Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Apa Itu Period Poverty? Fenomena Sulitnya Akses Produk Menstruasi
magnific.com/diana.grytsku
  • Period poverty adalah kondisi ketika perempuan kekurangan akses terhadap produk menstruasi, fasilitas sanitasi layak, dan edukasi kesehatan.

  • Penyebab utama period poverty meliputi keterbatasan ekonomi, kurangnya air bersih dan sanitasi, minimnya edukasi menstruasi.

  • Dampaknya mencakup gangguan kesehatan reproduksi, terganggunya pendidikan dan produktivitas perempuan, serta risiko pelecehan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Meskipun menstruasi merupakan siklus rutin yang terjadi pada perempuan, ternyata jutaan perempuan di beberapa negara ternyata masih kesulitan. Baik itu untuk mendapatkan akses terhadap produk menstruasi, fasilitas sanitasi yang layak, hingga edukasi tentang kesehatan menstruasi.

Kondisi inilah yang kemudian disebut sebagai period poverty. Di Indonesia sendiri, sekitar 25% anak perempuan diketahui mengalami menstruasi pertama tanpa pengetahuan yang memadai. Lantas, sebenarnya apa itu period poverty? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini, ya.

1. Apa itu period poverty?

pexels.com/Nadezhda Moryak

Melansir UNICEF Australia, period poverty adalah kondisi ketika seseorang tidak memiliki akses yang memadai terhadap produk menstruasi, fasilitas sanitasi yang aman, dan edukasi tentang menstruasi.

Kondisi period poverty tidak hanya berarti ketidakmampuan membeli pembalut atau tampon, tetapi juga mencakup keterbatasan akses terhadap air bersih, toilet yang aman, tempat pembuangan limbah, serta informasi yang benar mengenai menstruasi.

Masalah tersebut dapat terjadi di berbagai negara, baik negara berkembang maupun negara maju. Di Indonesia sendiri, isu period poverty mulai mendapat perhatian karena masih adanya kesenjangan akses produk kebersihan menstruasi, terutama di wilayah dengan kondisi ekonomi dan infrastruktur yang terbatas.

Sayangnya, stigma yang menganggap menstruasi sebagai hal tabu membuat banyak orang enggan membicarakan masalah ini secara terbuka. Padahal, menstruasi adalah hal yang normal dan bukan sesuatu yang harus disembunyikan.

2. Faktor penyebab period poverty

pexels.com/Claire Dao

Setelah mengetahui apa itu period poverty, lantas apa penyebab kondisi ini terjadi? Berikut beberapa penyebab munculnya period poverty:

  • Keterbatasan ekonomi
    Faktor ekonomi menjadi salah satu penyebab period poverty di berbagai negara. Bagi keluarga dengan pendapatan rendah, membeli produk menstruasi seperti pembalut, tampon, atau menstrual cup secara rutin bisa menjadi beban finansial tambahan. Bahkan, menurut Jurnal Media Gizi Kesmas, mereka justru akan lebih berfokus untuk memenuhi kebutuhan dasar, seperti makan, daripada kebutuhan akan produk menstruasi.

  • Kurangnya akses air bersih dan sanitasi
    Akses terhadap toilet yang aman, air bersih, dan fasilitas pembuangan limbah menstruasi masih jadi tantangan di berbagai wilayah. Saat sekolah, tempat kerja, atau lingkungan tempat tinggal tidak memiliki sarana sanitasi yang layak (terutama di daerah terpencil), perempuan akan kesulitan mengelola menstruasi dengan aman dan nyaman. Akibatnya, mereka sering memilih untuk tidak beraktivitas di luar rumah selama masa menstruasi.

  • Minim edukasi tentang menstruasi
    Masih banyak remaja perempuan mengalami menstruasi pertama tanpa persiapan atau informasi yang memadai. Kurangnya edukasi ini membuat mereka merasa takut, malu, atau bingung saat mengalami menstruasi. Tidak hanya itu, hal itu juga membuat masyarakat sulit memahami bahwa kesehatan menstruasi menjadi bagian penting dari kesehatan reproduksi.

  • Stigma dan norma budaya
    Di beberapa negara, perempuan yang sedang menstruasi dianggap kotor atau tidak boleh disentuh. Hal ini yang membatasi pergerakan dan akses mereka ke tempat-tempat tertentu. Bahkan, mereka juga tidak boleh menyentuh makanan tertentu atau memasuki tempat ibadah. Sayangnya, mitos dan stigma yang berkembang tadi membuat perempuan sering merasa malu atau takut.

