Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mengenal Taxi Cab Theory, Teori Kesiapan Laki-Laki untuk Berkomitmen
Pexels.com/Efrem Efre
  • Taxi cab theory menjelaskan bahwa kesiapan laki-laki untuk berkomitmen ditentukan oleh waktu yang dirasa tepat, bukan semata karena pasangan atau hubungan yang dijalani.
  • Teori ini berasal dari serial TV Sex and the City dan bukan hasil penelitian ilmiah, sehingga banyak ahli menilai konsepnya tidak memiliki dasar valid dan cenderung bersifat asumtif.
  • Banyak pihak menganggap teori ini terlalu menyederhanakan dinamika hubungan serta bernada seksis, karena mengabaikan faktor penting seperti kecocokan, kepercayaan, dan kenyamanan emosional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bela, pernahkah kamu bertanya-tanya, apa sebenarnya alasan yang membuat laki-laki siap untuk berkomitmen? Apakah karena merasa cocok secara karakter dengan pasangannya, adanya perasaan nyaman, terdapat kesamaan visi hubungan, atau disebabkan oleh waktu yang dirasa sudah ‘tepat’?

Jika dilihat secara umum, sebenarnya bisa jadi ada banyak alasan yang mendasari keputusan laki-laki untuk mengambil langkah serius di dalam hubungannya. Namun, menurut taxi cab theory atau teori taksi, timing yang tepat dianggap menentukan kesiapan laki-laki untuk mengambil komitmen serius.

Teori inipun cukup memicu kontroversi, mengingat anggapan ini banyak didasarkan oleh asumsi belaka.

Nah, untuk tahu lebih jelas mengenai taxi cab theory, berikut Popbela rangkum penjelasan selengkapnya buat kamu, melansir VeryWell Mind.

Pengertian taxi cab theory

Magnific.com/wirestock

Taxi cab theory merupakan sebuah teori yang menyatakan bahwa keputusan laki-laki untuk berkomitmen didasarkan oleh ketepatan waktu. Seperti lampu taksi yang menyala ketika siap memberikan tumpangan, laki-laki dianggap hanya akan ‘menyalakan lampu’ untuk komitmen serius ketika merasa siap. Teori ini menyebut bahwa kesiapan ini bisa dipengaruhi oleh berbagai hal, seperti pertumbuhan pribadi, keamanan finansial, hingga tahapan kehidupan.

Terapis hubungan, Afton Turner, LPCA, pun turut menjelaskan mengenai teori hubungan ini. Taxi cab theory menganggap bahwa laki-laki memilih pasangan bukan disebabkan oleh siapa sosok yang bersamanya, melainkan dikarenakan ketepatan waktu belaka.

"Pada saat itu, bukan lagi tentang dengan siapa dia bersama, tetapi lebih tentang waktunya; dia siap menjemput penumpang berikutnya yang menunggu dan menikahinya." Ucap Afton.

Asal-usul taxi cab theory

Pexels.com/Jonathan Borba

Nyatanya, taxi cab theory bukanlah teori yang berasal dari pakar hubungan, ataupun para profesional lainnya, melainkan dari serial TV Sex and the City. Dalam serial tersebut, sosok Miranda yang diperankan oleh aktris, Chyntia Nixon, berkata bahwa laki-laki ibarat sebuah taksi, yakni ketika merasa siap dan tersedia, lampu mereka akan menyala.

Kendati begitu, sebenarnya belum ada validitas mengenai teori satu ini. Hanya saja, banyak yang menilai bahwa taxi cab theory dapat menjelaskan mengapa laki-laki bisa berkencan dalam waktu yang lama dengan seorang perempuan, kemudian putus, lalu bertemu dengan sosok lainnya yang kemudian dinikahinya.

Apakah taxi cab theory memicu kontroversi?

