Tak mulus-mulus saja, hubungan tersebut pernah mengalami masa sulit di mana keduanya memilih untuk jeda atau break. Bukan karena pertengkaran besar, jeda tersebut justru dilakukan dengan cara yang sehat dan penuh kesadaran. Saat ‘istirahat’ itu, EJAE merasa ia butuh ruang untuk berpikir ulang tentang hubungannya. Ia mencoba membayangkan kalau mereka harus berpisah, bagaimana caranya agar bisa menerima dan menghadapinya dengan baik?
Ia berpendapat bahwa mungkin di kehidupan ini mereka memang tidak ditakdirkan untuk bersama, meskipun ada perasaan. Luka emosional dan beban masa lalu yang mereka bawa masing-masing akhirnya menimbulkan rasa kesal dan jarak. Jadi masalahnya bukan salah salah satu pihak, tapi karena kondisi dan pengalaman yang mereka bawa ke dalam hubungan.
Ia juga berpikir mungkin di dunia lain mereka bisa bersama dan itu membuatnya merasa lebih lega. Cara berpikir itu membantu mengurangi rasa sakit dan beban emosional, karena ia bisa menerima kenyataan tanpa harus menyalahkan siapa pun.
“Selama waktu itu... aku membutuhkan ruang untuk mengevaluasi kembali,” ungkap EJAE dalam wawancara dengan Z100.
“Itu seperti, jika kita berpisah, bagaimana cara menghadapinya? Dan bagiku, aku mengetahui bahwa, mungkin dalam kehidupan ini, kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama. Trauma dan beban yang kita miliki menyebabkan rasa dendam, jadi bukan kamu atau aku yang menyebabkan masalah ini. Itu seperti menerima semuanya, dan mungkin ada realita yang lain bisa sangat meringankan beban,” jelasnya.
Pengalaman inilah yang menjadi inspirasi EJAE untuk single solo debutnya, “In Another World”.