Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
Install

UMARATU “Rumah Ibu Bumi”: Wujud 25 Tahun Dedikasi Oscar Lawalata Culture untuk Tenun Nusantara

UMARATU “Rumah Ibu Bumi”: Wujud 25 Tahun Dedikasi Oscar Lawalata Culture untuk Tenun Nusantara
UMARATU “Rumah Ibu Bumi” sebagai wujud 25 tahun dedikasi Oscar Lawalata Culture untuk tenun Nusantara. (Dok. UMARATU)
  • UMARATU Foundation diluncurkan Oscar Lawalata Culture di Jakarta pada 3 September 2026, menandai 25 tahun dedikasi merawat wastra Indonesia dan bertepatan dengan Hari Tenun Nasional.

  • Mengusung tema “Rumah Ibu Bumi”, UMARATU berfokus pada pelestarian budaya serta keberlanjutan perempuan penenun melalui tiga pilar: sandang, pangan, dan papan.

  • Perayaan menghadirkan musik, budaya, dan trunk show tenun Sumba dari Prailiu hingga Kaliuda untuk memperkenalkan kain, teknik, motif, serta cerita para penenun kepada publik.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Berbicara soal tenun, perhatian pun tertuju pada motif, warna, atau proses pembuatannya yang begitu detail. Namun, ada sosok yang membuat tradisi tersebut terus hidup dari generasi ke generasi, yaitu para perempuan penenun yang menghabiskan waktu dan ketekunannya di balik setiap helai kain.

Di tangan mereka, menenun menjadi bagian dari pengetahuan yang diwariskan turun-temurun. Setiap kain membawa cerita tentang tempat asal, tradisi, serta kehidupan masyarakat yang menjaganya.

Semangat untuk merawat cerita tersebut hadir melalui UMARATU Foundation. Berdiri di bawah naungan Oscar Lawalata Culture, UMARATU diperkenalkan sebagai sebuah ruang yang berfokus pada pelestarian budaya dan keberlanjutan kehidupan para penenun.

Mengambil tema "Rumah Ibu Bumi", UMARATU resmi diluncurkan dalam sebuah perayaan di The Dharmawangsa Jakarta pada 3 September 2026, bertepatan dengan momentum Hari Tenun Nasional. Kehadirannya sekaligus menjadi penanda 25 tahun perjalanan Oscar Lawalata Culture dalam mendalami dan merawat wastra Indonesia.

  1. Lahir dari perjalanan panjang merawat wastra Nusantara

    UMARATU
    UMARATU “Rumah Ibu Bumi” sebagai wujud 25 tahun dedikasi Oscar Lawalata Culture untuk tenun Nusantara. (Dok. UMARATU)

    Selama 25 tahun, Oscar Lawalata Culture telah menjadikan wastra Indonesia sebagai bagian dari perjalanan kreatif dan budayanya. Dari situlah, muncul pemahaman bahwa menjaga kain tradisional juga berarti menjaga ekosistem dan orang-orang yang membuatnya tetap hidup.

    UMARATU kemudian muncul untuk membawa perhatian tersebut ke ruang yang lebih luas. Perempuan penenun begitu diutamakan lantaran mereka memegang pengetahuan mengenai proses, teknik, hingga nilai budaya yang melekat pada kain tradisional.

    Bagi UMARATU, keberlanjutan tradisi membutuhkan tempat yang mampu mendukung para penenun sekaligus menjaga pengetahuan yang mereka wariskan. Hal ini dikarenakan kain yang sampai ke tangan kita memiliki cerita panjang yang dimulai jauh sebelum ia menjadi bagian dari busana.

  2. Bawakan tiga pilar utama dalam kehidupan

    UMARATU
    UMARATU “Rumah Ibu Bumi” sebagai wujud 25 tahun dedikasi Oscar Lawalata Culture untuk tenun Nusantara. (Dok. UMARATU)

    Nama "Rumah Ibu Bumi" menggambarkan gagasan UMARATU untuk merawat kehidupan yang berakar pada tradisi lokal. Gagasan tersebut diwujudkan melalui tiga pilar utama, yaitu sandang, pangan, dan papan.

    Ketiga pilar ini menjadi landasan dalam melihat budaya secara lebih menyeluruh. Sandang berkaitan dengan keberlangsungan kain tradisional dan ekosistem penenunnya, sementara pangan dan papan mengarah pada pengetahuan lokal yang juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

    Melalui pendekatan tersebut, UMARATU ingin menghadirkan manfaat yang berkelanjutan bagi para penenun. Mulai dari perlindungan ekosistem kain tradisional, penguatan ekonomi berbasis kebudayaan, hingga terciptanya ruang yang mendukung perempuan dalam mempertahankan keterampilan mereka.