3. Dampak period poverty

pexels.com/cero cero

Jika terus dibiarkan, period poverty memiliki sejumlah dampak buruk, di antaranya:

  • Gangguan kesehatan, terutama yang berhubungan dengan organ reproduksi
    Perempuan dengan akses yang minim pada produk menstruasi, kurangnya air bersih atau sabun, dan manajemen kebersihan menstruasi yang tidak mumpuni akan menempatkan perempuan dalam ancaman penyakit organ reproduksi. Mulai dari risiko infeksi saluran reproduksi, infeksi saluran kemih, hingga gangguan kesehatan lainnya.

  • Terganggunya pendidikan
    Akses yang kurang memadai membuat mereka memilih tidak masuk sekolah saat menstruasi terjadi. Meski terlihat sepele, kondisi ini bisa membuat mereka kehilangan kesempatan belajar selama 5-6 hari setiap bulannya yang tentu akan merugikan mereka.

  • Menurunnya produktivitas
    Tidak hanya pelajar, perempuan dewasa yang mengalami period poverty juga akan kehilangan kesempatan kerja dan menurunnya produktivitas. Saat kebutuhan menstruasi tidak terpenuhi, mereka mungkin terpaksa absen dari pekerjaan atau tidak dapat bekerja secara optimal. Hal itu secara tak langsung bisa berdampak pada ekonomi mereka.

  • Ancaman pelecehan seksual
    Perempuan yang menggunakan kain saat menstruasi tetapi tidak punya akses ke kamar mandi pribadi dan air bersih di rumahnya bisa menghadapi risiko keamanan, lho. Pasalnya, mereka mungkin perlu pergi ke tempat yang jauh untuk membersihkan kain sehingga lebih rentan mengalami pelecehan seksual maupun bentuk kekerasan lainnya.

4. Cara mengatasi period poverty

pexels.com/Tosin Olowoleni

Meskipun period poverty merupakan masalah global, namun bukan berarti tidak ada solusinya, Bela. Berikut beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk mengatasi kondisi tersebut:

  1. Menyediakan produk menstruasi dengan harga terjangkau
    Salah satu langkah efektif untuk mengatasi period poverty ialah memastikan produk menstruasi tersedia dengan harga yang terjangkau atau bahkan gratis bagi kelompok yang membutuhkan. Hal ini bisa dilakukan sebagai upaya mengurangi kesenjangan akses.

  2. Memperluas edukasi kesehatan tentang menstruasi
    Pendidikan tentang menstruasi perlu diberikan sejak dini agar remaja memahami bahwa menstruasi merupakan proses biologis yang normal. Edukasi yang baik juga bisa menghilangkan berbagai mitos dan stigma yang selama ini berkembang di masyarakat. Selain itu, pendidikan menstruasi sebaiknya tidak hanya ditujukan kepada perempuan, tetapi juga kepada laki-laki agar tercipta pemahaman yang lebih inklusif.

  3. Meningkatkan akses sanitasi dan kebersihan
    Penyediaan toilet yang aman, akses air bersih, dan tempat pembuangan limbah menstruasi yang layak merupakan bagian yang perlu mendapat perhatian dalam mengatasi period poverty. Sekolah, tempat kerja, dan ruang publik perlu menyediakan fasilitas tersebut agar perempuan dapat menjalani aktivitas sehari-hari dengan nyaman.

  4. Hapus stigma tentang menstruasi
    Kampanye publik, media sosial, atau program edukasi ke masyarakat bisa meningkatkan kesadaran bahwa menstruasi adalah hal yang normal dan tidak perlu dianggap tabu. Hal ini tentunya diharapkan dapat mengurangi stigma yang telah lama melekat.

Itu dia penjelasan seputar apa itu period poverty, penyebab, dampak, dan upaya penanggulangannya. Yuk, ciptakan lingkungan yang aman dan bantu orang yang menstruasi agar bisa beraktivitas dengan lebih nyaman!

FAQ seputar period poverty

Apa yang dimaksud dengan period poverty?

Period poverty adalah kondisi ketika seseorang tidak memiliki akses yang memadai terhadap produk menstruasi, fasilitas sanitasi, dan edukasi menstruasi.

Apa penyebab utama terjadinya period poverty?

Penyebab meliputi kemiskinan, tingginya harga produk menstruasi, kurangnya fasilitas sanitasi, serta stigma dan minimnya edukasi tentang menstruasi.

Bagaimana cara mengatasi masalah period poverty?

Upaya yang dapat dilakukan antara lain menyediakan produk menstruasi yang terjangkau, meningkatkan edukasi menstruasi, memperbaiki fasilitas sanitasi, dan mengurangi stigma terkait menstruasi.

Curated For You

Editorial Team

Related Article