Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Jangan Disepelekan! Ini 7 Bahaya Abu Vulkanik bagi Kesehatan dan Kulit
magnific.com/benzoix
  • Abu vulkanik berupa partikel halus dan tajam yang terbawa angin, berpotensi mengganggu kualitas udara serta mengiritasi pernapasan, mata, dan kulit.
  • Paparan dapat memicu batuk, sesak, iritasi mata, kulit kering atau gatal, serta memperburuk kondisi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit kronis.
  • Kemenkes mengimbau warga membatasi aktivitas luar ruangan, memakai masker dan kacamata, segera membersihkan tubuh serta pakaian, dan mencari bantuan medis bila keluhan mengkhawatirkan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Abu vulkanik dari erupsi dapat mengganggu pernapasan, mengiritasi mata dan kulit, serta memperburuk kondisi kesehatan tertentu.
  • Who?
    Masyarakat di wilayah terdampak, terutama anak-anak, lansia, serta penderita penyakit pernapasan dan kardiovaskular kronis, perlu meningkatkan perlindungan diri.
  • Where?
    Wilayah yang terdampak sebaran abu vulkanik; pada erupsi Gunung Anak Krakatau, abu terdeteksi di Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat.
  • When?
    Saat abu vulkanik terbawa angin, berjatuhan, atau masih tersebar di udara selama aktivitas vulkanik berlangsung.
  • Why?
    Partikel abu yang halus dan tajam dapat terhirup atau menempel pada mata serta kulit, sehingga berpotensi memicu iritasi, alergi, infeksi, dan gangguan pernapasan.
  • How?
    Kemenkes mengimbau warga membatasi aktivitas luar rumah, memakai masker dan kacamata bila keluar, membersihkan tubuh serta pakaian, dan mendatangi fasilitas kesehatan bila keluhan mengkhawatirkan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Erupsi gunung berapi tak hanya membawa ancaman berupa lava, awan panas, atau material pijar. Abu vulkanik yang terbawa angin dan menyebar ke wilayah sekitar juga perlu diwaspadai karena dapat memengaruhi kualitas udara serta kesehatan tubuh.

Paparan abu vulkanik dapat mengganggu saluran pernapasan, mata, hingga kulit. Bahkan, orang yang sebelumnya dalam kondisi sehat tetap dapat mengalami keluhan jika terpapar dalam jumlah cukup banyak atau dalam waktu yang lama. 

Hingga saat ini, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI juga mengimbau masyarakat di wilayah yang terdampak abu vulkanik untuk membatasi aktivitas di luar rumah dan menggunakan perlindungan apabila harus keluar. Lalu, apa saja bahaya abu vulkanik terhadap tubuh dan bagaimana cara melindungi diri? Simak melalui artikel ini ya, Bela.

Apa Itu Abu Vulkanik?

magnific.com/jcomp

Abu vulkanik merupakan partikel halus yang berasal dari material letusan gunung berapi. Ukurannya yang kecil membuat partikel ini dapat terbawa angin dan menyebar cukup jauh dari lokasi erupsi.

Meski terlihat seperti debu biasa, abu vulkanik memiliki karakteristik yang berbeda. Partikelnya dapat bersifat tajam dan mengandung material yang berpotensi mengiritasi tubuh ketika terhirup atau bersentuhan dengan bagian tubuh tertentu.

Kemenkes RI juga menyebutkan bahwa debu vulkanik dapat menyebabkan gangguan pernapasan dan iritasi mata. Dampaknya juga dapat berupa alergi, infeksi, atau iritasi pada kulit.

1. Mengganggu Saluran Pernapasan

magnific.com/jcomp

Dampak pertama yang paling perlu diwaspadai adalah ketika abu vulkanik masuk ke saluran pernapasan. Partikel halus yang terhirup dapat menyebabkan iritasi dan memicu berbagai keluhan, seperti batuk, tenggorokan terasa tidak nyaman, hingga sesak napas.

Pada paparan tertentu, gangguan pernapasan dapat berkembang menjadi ISPA atau memperburuk kondisi yang sudah dimiliki sebelumnya. Jika kamu pengidap penyakit pernapasan kronis, termasuk asma, juga perlu mendapatkan perhatian lebih karena paparan abu dapat membuat gejalanya semakin berat.

Oleh karena itu, masyarakat di wilayah yang terpapar sebaiknya membatasi aktivitas di luar rumah. Jika memang harus keluar, gunakan masker atau pelindung pernapasan yang sesuai.

2. Bisa Menyebabkan Iritasi Mata

magnific.com

Selain hidung dan tenggorokan, mata juga menjadi bagian tubuh yang cukup rentan terkena abu vulkanik. Partikel yang masuk dapat menyebabkan mata terasa perih, merah, berair, atau mengalami iritasi. Dalam kondisi seperti ini, hindari mengucek mata karena partikel abu yang tajam berpotensi menyebabkan iritasi semakin parah.