  3. Perempuan penenun menjadi detak jantung di balik kainnya

    UMARATU
    UMARATU “Rumah Ibu Bumi” sebagai wujud 25 tahun dedikasi Oscar Lawalata Culture untuk tenun Nusantara. (Dok. UMARATU)

    Perhatian terhadap perempuan penenun menjadi semakin kuat dalam perjalanan UMARATU. Asha Smara Darra, Founder Oscar Lawalata Culture dan UMARATU Foundation, mengatakan bahwa 25 tahun perjalanannya mendalami wastra membuatnya semakin memahami peran besar para perempuan tersebut.

    “Tenun Indonesia bukan sekadar lembaran kain nan indah, melainkan naskah bisu yang menuturkan luhurnya peradaban Nusantara. Selama 25 tahun perjalanan saya menyelami pesona wastra, saya menyadari bahwa para perempuan penenun inilah napas dan detak jantung yang sesungguhnya dari setiap helai benang,” ujar Asha.

    UMARATU
    UMARATU “Rumah Ibu Bumi” sebagai wujud 25 tahun dedikasi Oscar Lawalata Culture untuk tenun Nusantara. (Dok. UMARATU)

    Bagi Asha, pengalaman tersebut kemudian melahirkan keinginan untuk membangun sebuah ruang yang dapat memeluk ekosistem budaya secara lebih utuh.

    “UMARATU ‘Rumah Ibu Bumi’ lahir dari kerinduan spiritual untuk memeluk erat ekosistem ini, menyediakan ruang teduh, di mana sandang, pangan, dan papan dapat kembali berakar pada tradisi leluhur,” jelasnya.

    Ia juga melihat UMARATU sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan yang selama ini menjaga pengetahuan budaya melalui tangan mereka.

    “Ini adalah manifestasi cinta, sebuah bentuk penghormatan tertinggi bagi para ibu bumi, sang penjaga gawang ingatan bangsa,” lanjut Asha.

  4. From East Sumba to Jakarta

    UMARATU
    UMARATU “Rumah Ibu Bumi” sebagai wujud 25 tahun dedikasi Oscar Lawalata Culture untuk tenun Nusantara. (Dok. UMARATU)

    Perayaan UMARATU di The Dharmawangsa Jakarta juga menjadi kesempatan untuk membawa cerita tentang tenun Sumba Timur lebih dekat kepada publik. Acara tersebut memadukan unsur mode, musik, dan budaya dalam satu rangkaian yang menggambarkan kekayaan tradisi Sumba.

    Nuansa Sumba turut terasa melalui persembahan alunan musik dari Maestro Jungga, Mama Ata Ratu. Selain itu, UMARATU memaparkan visi, misi, serta komitmennya dalam merawat ekosistem budaya Sumba.

    Cerita tersebut kemudian diteruskan melalui trunk show bertajuk "Narasi Kain Tenun dari Kampung Raja". Kain-kain yang ditampilkan menjadi bagian dari upaya untuk memperkenalkan kekayaan wastra Sumba sekaligus cerita yang berada di balik proses pembuatannya.

  5. Hadirkan kain dari Prailiu hingga Kaliuda

    UMARATU
    UMARATU “Rumah Ibu Bumi” sebagai wujud 25 tahun dedikasi Oscar Lawalata Culture untuk tenun Nusantara. (Dok. UMARATU)

    Trunk show UMARATU menampilkan kain tenun dari sejumlah wilayah di Sumba, mulai dari Kampung Raja Prailiu, Pau, Rende, Kampung Adat Kanatang, hingga Kaliuda.

    Masing-masing wilayah memiliki karakter kain dan tradisi yang berbeda. Di dalam proses pembuatannya tersimpan pengetahuan mengenai teknik menenun, motif, serta nilai budaya yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

    Lewat pameran dan presentasi tersebut, UMARATU memberikan ruang bagi kain tradisional untuk dikenal dalam konteks yang lebih luas. Mode menjadi salah satu cara untuk mempertemukan karya para penenun dengan masyarakat sekaligus memperkenalkan cerita budaya yang berada di balik setiap kain.

  6. Menjadikan Hari Tenun Nasional sebagai momentum refleksi

    UMARATU
    UMARATU “Rumah Ibu Bumi” sebagai wujud 25 tahun dedikasi Oscar Lawalata Culture untuk tenun Nusantara. (Dok. UMARATU)

    Hadirnya UMARATU bertepatan dengan Hari Tenun Nasional menjadi momentum untuk kembali melihat bagaimana tradisi dapat terus dirawat di tengah perkembangan zaman.

    UMARATU percaya kalau keberlanjutan tenun berkaitan erat dengan keberadaan para penenun, ekosistem budaya, serta pengetahuan yang selama ini mereka jaga. Oleh karena itu, pelestarian membutuhkan ruang yang dapat mendukung kehidupan para pelaku tradisi sekaligus menjaga nilai budaya yang melekat pada karya mereka.

    Melalui “Rumah Ibu Bumi”, UMARATU Foundation membawa semangat untuk terus merawat hubungan antara manusia, tradisi, dan lingkungan. Perjalanan 25 tahun Oscar Lawalata Culture pun mendapatkan ruang baru untuk diteruskan melalui upaya yang lebih terarah dalam menjaga wastra dan kehidupan budaya Nusantara.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More