Normalnya, saat mendengar adanya kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) kita pasti akan merasa geram dan kesal, terutama kepada pelaku. Namun, nyatanya banyak korban, dalam hal ini perempuan yang langsung terjun dalam hubungan tersebut memilih untuk bertahan. 

Tentunya itu bukanlah pilihan yang mudah untuk mereka. Ada banyak pertimbangan yang perlu dilihat hingga akhirnya memilih bertahan. Jangan buru-buru menghakimi, berikut ini Popbela uraikan apa saja alasan yang membuat perempuan bertahan dalam rumah tangga yang penuh dengan kekerasan, dilansir dari beberapa sumber. 

1. Kehilangan rasa percaya diri

7 Alasan Perempuan Bertahan di Rumah Tangga yang Penuh KekerasanPexels.com/Engin Akyurt

Dikendalikan dan disakiti tentu bisa mendatangkan trauma. Hal ini menyebabkan kebingungan, keraguan, dan perasaan menyalahkan diri sendiri.

Sikap kasar yang dilakukan pasangan bisa membuat korban merasa bahwa mereka pantas menerima perlakuan tersebut. Banyak perempuan yang akhirnya merasa putus asa dan kehilangan rasa percaya diri.

2. Melihat sisi baik pasangan saat sedang tidak marah

7 Alasan Perempuan Bertahan di Rumah Tangga yang Penuh Kekerasanfreepik.com/beststudio

Alasan yang cukup sering ditemui pada beberapa perempuan adalah bentuk pemakluman. Mereka cenderung mengingat perilaku manis yang dilakukan pasangannya saat hubungan mereka baik-baik saja. Inilah yang akhirnya membuat mereka berpikir, “Ah dia seperti itu karena sedang marah saja,” atau “Biasanya juga tidak begitu”.

Bela, sikap manis pasangan tidak seharusnya dijadikan penawar atas semua kekerasan yang ia lakukan. Kedua kondisi tersebut terjadi di situasi yang berbeda. Jadi, tidak bisa disatukan sebagai sebuah pembenaran.

3. Takut merasa sendiri

7 Alasan Perempuan Bertahan di Rumah Tangga yang Penuh KekerasanPexels.com/Jonathan Borba

Terkadang, kesendirian memang bisa menjadi momok yang menakutkan. Nggak heran kalau ada yang rela melakukan apa pun untuk memiliki seseorang di sampingnya, bahkan dengan pelaku kekerasan sekalipun.

Sebenarnya rasa takut akan kesendirian ini adalah hal yang wajar. Ditambah lagi dengan rasa nyaman dalam hubungan yang sudah berlangsung beberapa tahun. Akan tetapi, kewajaran ini tidak sepatutnya dijadikan alasan untuk bertahan, ya, Bela!

4. Kendala keuangan

7 Alasan Perempuan Bertahan di Rumah Tangga yang Penuh KekerasanPexels.com/Karolina Grabowska

Hubungan yang sudah berlangsung lama cenderung membuat beberapa perempuan menjadi ketergantungan, salah satunya terkait keuangan. Biasanya hal ini terjadi pada perempuan yang memilih untuk berhenti bekerja dan mengurus rumah tangga sepenuhnya. Mereka takut tidak mampu bertahan hidup jika harus berpisah dari pasangannya.

5. Mengutamakan anak

7 Alasan Perempuan Bertahan di Rumah Tangga yang Penuh Kekerasancrosswalk.com

Alasan lain yang sangat sering digunakan perempuan untuk bertahan adalah anak. Mereka mengutamakan anak-anak dan mengorbankan keselamatan mereka sendiri. Mereka takut kalau tidak membiarkan pasangannya memukul, maka anak-anak yang akan menjadi sasarannya.

Selain itu juga, mereka tidak ingin anak-anaknya harus kehilangan figur ayah dalam hidupnya. Jadi, tidak ada pilihan lain selain bertahan.

6. Selalu menaruh harapan kalau pasangan akan berubah

7 Alasan Perempuan Bertahan di Rumah Tangga yang Penuh KekerasanPexels.com/Rodnae Productions

Untuk hidup yang lebih baik, harapan memang harus selalu ditanamkan. Akan tetapi, kalau kesalahan dilakukan secara berulang, kayaknya harapan cuma jadi sia-sia, deh, Bela.

Pelaku kekerasan sering kali melakukan manipulasi dengan cara meminta maaf dan berjanji akan berubah. Ada juga yang melakukan hal-hal manis untuk membuat korban lupa dan mau memaafkannya kembali. Hati-hati dengan perilaku seperti ini, ya, Bela!

7. Takut dengan pembalasan yang lebih parah

7 Alasan Perempuan Bertahan di Rumah Tangga yang Penuh Kekerasanfreepik.com/zinkevych

Bela, pada kenyataannya keluar dari hubungan yang abusive memang tidak semudah itu, lho. Perasaan takut dan was-was tentu membuat korban mempertimbangkan banyak hal terutama soal keselamatan.

Pelaku kekerasan biasanya memiliki emosi yang cenderung tidak stabil dan bisa membahayakan orang lain. Untuk itu, sangat wajar kalau korban akan merasa takut dengan pembalasan yang lebih parah. Alih-alih bahagia, tindakan nekat yang dilakukan korban bisa berpotensi membuatnya celaka.

Selain itu, korban kekerasan juga tidak bisa mengatasi semuanya sendiri. Mereka tentu membutuhkan bantuan orang lain. Jadi, siapkan dukungan terbaik untuk siapa pun yang menjadi korban, ya, Bela.

Baca Juga: 15 Tanda Orangtuamu Melakukan Emotional Abusive

Baca Juga: 6 Pelajaran Setelah Lepas dari Toxic Relationship

Baca Juga: 10 Langkah yang Perlu Dilakukan untuk Memperbaiki Toxic Relationship