Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Wilsen Willim Bawa Tenun Nusantara ke Era Algoritma Modern
dok. Wilsen Willim
  • Wilsen Willim merayakan 10 tahun berkarya lewat koleksi couture 'Algorithm: Universal Language' yang memadukan wastra Nusantara, denim daur ulang, dan teknologi AI sebagai simbol harmoni tradisi dan inovasi.
  • Koleksi ini menampilkan 60 busana dengan gaya rebel berpadu elemen budaya Indonesia, menggunakan tenun dari berbagai daerah serta aksesori hasil kolaborasi brand lokal untuk memperkuat karakter modern-etnik.
  • Melalui penggunaan benang denim daur ulang dan dokumenter 'Reinventing Tenun: Journey to Algorithm', Wilsen mengangkat isu keberlanjutan sekaligus apresiasi terhadap penenun lokal dan pelestarian wastra Indonesia.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Di tengah industri fashion yang terus bergerak cepat, menghadirkan sesuatu yang benar-benar baru bukan hal mudah. Namun, Wilsen Willim membuktikan bahwa inovasi bisa lahir dari akar budaya.

Dalam perayaan 10 tahun perjalanan kariernya, desainer ini mempersembahkan "Algorithm: Universal Language", sebuah koleksi yang memadukan wastra Nusantara, benang denim daur ulang, hingga teknologi artificial intelligence (AI).

1. Terinspirasi dari Pembuatan Kain Tenun

dok. Wilsen Willim

Salah satu inspirasi utama dalam koleksi ini berasal dari cara kain tenun dibuat. Dalam proses menenun, terdapat dua elemen penting, yaitu benang lungsi dan benang pakan. Benang lungsi merupakan susunan benang yang dipasang memanjang pada alat tenun sebagai kerangka utama kain, sedangkan benang pakan adalah benang yang disisipkan secara melintang, melewati sela-sela benang lungsi secara berulang. Persilangan keduanya membentuk pola-pola yang tersusun rapi dan berulang, menciptakan motif tenun yang rumit sekaligus indah.

Bagi Wilsen Willim, susunan benang lungsi dan pakan tersebut merupakan representasi nyata dari sebuah algoritma. Konsep inilah yang kemudian diterjemahkan ke dalam seluruh aspek koleksi, mulai dari desain pakaian, motif batik tulis Cirebon yang dikembangkan khusus, hingga tata musik pertunjukan yang diciptakan melalui pembacaan pola tenun menggunakan teknologi artificial intelligence (AI).

2. Tema Algorithm: Universal Language

dok. Wilsen Willim

Bagi Wilsen, angka punya kekuatan yang melampaui bahasa. Siapa pun, dari negara mana pun, bisa memahami angka. Dari pemikiran sederhana itu lahirlah tema Algorithm: Universal Language.

Bersama kolaborator lamanya, Ican Harem, Wilsen mulai menggali tenun sampai ke akar proses pembuatannya. Di balik motif-motif yang rumit ternyata ada pola, susunan benang, dan repetisi yang membentuk sebuah algoritma. Sesuatu yang selama ini ada, tetapi jarang benar-benar diperhatikan.

3. Paduan Wastra dengan Sentuhan Rebel yang Berani

dok. Wilsen Willim

Sebanyak 60 tampilan pakaian pria dan wanita diperkenalkan sebagai koleksi couture pertama Wilsen Willim pada 8 Juli 2026 di Grand Ballroom Hotel Mulia Senayan.

Koleksi ini menghadirkan kemeja, jaket, celana, rok, korset, apron, bib, hingga kain jarik dengan dominasi warna biru denim yang dipadukan sentuhan emas, perak, perunggu, hitam, putih, abu-abu, dan biru elektrik.

Yang bikin makin standout, styling-nya menampilkan perpaduan gaya tradisional dengan nuansa rebel dan punk. Harness kulit, biker jacket, sabuk, hingga rok berpotongan tinggi dipadukan dengan siluet khas Wilsen yang tetap mempertahankan elemen budaya Indonesia. Detail aksesori juga dikerjakan bersama berbagai brand lokal seperti Subeng Klasik, Peau, dan Bocorocco.

4. Denim Daur Ulang Bertemu Kain Tenun

dok. Wilsen Willim

Kalau biasanya denim identik dengan streetwear, kali ini Wilsen membawa material tersebut ke level yang berbeda. Benang denim daur ulang hasil olahan Ecotouch dipadukan dengan berbagai kain tenun khas Indonesia.

Selain kembali menggunakan tenun sutra Garut yang pernah diolahnya pada 2023, koleksi ini juga menghadirkan Tenun Dayak Iban dari Kapuas Hulu, Songket Jembrana dari Bali, dan Songket Minang dari Halaban. Perpaduan ini menghasilkan tampilan yang unik sekaligus bentuk nyata dukungan terhadap para penenun lokal dan pelestarian wastra Indonesia.

5. Membawa Pesan Fashion yang Peduli Lingkungan dan Masa Depan

dok. Wilsen Willim

Di balik tampilannya yang mewah, koleksi ini membawa pesan penting soal sustainability. Penggunaan benang daur ulang bukan hanya membantu mengurangi limbah tekstil, tetapi juga menjadi solusi atas kelangkaan dan mahalnya harga benang yang sering menjadi tantangan bagi para penenun.

6. Kolaborasi AI yang Mengubah Motif Tenun Jadi Musik

dok. Wilsen Willim

Salah satu bagian paling menarik dari project ini adalah kolaborasi antara budaya dan teknologi. Bersama Ican Harem, motif-motif tenun dari empat daerah dipindai menggunakan kamera, lalu diterjemahkan menjadi pola algoritma dengan bantuan artificial intelligence (AI).

Data tersebut kemudian diolah menjadi komposisi musik yang mengisi seluruh fashion show. Setiap ketukan, tempo, hingga instrumen yang terdengar merupakan interpretasi digital dari pola tenun Nusantara.

7. Perjalanan Belum Berhenti di Atas Runway

dok. Wilsen Willim

Sehari setelah pertunjukan, Wilsen menggelar sesi Re-See di Rumah Heritage Menteng by Plataran agar para pecinta fashion bisa melihat lebih dekat detail setiap koleksi.

Tidak berhenti di situ, perjalanan Wilsen menjelajahi empat daerah penghasil tenun juga didokumentasikan dalam film dokumenter berjudul "Reinventing Tenun: Journey to Algorithm" yang dijadwalkan tayang perdana pada 21 Agustus 2026. Lewat dokumenter ini, publik diajak melihat langsung proses, cerita, dan perjuangan para penenun yang menjadi inspirasi koleksi.

Curated For You

Editorial Team

Related Article