Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
13 Lagu Ciptaan Guruh Soekarnoputra, Karya yang Tak Lekang oleh Waktu
Instagram.com/guruhsoekarnoputra_fan
  • Guruh Soekarnoputra wafat pada 26 September 2026 di Jakarta, usia 73 tahun, meninggalkan jejak panjang melalui lagu-lagu yang memadukan cinta, kehidupan kota, budaya, dan Indonesia.

  • Karyanya mencakup lagu populer seperti “Kala Sang Surya Tenggelam”, “Galih & Ratna”, dan “Kala Cinta Menggoda”, yang dipopulerkan Chrisye serta kembali dibawakan musisi lintas generasi.

  • Musik Guruh menggabungkan pop modern dengan unsur tradisi Indonesia, sekaligus mengangkat nostalgia, kritik sosial, dinamika perkotaan, dan kebangsaan melalui rekaman, proyek musik, serta musikal.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Guruh Soekarnoputra meninggalkan jejak panjang dalam musik Indonesia melalui lagu-lagu yang memadukan tema cinta, kehidupan kota, budaya, hingga kecintaan terhadap Tanah Air. Putra bungsu Presiden Soekarno dan Fatmawati itu wafat pada Sabtu, 26 September 2026, pukul 04.16 WIB di MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta, dalam usia 73 tahun.

Kabar tersebut kembali mengingatkan publik pada karya-karya Guruh yang tetap hidup melalui berbagai penyanyi lintas generasi, termasuk Chrisye, Ahmad Albar, Cici Paramida, hingga musisi generasi yang lebih muda. Untuk mengenang perjalanan musikalnya, berikut daftar lagu ciptaan Guruh Soekarnoputra, Bela!

1. "Kala Sang Surya Tenggelam"

"Kala Sang Surya Tenggelam" merupakan salah satu karya Guruh Soekarnoputra yang paling dikenal luas. Lagu ini pertama kali dinyanyikan Dhenok Wahyudi untuk film Ali Topan Anak Jalanan, sebelum kemudian direkam Chrisye dan masuk ke album Sabda Alam pada 1978. Versi Chrisye membuat lagu tersebut semakin dikenal dan menghadirkan nuansa yang melankolis serta magis.

Popularitas lagu ini tidak berhenti pada generasi 1970-an. Pada 2023, Nadin Amizah membawakan kembali "Kala Sang Surya Tenggelam" sebagai lagu tema serial Netflix Gadis Kretek. Pihak produksi memilih lagu tersebut karena dinilai memiliki suasana yang sesuai dengan kisah romansa dan perjalanan karakter dalam serial tersebut.

Hal itu menunjukkan bagaimana komposisi Guruh dapat melewati batas zaman tanpa kehilangan daya emosionalnya.

2. "Galih & Ratna"

"Galih & Ratna" menjadi salah satu lagu Guruh yang sangat erat dengan kisah cinta remaja Indonesia. Lagu tersebut muncul dalam film Gita Cinta dari SMA yang dirilis pada 1979 dan pertama kali dinyanyikan Iromy Nursaid bersama The Kid Brothers.

Setahun kemudian, Chrisye membawakan lagu tersebut dalam album Puspa Indah yang berkaitan erat dengan film Puspa Indah Taman Hati. Album tersebut merupakan kolaborasi Chrisye, Guruh Soekarnoputra, dan Yockie Suryo Prayogo.

Nama "Galih dan Ratna" kemudian menjadi bagian dari ingatan budaya pop Indonesia sebagai gambaran kisah cinta anak SMA. Bahkan pada 2026, lagu-lagu Guruh kembali menjadi bagian penting dalam musikal Bukan Cinta Galih/Ratna.

3. "Kala Cinta Menggoda"

Dirilis Chrisye pada 1997, "Kala Cinta Menggoda" merupakan salah satu karya Guruh yang populer dengan tema percintaan. Liriknya menggambarkan seseorang yang jatuh cinta kepada orang yang telah memiliki pasangan, sehingga menghadirkan konflik antara perasaan dan keadaan.

Daya tarik lagu ini bukan hanya terletak pada ceritanya. Aransemen musiknya memadukan pop dengan sentuhan langgam Jawa dan unsur vokal sinden, memperlihatkan kecenderungan Guruh memasukkan warna tradisional ke dalam musik populer.

