dan 3 jam pada malam hari. Laura juga sempat mengikuti kelas pilates untuk melenturkan kakinya di mana dalam film dia harus beradegan split. Nggak hanya latihan fisik saja, Laura dan Dion juga menjaga pola makan mereka. Wah dengan begini akting mereka nggak perlu diragukan lagi kan Bela?

Pengambilan Suasana dan Tone Warna Zaman Dulu

Review Film Susi Susanti Love All: Sang Legenda Bulu Tangkis Dok Internet

Pengambilan gambar, suasana, serta tone warna dalam film ini mencuri perhatian saya saat menontonnya. Suasana 80 dan 90an berhasil ditampilkan dalam film tersebut. Nggak hanya itu, model rambut, gaya berpakaian, pertokoan, jalanan kota Jakarta hingga kendaraan seperti mobil toyota corolla tahun 1978 berhasil membawa penonton ikut bernostalgia di tahun tersebut. Pengambilan tone warna coklat dengan sedikit abu-abu mirip sepia sangat mendukung susana pada tahun itu. Agak jadul sih, tapi sama sekali nggak mengganggu keseruan dalam film tersebut kok

Penayangan Film Berdekatan dengan Hari Sumpah Pemuda

Review Film Susi Susanti Love All: Sang Legenda Bulu Tangkis Instagram.com/@filmsusisusanti

Penayangan film Susi Susanti Love All ini memang sengaja diputar berdekatan dengan Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada 28 Oktober. Setelah menonton film ini, orang-orang termasuk generasi milenial diharapkan dapat membangkitkan semangat bangsa Indonesia. Jujur, saat menontonya saya terharu dengan perjuangan Susi Susanti dengan semangat juang dan kegigihannya untuk memperjuangakan negara Indonesia. 

Penasaran dengan kisah Susi Susanti? Kalian bisa menyaksikannya di bioskop kesayangan kalian. Popbela tunggu pendapat kalian di kolom komentar ya! 

Baca Juga: Dari Rela Berotot Sampai Sembunyikan Sifat Asli Demi Susi Susanti