Apakah Hormon Bisa Memengaruhi Jerawat? Ini 8 Penjelasannya!

Hormon Androgen Memicu Produksi Minyak Berlebih
Perubahan Hormon Saat Menstruasi
Stres Meningkatkan Hormon Kortisol
Pernah merasa jerawat selalu muncul di saat-saat tertentu? Misalnya menjelang menstruasi, saat stres berat, atau ketika pola tidur berantakan? Kalau iya, bisa jadi hormon adalah salah satu dalang utamanya, Bela.
Jerawat memang sering dikaitkan dengan kebersihan wajah atau pemakaian skincare yang kurang tepat. Padahal, di balik itu semua, ada faktor internal yang nggak kalah besar pengaruhnya—yaitu hormon. Lalu, benarkah hormon bisa memengaruhi jerawat? Jawabannya sangat bisa. Langsung saja, kita bahas satu per satu penjelasannya yuk!
Table of Content
1. Hormon Androgen Memicu Produksi Minyak Berlebih

Salah satu hormon yang paling sering dikaitkan dengan jerawat adalah androgen. Hormon ini sebenarnya dimiliki oleh perempuan maupun laki-laki. Namun, ketika kadarnya meningkat, androgen dapat merangsang kelenjar minyak (sebaceous gland) untuk memproduksi sebum lebih banyak.
Sebum yang berlebih bisa menyumbat pori-pori, bercampur dengan sel kulit mati dan bakteri, lalu akhirnya memicu jerawat. Inilah kenapa saat pubertas—fase di mana hormon androgen meningkat—jerawat cenderung lebih sering muncul.
2. Perubahan Hormon Saat Menstruasi

Buat kamu yang sering jerawatan menjelang haid, kamu nggak sendirian. Menjelang menstruasi, kadar hormon estrogen menurun sementara hormon progesteron meningkat.
Perubahan ini bisa memicu produksi minyak yang lebih banyak di kulit. Akibatnya? Pori-pori lebih mudah tersumbat dan jerawat pun muncul, terutama di area dagu dan rahang. Jenis jerawatnya pun seringkali lebih besar dan terasa nyeri.
3. Stres Meningkatkan Hormon Kortisol

Ketika kamu stres, tubuh akan memproduksi hormon kortisol lebih banyak. Kortisol bisa memicu kelenjar minyak bekerja lebih aktif. Selain itu, stres juga bisa memperburuk peradangan di dalam tubuh.
Kombinasi produksi minyak berlebih dan inflamasi ini membuat jerawat lebih mudah muncul dan lebih sulit sembuh. Jadi, kalau lagi banyak tekanan kerja atau tugas, jangan heran kalau kulit juga ikut protes.
4. Sindrom PCOS Berhubungan dengan Jerawat Hormonal

Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) adalah kondisi yang memengaruhi keseimbangan hormon pada perempuan. Salah satu cirinya adalah kadar androgen yang lebih tinggi dari normal.
Akibatnya, penderita PCOS sering mengalami jerawat yang cukup parah dan persisten, terutama di area bawah wajah seperti rahang dan leher. Jerawat ini cenderung dalam (cystic acne) dan sulit hilang tanpa penanganan medis.
5. Kehamilan dan Perubahan Hormon Drastis

Saat hamil, tubuh mengalami lonjakan hormon yang signifikan, terutama di trimester pertama. Perubahan ini bisa membuat kulit menjadi lebih berminyak dan rentan berjerawat.
Namun menariknya, tidak semua orang mengalami hal yang sama. Ada juga yang justru merasa kulitnya lebih glowing selama kehamilan. Semua tergantung bagaimana tubuh merespons perubahan hormon tersebut.
6. Penggunaan dan Penghentian Kontrasepsi Hormonal

Pil KB atau kontrasepsi hormonal tertentu bisa membantu mengontrol jerawat karena menstabilkan kadar hormon dalam tubuh. Namun, ketika penggunaannya dihentikan, tubuh membutuhkan waktu untuk kembali menyesuaikan diri. Pada masa transisi ini, ketidakseimbangan hormon sementara bisa memicu jerawat. Kondisi ini sering disebut sebagai post-pill acne.
7. Kurang Istirahat yang Cukup

Begadang bukan cuma bikin mata panda, tapi juga bisa mengganggu keseimbangan hormon tubuh. Kurang tidur dapat meningkatkan hormon stres dan mengganggu regulasi hormon lainnya. Saat tubuh tidak mendapatkan istirahat cukup, proses regenerasi kulit pun terganggu. Akibatnya, peradangan lebih mudah terjadi dan jerawat pun lebih sulit sembuh.
8. Pola Makan Bisa Memengaruhi Respons Hormon

Meski bukan hormon secara langsung, pola makan tertentu dapat memengaruhi keseimbangan hormon. Konsumsi gula berlebih dan makanan dengan indeks glikemik tinggi bisa meningkatkan kadar insulin.
Lonjakan insulin dapat memicu peningkatan androgen, yang kemudian berdampak pada produksi minyak berlebih di kulit. Jadi, apa yang kamu makan juga punya peran dalam siklus jerawat hormonal.
Hormon punya peran besar dalam mengatur produksi minyak, peradangan, hingga regenerasi kulit. Ketika keseimbangannya terganggu, jerawat pun lebih mudah muncul.
Namun penting untuk diingat, jerawat biasanya tidak disebabkan oleh satu faktor saja. Ada kombinasi antara hormon, genetika, kebersihan kulit, pola makan, hingga gaya hidup. So, perhatikan kulitmu dengan baik ya, Bela.


















