Popbela.com/Winston Gomez
Mini dress pleats Mason Studio, aksesori Stuudio Particular available at LUMINE JAKARTA
Perjalanan yang penuh lika-liku ini tidak Ashel lalui sendirian. Ada anugerah dari Tuhan, suara-suara hangat dari orang tua, dukungan dari teman-teman, yang terus mendorongnya untuk bergerak maju. Semua itu ikut merangkai versi dirinya hari ini. Tapi, satu sosok yang kadang suka dilupakan, yaitu diri sendiri.
Memulai tahun 2026 yang baru berjalan tiga bulan, Ashel menyadari bahwa setiap pertumbuhan yang terjadi dalam hidupnya, tak akan pernah berjalan tanpa kemauan dirinya sendiri. Karena pada akhirnya, yang menggerakkan langkah itu tetap dirinya. Yang memilih untuk bangkit, yang memilih untuk bertahan, yang memilih untuk tetap berjalan adalah Ashel sendiri. Untuk pertama kalinya, ia mencoba melakukan hal yang selama ini ia lewatkan dan sesalkan; berterima kasih pada dirinya sendiri.
“Orang-orang terdekat membantu banget dalam pengembangan diri aku, tapi aku berterima kasih banget sama diri aku, karena sebelumnya aku nggak pernah. Kadang aku nyesel,” jelasnya.
Dalam ceritanya, Ashel mengakui kalau ia terlalu keras pada dirinya. Sering bertanya “kenapa aku kayak gini?”, terlalu sibuk meragukan nilai dirinya, sampai lupa bagaimana caranya menghargai diri sendiri. Self-love terasa asing. Sampai akhirnya, sesuatu berubah pelan-pelan tapi pasti.
Di tahun yang penuh dinamika ini, ia mulai belajar untuk berhenti sejenak. Bukan untuk menyerah, tapi untuk melihat ke dalam. Dari self-doubt berubah menjadi lebih banyak self-appreciation. Sesederhana,
“makasih ya sudah bertahan,”
“makasih ya sudah tetap jalan,”
“makasih ya sudah selalu bersyukur,”
“terima kasih sudah selalu baik,”
atau bahkan,
“maafin ya kalau aku ada salah.”
Kalimat-kalimat kecil itu, tanpa disadari, menjadi awal dari hubungan baru. Hubungan yang lebih lembut dengan dirinya sendiri. Walaupun mungkin terdengar sepele, tapi setiap kata yang disampaikan dengan penuh ketulusan, perlahan menyembuhkan. Dan dari sana, cinta pada diri sendiri mulai tumbuh.
“Mulai sekarang aku berterima kasih sama diri aku, itu yang bikin aku jadi sayang sama diri aku,” katanya dengan senyuman manis di wajah.
Ia perlahan bisa menerima dirinya, menerima semua hal yang harus direlakan tanpa menyalahkan siapa-siapa. Ia menyadari bahwa tidak semua hal harus dipaksakan. Dan bahwa di balik semua itu, ia tetap bisa memilih untuk bersyukur. Menjadi diri yang sekarang bukan hanya tentang siapa yang membantu bertumbuh, tapi juga tentang bagaimana belajar untuk tidak lagi meninggalkan diri sendiri.