Di tengah ramai dan padatnya kawasan Pecinaan Glodok, terdapat kedai teh yang terletak di pintu masuk kawasan wisata Kota Tua. Bangunan berarsiktektur kuno a la Tionghoa itu sudah berdiri sejak tahun 1600-an. 

Keaslian bangunan tetap dilestarikan dengan memajangan perabotan dan bagian bangunan tempo dulu yang bernilai seni tinggi. Gedung unik ini awal mulanya adalah apotek bernama Chun Hwa yang membuka usahnaya pada tahun 1928. 

Di Pantjoran Tea House, Bela bisa menikmati sajian berbagai variasi teh dengan penyajian yang unik, yaitu dengan tradisi gongfu cha. Tradisi ini adalah teknik penyajian teh dengan gaya tradisional Tionghoa yang sangat otentik. Penyajian teh dengan teknik ini dilakukan oleh tea specialist dari Pantjoran Tea House.

Berawal dari apotek, menjadi kedai teh bersejarah

Mengukir Sejarah lewat Teh di Pantjoran Tea HousePantjoran Tea House

Dahulu, terdapat bangunan yang merupakan salah satu landmark di kawasan Glodok yang sudah ada sejak tahun 1635. Tahun 1928, bangunan ini menjadi apotek Chung Hwa yang merupakan apotek tertua kedua di Jakarta.

Kala itu, kawasan Pancoran dan Glodok, cukup populer sebagai pusat obat tradisional. Banyak sekali penjual obat menjajakan dagangannya. Mulai dari lapak tepi jalan, kios, ruko, termaksud apotek Chung Hwa.

Dalam mendukung upaya pemerintah menjadikan kawasan Kota Tua sebagai situs warisan budaya UNESCO, gedung kolonial ini difungsikan menjadi Pantjoran Tea House. Bangunan ini direvitalisasi oleh arsitek Ahmad Djuhara pada tahun 2015.

Tradisi "Patekoan" sudah ada sejak 1600-an

Mengukir Sejarah lewat Teh di Pantjoran Tea HouseAgus Rudianto

Berbagi kebaikan dan kepedulian dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya adalah tradisi "Patekoan" oleh Pantjoran Tea House ini.

Jika Bela hendak datang ke kedai teh ini, maka kalian akan menemui keunikan di depan kedai teh. Terdapat meja panjang yang ditaruh 8 teko dan tertulis "Tradisi Patekoan (8 teko) Silakan Minum! Teh untuk kebersamaan. Teh untuk Masyarakat".

Teko-teko tersebut biasanya diisi dengan seduhan teh hijau yang diperuntukan bagi siapa saja yang melintas. Tradisi ini dinamakan Patekoan, yakni memberikan teh gratis untuk masyarakat. Teh ini gratis dan boleh dinikmat oleh semua kalangan, dari turis asing, tukang becak, ojek online, bahkan pedagang. 

Dari Kapitan Gan Djie, menjadi suatu tradisi ikonik di Kedai Teh ini

Mengukir Sejarah lewat Teh di Pantjoran Tea HouseSilvita Magnasari

Tradisi ini sudah menjadi legenda bagi masyarakat, terutama di kawasan Glodok dan Pancoran. Patekoan sendiri berasal dari kata Pat berarti delapan dalam bahasa Mandarin dan teko. Jadi, Patekoan adalah tradisi membagikan teh gratis sebanyak 8 teko setiap harinya.

Tradisi Patekoan pertama kali dikenalkan oleh Kapitan Gan Djie dan istrinya. Kala itu, Kapitan Gan Djie ingin menolong masyarakat yang setiap hari melewati rumahnya, seperti pedagang, kuli panggul, bahkan pedagang dan musafir.

Karena merasa iba, Kapitan Gan Djie memikirkan bagaimana cara menolong dan membantu mereka. Awalnya, Kapitan Gan Djie iba dengan para sopir andong yang terllihat kelelahan dan haus di depan rumahnya. Istrinya lalu menyarankan untuk membantu mereka dengan memberikan teh gratis sebanyak delapan teko di depan rumahnya untuk masyarakat. 

Pada zaman itu, tradisi Patekoan sudah terkenal di berbagai kalangan di Glodok dari pejabat Belanda, pedagang, hingga anggota pemerintah. Lewat tradisi patekoan ini, Kapitan Gan Djie ingin menciptakan keharmonisan, solidaritas, dan menyatukan masyarakat dari semua suku dan budaya.

Setiap harinya, tradisi Patekoan menyajikan delapan teko berisi teh hijau penuh dari pukul 08.00 – 18.00 WIB. Dalam sehari, Pantjoran Tea House menyetok 2-3 kotak teh hijau dan mengisi teko hingga lima kali dalam sehari.

Sudah pernah ke tempat ini, Bela?

Baca Juga: 10 Tempat Makan di PIK untuk Keluarga yang Suasananya Homey Abis!

Baca Juga: Jaminan Enak & Cozy, Ini 8 Tempat Nongkrong Asyik di Jakarta Barat

Baca Juga: 10 Rekomendasi Toko Roti & Kue Paling Enak di Kelapa Gading