Katanya, kecantikan itu datang dari dalam diri. Kecantikan adalah bagaimana hati dan pikiran kita menyikapi berbagai hal dengan bijak dan penuh kelembutan. Tapi tetap saja, di era modern dimana pergaulan bisa datang dari mana saja termasuk lewat internet, penampilan masih sering menjadi tolak ukur apakah seorang wanita bisa dikatakan cantik atau nggak. Bukan hanya kecantikan wajah atau kesehatan kulit, ukuran tubuh pun sanggup memberikan pengaruh apakah seseorang ‘layak’ disebut cantik atau nggak. Bahkan, nggak sedikit pula profesi yang menuntut seseorang untuk memiliki tubuh ideal.

Belajar dari Pengalaman, Ternyata Cantik Itu Bukan tentang Ukuran Tubuhwww.vanityfair.com
 

Tekanan sosial inilah yang bisa membuat banyak sekali wanita minder dengan dirinya sendiri. “Aku gemuk, maka aku tidak cantik,” seolah menjadi ‘pengingat’ setiap kali berhadapan dengan lingkungan baru atau bahkan dengan cermin di kamar. Akhirnya, banyak cara dilakukan demi mendapatkan bentuk tubuh ideal, mulai dari yang super mahal dan aman hingga murah namun berbahaya. Kesehatan pun dipertaruhkan demi mendapat label ‘cantik’.

Penyanyi Demi Lovato pernah bermasalah dengan body image. Dia lahir dari keluarga dimana ibu dan neneknya menderita bulimia. Bayangkan jika kamu hidup dalam keluarga dimana mereka terus memuntahkan makanan yang baru saja dikonsumsi karena takut gemuk. Ditambah masalah kecanduan alkohol dan obat-obatan, Demi harus menjalani rehabilitasi. Seperti yang ditulis People, kini Demi merasa lebih baik dari yang sebelumnya. “Makanlah karbohidrat tanpa merasa bersalah dan ingatlah bahwa hidup terlalu singkat untuk mengkhawatirkan apa yang orang lain pikirkan,” tulisnya.

Lalu, apakah percaya diri dengan ukuran tubuh yang kamu punya berarti kamu bebas mengonsumsi apapun tanpa memerhatikan kesehatan? Menurutku, itu adalah sebuah kekeliruan. Kecantikan juga merupakan seni merawat diri. Aku menulis seperti ini karena aku juga punya ukuran tubuh yang besar. Jujur, 6 tahun lalu aku juga pernah mengonsumsi obat pelangsing dan bobot tubuhku turun. Iya, aku mendapatkan bentuk tubuh yang aku inginkan. Tapi aku memutuskan untuk berhenti setelah menyadari bahaya setiap kapsul yang aku telan. Seperti yang kuduga, angka di timbangan kembali bertambah.

Belajar dari Pengalaman, Ternyata Cantik Itu Bukan tentang Ukuran Tubuhwww.thedailybeast.com
 

Aku percaya bahwa kecantikan muncul dari tubuh yang sehat. Maka dari itu, aku memutuskan untuk memperbaiki pola makan. Memang nggak mudah menyingkirkan nasi dan makanan favoritku dari menu dan bangun lebih pagi saat hari libur untuk jogging. Tapi semua yang kulakukan ini adalah untuk diriku sendiri, bukan untuk menyenangkan kekasih, bukan untuk keluarga, bukan untuk mereka yang berkomentar tentang tubuhku. Aku melakukannya demi diriku sendiri, demi hidup yang lebih sehat dan usia yang lebih panjang. Jika kamu sedang mengalami apa yang kulakukan, nikmatilah semua prosesnya. Mie instan pun harus melalui proses dulu sebelum bisa dimakan. Satu lagi, jangan gunakan kata ‘diet’ untuk menggambarkan perjuanganmu selama ini karena itu akan memicu pola makan yang justru nggak sehat dan olahraga yang ekstrem.

Ukuran tubuh sejatinya nggak dijadikan tolak ukur kecantikan. Namun pola pikir dan ambisi untuk hidup lebih sehat adalah bagian dari kecantikan yang sesungguhnya.

BACA JUGA: Punya Wajah Rupawan, Begini Para Artis Indonesia Memaknai Kecantikan