Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Apa Itu Emotional Manipulation? Yuk Kenali Tanda-Tandanya!
Pexels.com/RDNE Stock project
  • Manipulasi emosional adalah upaya mengendalikan emosi orang lain agar tindakan atau keputusannya berubah, melalui bujukan, tekanan, ancaman, atau pemerasan emosional.
  • Bentuknya dapat berupa membuat pasangan merasa bersalah, gaslighting, love bombing, dan kritik terus-menerus yang perlahan melemahkan kepercayaan diri serta kebebasan mengambil keputusan.
  • Jika berulang, pola ini memicu rasa tidak aman, cemas, konflik, hingga dampak kesehatan mental; langkah yang dianjurkan meliputi menenangkan diri, menetapkan batasan, mencari dukungan, atau pergi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Dalam hubungan, adakalanya seseorang membuatmu merasa bersalah, meragukan diri sendiri, atau bahkan takut menolak keinginannya. Awalnya mungkin terlihat seperti cara biasa untuk menyelesaikan konflik, tapi kalau pola tersebut terus berulang, kamu bisa saja mulai merasa kehilangan kendali atas keputusanmu sendiri.

Situasi seperti ini berkaitan dengan emotional manipulation, yang mungkin terjadi tanpa disadari dalam hubungan, termasuk dengan pasangan. Lantas, apa itu emotional manipulation dan seperti apa bentuknya? Yuk, simak ulasannya.

Apa itu emotional manipulation?

ilustrasi pasangan bertengkar (freepik.com/prostock studio)

Emotional manipulation adalah bentuk manipulasi psikologis ketika seseorang berusaha mengendalikan emosi orang lain untuk memengaruhi tindakan atau keputusannya. Cara yang digunakan bisa berupa bujukan, tekanan, ancaman, hingga emotional blackmail atau pemerasan emosional.

Namun, emotional manipulation tidak selalu dilakukan dengan kesadaran penuh. Seseorang bisa saja terbiasa menggunakan cara tersebut karena pengalaman masa lalu atau pola komunikasi yang dipelajari sejak kecil.

Misalnya, orang yang tumbuh di lingkungan keluarga yang sering menggunakan rasa bersalah untuk mendapatkan sesuatu mungkin menganggap cara tersebut sebagai bentuk komunikasi yang normal. Pengalaman buruk atau trauma juga dapat membuat seseorang mengembangkan pola komunikasi yang kurang sehat.

Meski begitu, alasan di balik perilaku tersebut tidak menghilangkan dampaknya terhadap orang lain. Jika dilakukan terus-menerus, emotional manipulation dapat membuat seseorang merasa tidak aman dan kehilangan kebebasan dalam mengambil keputusan.

Seperti apa emotional manipulation?

ilustrasi orang bertengkar (pexels.com/Alex Green)

Manipulasi emosional dapat muncul dalam berbagai bentuk. Kadang terlihat jelas, tetapi ada juga yang terasa sangat halus sehingga baru disadari setelah pola tersebut berlangsung cukup lama. Berikut beberapa bentuk emotional manipulation yang umum terjadi:

1. Membuat merasa bersalah

ilustrasi pasangan sedang bertengkar (pexels.com/RDNE Stock project)

Rasa bersalah sering digunakan untuk membuat seseorang mengubah keputusan atau menuruti keinginan orang lain. Contohnya:

“Kalau kamu benar-benar sayang sama aku, kamu nggak akan melakukan itu.”

Kalimat tersebut membuat keputusan seseorang seolah-olah menjadi bukti apakah dia menyayangi pasangannya atau tidak. Akibatnya, seseorang bisa merasa bersalah meski sebenarnya tidak melakukan sesuatu yang salah.

2. Gaslighting

ilustrasi pasangan bertengkar (pexels.com/RDNE Stock project)

Gaslighting terjadi ketika seseorang membuat orang lain meragukan ingatan, persepsi, atau penilaiannya sendiri. Contohnya, ketika kamu mengingat dengan jelas sesuatu yang pernah dikatakan pasangan, tapi dia justru menjawab, “Kamu terlalu capek, makanya ingatannya salah. Aku nggak pernah bilang begitu.”