Kemenkes RI menyarankan untuk membersihkan mata dengan air apabila terkena abu dan menggunakan obat tetes mata bila diperlukan. Untuk mencegahnya, penggunaan kacamata saat berada di luar ruangan juga dapat membantu melindungi mata dari paparan langsung abu vulkanik.

3. Memicu Iritasi dan Masalah pada Kulit

magnific.com/karlyukav

Bukan hanya bagian tubuh yang menghirup udara, kulit juga dapat terkena dampak abu vulkanik. Ketika menempel di permukaan kulit, partikelnya dapat menyebabkan rasa tidak nyaman, iritasi, atau memperburuk kondisi kulit tertentu.

Bagi kamu pemilik kulit sensitif, paparan abu mungkin terasa lebih mengganggu. Kulit dapat menjadi lebih mudah terasa kering, gatal, atau kemerahan, terutama jika paparan berlangsung berulang dan tidak segera dibersihkan.

Itulah sebabnya, membersihkan tubuh setelah beraktivitas di luar rumah menjadi langkah penting. Kemenkes RI juga mengingatkan masyarakat yang terpapar untuk segera membersihkan tubuh dan pakaian setelah berada di luar karena karakteristik partikel abu vulkanik yang tajam.

4. Dapat Memperburuk Kondisi Kesehatan yang Sudah Ada

magnific.com

Dampak abu vulkanik tidak selalu sama pada setiap orang. Bagi seseorang yang memiliki kondisi kesehatan tertentu dapat lebih rentan mengalami gangguan ketika terpapar. Kemenkes RI secara khusus menyoroti anak-anak, lansia, serta orang dengan penyakit pernapasan dan kardiovaskular kronis sebagai kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih.

Maka dari itu, saat wilayah tempat tinggal mulai terdampak hujan abu, kelompok rentan sebaiknya mengurangi aktivitas di luar rumah dan mengikuti informasi serta arahan resmi dari pemerintah maupun petugas setempat.

5. Paparan Tidak Hanya Terjadi Saat Abu Terlihat Berjatuhan

magnific.com/benzoix

Salah satu hal yang sering luput diperhatikan adalah paparan abu tidak selalu berarti seseorang harus berada tepat di lokasi erupsi. Abu vulkanik dapat terbawa angin sehingga mencapai wilayah yang cukup jauh dari sumber erupsi.

Kondisi ini membuat kualitas udara di wilayah terdampak perlu diperhatikan, terutama ketika aktivitas vulkanik masih berlangsung dan sebaran abu terus dipantau. Dalam situasi terbaru terkait erupsi Gunung Anak Krakatau, misalnya, Kemenkes RI melaporkan abu vulkanik terdeteksi menyebar ke sejumlah wilayah termasuk Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat.

6. Tetap Lindungi Diri dari Paparan Abu Vulkanik

magnific.com/partystock

Mengurangi paparan menjadi langkah utama ketika berada di wilayah yang terdampak. Jika tidak ada keperluan mendesak, usahakan tetap berada di dalam rumah dan membatasi aktivitas di luar. Namun, apabila harus keluar rumah, gunakan masker untuk membantu mengurangi paparan partikel ke saluran pernapasan. Kacamata juga dapat digunakan untuk melindungi mata dari abu.

Setelah kembali ke rumah, segera bersihkan tubuh dan ganti pakaian yang digunakan di luar. Jangan lupa membersihkan area tubuh yang mungkin terkena abu, terutama wajah, tangan, dan rambut. Untuk kulit, hindari menggosok tubuh terlalu keras ketika membersihkan abu. Fokus pada proses pembersihan yang lembut agar tidak menambah iritasi pada kulit.

7. Jangan Abaikan Gejala yang Muncul

magnific.com

Setelah terpapar abu vulkanik, perhatikan kondisi tubuh. Keluhan ringan seperti mata terasa tidak nyaman atau tenggorokan yang teriritasi perlu dipantau, terutama jika tidak kunjung membaik.

Jika muncul gangguan pernapasan atau keluhan kesehatan yang mengkhawatirkan, segera cari pertolongan medis. Kemenkes RI juga meminta masyarakat yang mengalami keluhan setelah paparan untuk mendatangi puskesmas atau fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.

Selain itu, pastikan informasi mengenai kondisi erupsi dan kesehatan berasal dari sumber resmi. Hindari menyebarkan informasi yang belum terverifikasi karena situasi dan sebaran abu dapat berubah mengikuti aktivitas gunung serta kondisi angin.

Abu vulkanik mungkin terlihat seperti lapisan debu biasa, tetapi paparan yang cukup banyak dapat memberikan dampak pada kesehatan, mulai dari saluran pernapasan, mata, hingga kulit. Karena itu, perlindungan diri sebaiknya tidak baru dilakukan ketika keluhan mulai muncul.

Dengan memahami risikonya, kamu bisa lebih waspada tanpa perlu panik ketika menghadapi hujan atau sebaran abu vulkanik. Stay safe, Bela!

Curated For You

Editorial Team

Related Article