Lagu tersebut juga terus diperkenalkan melalui penyanyi lain. Pada 2014, misalnya, Raisa dan Tulus membawakannya dalam konser Satu Indonesia yang didedikasikan untuk karya-karya Guruh.

4. "Melati Suci"

"Melati Suci" memiliki cerita yang sangat personal. Lagu ini diciptakan Guruh pada 1980 dan dipersembahkan untuk ibundanya, Fatmawati.

Guruh dikenal menyukai simbol bunga melati yang lekat dengan Indonesia. Lagu tersebut kemudian dibawakan Tika Bisono dalam pergelaran Untukmu Indonesiaku pada 1980. Dalam perkembangannya, "Melati Suci" juga pernah dibawakan kembali oleh Vina Panduwinata dan penyanyi lainnya.

Karya ini memperlihatkan bagaimana Guruh tidak hanya menggunakan musik sebagai hiburan, tetapi juga sebagai medium untuk menyampaikan penghormatan, rasa cinta keluarga, dan nilai-nilai kebangsaan.

5. "Lenggang Puspita"

"Lenggang Puspita" merupakan lagu Guruh yang dirilis dalam rangkaian karya Gilang Indonesia Gemilang pada 1986. Versi awalnya dikenal melalui vokal Ahmad Albar, yang justru membawakan lagu tersebut dalam warna pop, bukan karakter rock yang selama ini melekat pada dirinya.

Salah satu daya tarik lagu ini adalah penggunaan elemen musik bernuansa Indonesia, termasuk sentuhan etnik Betawi pada bagian akhirnya. Komposisinya juga memadukan flute dan string sehingga menghasilkan karakter yang megah tetapi tetap ringan.

Lagu ini kemudian diperkenalkan kembali kepada pendengar generasi berikutnya melalui penyanyi seperti Carlo Saba dan Afgan.

6. "Candu Asmara"

"Candu Asmara" memperlihatkan kemampuan Guruh mengeksplorasi genre yang berbeda. Lagu ini dipopulerkan Cici Paramida dan kemudian mendapatkan interpretasi baru dari Marcell Siahaan.

Versi Cici Paramida dikenal dengan nuansa dangdut, sementara Marcell memberikan pendekatan yang berbeda melalui aransemen modern. Pada 2020, Maizura dan JFlow kembali membawakan lagu ini dengan sentuhan elektronik atau EDM.

Tema lagunya sederhana tetapi universal: seseorang yang sedang begitu tergila-gila pada orang yang dicintainya. Perubahan aransemen dari waktu ke waktu membuat "Candu Asmara" dapat terdengar berbeda tanpa kehilangan identitas melodinya.

7. "Zamrud Khatulistiwa"

"Zamrud Khatulistiwa" merupakan salah satu karya Guruh yang mengangkat tema kecintaan terhadap Indonesia. Lagu ini dikenal melalui Keenan Nasution dan kemudian semakin populer setelah dibawakan Chrisye.

Liriknya menggambarkan kekaguman terhadap Indonesia sebagai negeri yang kaya akan keindahan dan keberagaman. Karena itu, lagu ini memiliki nuansa yang berbeda dari karya Guruh bertema percintaan.

Karya tersebut juga terus mendapat interpretasi baru. Dalam proyek Puspa Ragam Karya Guruh Sukarno Putra 2020, "Zamrud Khatulistiwa" termasuk lagu yang dipilih untuk dinyanyikan kembali oleh musisi lintas generasi.

8. "Lagu Putih"

"Lagu Putih" menjadi bagian penting dari kolaborasi Guruh Soekarnoputra dan Chrisye dalam album Puspa Indah pada 1980. Kredit komposisi dan lirik lagu tersebut tercatat atas nama Guruh Soekarnoputra.

Menariknya, isi lagu menggambarkan luka dan kekecewaan dalam hubungan, tetapi musiknya tidak dibawakan dengan suasana yang sepenuhnya muram. Kontras antara tema lirik dan karakter musik inilah yang menjadi salah satu daya tariknya.

"Lagu Putih" juga memperlihatkan betapa besar kontribusi Guruh dalam album Puspa Indah, yang sebagian besar lagunya memang merupakan hasil karya Guruh.

9. "Keranjingan Disco"

Berbeda dari lagu cinta, "Keranjingan Disco" menghadirkan sisi Guruh yang lebih kritis terhadap perubahan gaya hidup anak muda pada masanya.