Jika pola seperti ini terus terjadi, kamu bisa mulai mempertanyakan diri sendiri dan merasa tidak yakin dengan apa yang sebenarnya kamu alami.

3. Love bombing

ilustrasi pria melakukan love bombing (pexels.com/Andres Ayrton)

Love bombing merupakan perilaku memberikan perhatian, pujian, atau kasih sayang secara berlebihan untuk membuat seseorang merasa sangat dekat atau terikat.

Pada awal hubungan, misalnya, seseorang terus memberikan perhatian dan membuat pasangannya merasa menjadi orang paling spesial. Namun, setelah hubungan semakin dekat, perhatian tersebut bisa ditarik secara tiba-tiba sehingga pasangan merasa kehilangan dan mulai bergantung pada perlakuan tersebut.

Perlu diingat, memberikan banyak perhatian atau kasih sayang tidak otomatis berarti love bombing. Yang perlu diperhatikan adalah pola dan tujuan di balik perilakunya.

4. Mengkritik secara terus menerus

ilustrasi bertengkar dengan sahabat (unsplash.com/Vitaly Gariev)

Manipulasi juga bisa muncul melalui kritik yang membuat seseorang merasa dirinya selalu kurang. Misalnya:

“Kamu tuh nggak pernah bisa melakukan apa pun dengan benar.”

Kritik yang terus-menerus dapat membuat seseorang kehilangan kepercayaan diri dan akhirnya lebih mudah mengikuti keinginan orang lain, karena merasa dirinya memang selalu salah.

Apa dampak emotional manipulation dalam hubungan?

ilustrasi pasangan bertengkar (unsplash.com/Getty Images)

Jika terjadi secara berulang, emotional manipulation dapat membuat hubungan terasa tidak aman. Seseorang mungkin mulai takut menyampaikan pendapat karena khawatir akan dimarahi, disalahkan, atau dibuat merasa bersalah. Manipulasi emosional juga dapat menyebabkan:

  • Hilangnya kepercayaan dalam hubungan.

  • Munculnya rasa takut dan cemas.

  • Konflik yang semakin sering terjadi.

  • Rasa kesal dan kebencian yang menumpuk.

  • Menurunnya rasa percaya diri.

  • Kesulitan menentukan batasan dalam hubungan.

  • Munculnya perasaan bahwa diri sendiri selalu menjadi penyebab masalah.

Dalam jangka panjang, pola manipulasi yang terus terjadi juga dapat berdampak pada kesehatan mental. Pada situasi yang lebih serius, seseorang dapat mengalami kecemasan, depresi, hingga trauma.

Apa yang harus dilakukan saat emotional manipulation?

ilustrasi orang bertengkar (pexels.com/RDNE Stock project)

Menghadapi emotional manipulation memang tidak mudah, terutama ketika kamu sudah terlibat secara emosional dengan orang tersebut. Beberapa hal yang bisa dilakukan antara lain:

  • Tenangkan diri: Jangan langsung merespons saat situasi sedang memanas. Beri waktu untuk berpikir.

  • Tetapkan batasan: Sampaikan kebutuhan dan batasanmu dengan jelas tanpa perlu merasa bersalah.

  • Jangan merasa bertanggung jawab: Kamu tidak bertanggung jawab atas semua emosi atau kebahagiaan orang lain.

  • Jangan mudah menuruti tuntutan: Pastikan keputusanmu dibuat karena memang kamu inginkan, bukan karena rasa bersalah.

  • Cari dukungan: Ceritakan situasi yang kamu alami kepada orang yang dipercaya atau profesional.

  • Pertimbangkan untuk pergi: Jika manipulasi sudah menjadi pola dan terus berdampak buruk pada dirimu, meninggalkan hubungan bisa menjadi pilihan.

Apa itu emotional manipulation? Ini adalah cara seseorang menggunakan emosi untuk mengendalikan pikiran atau perilaku orang lain. Jika terus terjadi, jangan anggap sebagai konflik biasa karena manipulasi emosional bisa menjadi tanda hubungan yang tidak sehat.

Curated For You

Editorial Team

Related Article