Pexels.com/Luan Gonçalves

Taxi cab theory dianggap menimbulkan kontroversi karena tidak didasarkan oleh data yang valid, melainkan oleh asumsi belaka, serta cenderung bernada seksis. Hal ini sejalan dengan pendapat beberapa ahli bahwa teori ini tidak bisa dipastikan kebenarannya karena tidak ada bukti penelitian mendalam terkait kesiapan laki-laki saat berkomitmen.

"Teori ini mengasumsikan hubungan heteronormatif di mana laki-laki memutuskan untuk berkomitmen ketika mereka siap berkomitmen, terlepas dari siapa pasangan mereka." Ucap penulis buku, Tammy Nelson., PhD.

Tammy kemudian menyebut jika teori ini seolah terlalu menyederhanakan masalah.

"Teori 'taksi' terlalu menyederhanakan masalah dan mengabaikan pilihan, daya tarik, dan keputusan yang lebih sadar seputar kemitraan. Teori ini juga menyiratkan bahwa laki-laki tidak memilih pasangan berdasarkan koneksi mereka, melainkan memasuki hubungan secara membabi buta, terlepas dari perasaan mereka," tambahnya.

Apakah taxi cab theory perlu ditanggapi secara serius?

Pexels.com/Ramon Hernandez

Karena teori ini tidak didasarkan oleh penelitian yang jelas dan didasarkan asumsi belaka, maka ada baiknya untuk tidak menanggapi taxi cab theory secara serius. Sebab, nyatanya ada banyak faktor yang memengaruhi keputusan laki-laki untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius, dan bukan hanya persoalan timing belaka. Seperti adanya kesamaan visi hubungan, kepercayaan yang kuat, hingga perasaan nyaman juga menjadi faktor kunci yang memengaruhi pilihan laki-laki untuk berkomitmen.

Itulah mengapa, apabila saat ini kamu sedang berada di dalam hubungan asmara dan belum kunjung mendapatkan keseriusan, berkomunikasi secara terbuka terkait masa depan hubungan dan menegaskan batas waktu menjadi solusi yang tepat. Respons dari pasanganmu nantinya bisa dijadikan pertimbangan untuk mengevaluasi kembali hubunganmu, apakah memang layak untuk dipertahankan, atau tidak.

Kesimpulan

Pexels.com/SHVETS production

Taxi cab theory adalah teori yang menjelaskan bahwa laki-laki memilih untuk berkomitmen secara serius dengan pasangannya berdasarkan ketepatan waktu belaka. Teori ini pun seolah menjelaskan mengapa ada laki-laki yang baru saja putus dari hubungannya, kemudian dengan cepat move on dan menikahi perempuan yang menjadi pasangan barunya tersebut.

Namun, banyak yang menilai jika teori ini cenderung seksis, serta terlalu menyederhanakan situasi dan mengecualikan hal-hal yang lebih esensial, seperti kecocokan karakter, kepercayaan, hingga perasaan nyaman dalam hubungan. Oleh karenanya, teori ini memicu kontroversi, terlebih tidak ada data valid yang mendukungnya.

Itulah penjelasan mengenai taxi cab theory. Gimana, kamu sendiri percaya dengan teori satu ini nggak nih, Bela?

FAQ seputar taxi cab theory

Apa itu taxi cab theory?

Taxi cab theory merupakan teori yang menganggap bahwa kesiapan laki-laki untuk berkomitmen didasarkan oleh timing belaka, tanpa melibatkan faktor lain, seperti kecocokan karakter, maupun kesamaan visi dan misi hubungan dengan pasangan.

Dari mana asal-usul taxi cab theory?

Teori ini berasal dari serial televisi Sex and the City, di mana tokoh Miranda menyebut bahwa laki-laki yang siap untuk berkomitmen ibarat taksi yang menyalakan lampu untuk menandakan kesediaan.

Apakah taxi cab theory menimbulkan kontroversi?

Ya. Taxi cab theory dianggap sebagai teori yang seksis dan terlalu menyederhanakan keputusan laki-laki saat hendak melangkah ke jenjang yang lebih serius.

Curated For You

Editorial Team

Related Article