Lagu ini mengambil fenomena masuknya budaya populer Barat, termasuk tren berdisko, sebagai bagian dari tema yang dibicarakan. Guruh mengemas persoalan tersebut ke dalam musik yang justru memiliki karakter funk dan disco.

Menariknya, karya lama ini kembali mendapatkan perhatian setelah diaransemen ulang oleh Geisha pada 2019. Kehadiran versi baru tersebut menunjukkan bahwa tema mengenai perubahan budaya dan gaya hidup anak muda tetap dapat dibaca oleh generasi yang berbeda.

10. "Kenang-Kenangan"

"Kenang-Kenangan" membawa pendengar pada tema nostalgia. Lagu ini merupakan ciptaan Guruh dan menjadi salah satu bagian dari album Puspa Indah yang dinyanyikan Chrisye pada 1980. Daftar lagu album tersebut mencatat Kenang-Kenangan sebagai salah satu karya Guruh.

Tema nostalgia menjadi kekuatan utama lagu ini karena berbicara mengenai kenangan masa muda dan perjalanan waktu. Karena itu, lagu tersebut tidak hanya berfungsi sebagai lagu tema, tetapi juga memiliki daya emosional bagi pendengar yang mengalami perubahan zaman.

11. "Hallo Jakarta"

"Hallo Jakarta" memperlihatkan perhatian Guruh terhadap kehidupan perkotaan. Lagu ini dirilis dalam rangkaian Pergelaran Karya Cipta pada 1980 dan menggambarkan Jakarta sebagai pusat pemerintahan, perdagangan, serta pertemuan berbagai kebudayaan.

Secara musikal, lagu ini dikenal memiliki perpaduan warna city pop, jazz, dan keroncong, sehingga memberikan karakter yang cukup berbeda dari lagu-lagu Guruh bertema romantis.

Melalui lagu ini, Jakarta tidak sekadar menjadi latar, tetapi menjadi objek pengamatan Guruh terhadap kehidupan masyarakat dan dinamika sebuah ibu kota.

12. "Anak Jalanan"

"Anak Jalanan" merupakan salah satu lagu Guruh yang dipopulerkan Chrisye dan masuk dalam album Sabda Alam pada 1978. Lagu ini berkaitan dengan fenomena kehidupan anak muda dan kehidupan jalanan di kota metropolitan.

Karya tersebut juga memiliki hubungan dengan novel Ali Topan Anak Jalanan karya Teguh Esha. Guruh turut terlibat dalam film Ali Topan Anak Jalanan sebagai ilustrator musik.

Dengan demikian, "Anak Jalanan" tidak berdiri sebagai lagu populer semata, tetapi menjadi bagian dari rangkaian karya budaya yang menggambarkan kehidupan anak muda Indonesia pada era 1970-an.

13. "Jenuh"

"Jenuh" merupakan karya Guruh yang mengangkat sisi lain kehidupan masyarakat perkotaan. Jika Hallo Jakarta menggambarkan denyut ibu kota, "Jenuh" lebih menyoroti perasaan lelah dan bosan yang dapat muncul di tengah kehidupan kota besar.

Lagu ini memiliki karakter pop-jazz dan termasuk dalam rangkaian karya Guruh pada era 1980-an. Tema tersebut terasa cukup dekat dengan kehidupan masyarakat karena kejenuhan terhadap rutinitas merupakan pengalaman yang tidak terbatas pada satu generasi.

Warisan musik Guruh Soekarnoputra meliputi lagu bertema cinta, kebudayaan, hingga kecintaan terhadap Indonesia yang tetap dikenal lintas generasi. Karyanya bersama Swara Mahardhika dan Guruh Gipsy juga mempertemukan musik modern dengan unsur tradisi Indonesia.

Lagu-lagunya terus dinyanyikan ulang, termasuk dalam proyek Puspa Ragam Karya Guruh Sukarno Putra 2020 dan musikal Bukan Cinta Galih/Ratna pada 2026. Setelah Guruh wafat pada 26 September 2026 di usia 73 tahun, karya-karya tersebut kembali mendapat perhatian sebagai bagian penting dari perjalanan musik dan seni pertunjukan Indonesia.

Selamat jalan, Guruh Soekarnoputra, karyamu akan selalu hidup dalam ingatan dan budaya Indonesia.

Curated For You

Editorial Team

Related Article