Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
Install

Sewindu Tobatenun, TULLOM Hadirkan Wajah Baru Tenun Batak untuk Terus Melangkah

4 min read
Sewindu Tobatenun, TULLOM Hadirkan Wajah Baru Tenun Batak untuk Terus Melangkah
Sewindu Tobatenun, TULLOM hadirkan wajah baru Tenun Batak. (Dok. Tobatenun)
  • Tobatenun merayakan delapan tahun melalui TULLOM, yang berarti "terus", sebagai ruang menampilkan perkembangan Tenun Batak dalam fashion kontemporer sambil mempertahankan identitas budayanya.

  • Koleksi ulang tahun mencakup busana pria dan wanita berbahan tenun ATBM dari perajin Pematangsiantar, serta pengembangan Tenun Songket Batak Kreasi Partonun bersama Jabu Bonang.

  • TULLOM turut menampilkan kolaborasi ketiga dengan AMOTSYAMSURIMUDA dan koleksi "Sang Penari" karya Peggy Hartanto, yang mengolah Tenun Batak serta Ulos Sadum dalam siluet kontemporer.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Delapan tahun tentu menjadi waktu yang cukup panjang untuk sebuah perjalanan kreatif. Bagi Tobatenun, angka tersebut justru menjadi momen untuk melihat kembali bagaimana Tenun Batak terus tumbuh, sekaligus membuka ruang untuk berbagai kemungkinan baru di dunia fashion.

Semangat tersebut hadir dalam TULLOM, perhelatan intim yang digelar Tobatenun untuk menandai perjalanan sewindunya. Mengambil nama dari bahasa Batak Toba yang berarti "terus", TULLOM membawa pesan tentang langkah yang senantiasa bergerak, berkembang, dan menemukan bentuk baru.

Dalam perhelatan ini, Tobatenun mempertemukan sejumlah karya yang merepresentasikan perjalanan dan kolaborasinya selama ini. Mulai dari koleksi spesial ulang tahun ke-8, pengembangan Tenun Songket Batak dari Jabu Bonang, kolaborasi bersama AMOTSYAMSURIMUDA, hingga interpretasi terbaru Peggy Hartanto terhadap Tenun Batak.

  1. TULLOM, tentang perjalanan yang terus berlanjut

    Tobatenun TULLOM
    Sewindu Tobatenun, TULLOM hadirkan wajah baru Tenun Batak. (Dok. Tobatenun)

    Kata "tullom" dalam bahasa Batak Toba memiliki arti terus. Makna tersebut menjadi benang merah dalam perayaan delapan tahun Tobatenun, yang menggambarkan semangat untuk terus melangkah dan membawa Tenun Batak ke berbagai ruang baru.

    Pemilihan angka delapan juga terasa relevan dengan semangat tersebut. Bentuknya yang menyerupai simbol infinity atau tak terhingga menjadi representasi perjalanan yang terus bergerak. Tobatenun percaya kalau tradisi memiliki ruang untuk berkembang mengikuti zaman, sekaligus tetap membawa identitas yang melekat di dalamnya.

    Melalui TULLOM, semangat tersebut diterjemahkan lewat koleksi, kolaborasi, dan eksplorasi kreatif yang memperlihatkan beragam cara memandang Tenun Batak dalam konteks fashion masa kini.

  2. Koleksi spesial 8 tahun Tobatenun

    Tobatenun TULLOM
    Sewindu Tobatenun, TULLOM hadirkan wajah baru Tenun Batak. (Dok. Tobatenun)

    Merayakan perjalanan delapan tahun, Tobatenun turut menghadirkan koleksi spesial yang terdiri dari busana laki-laki dan perempuan. Koleksi ini mengembangkan sejumlah siluet yang sebelumnya telah menjadi karakter khas Tobatenun.

    Pilihan busananya cukup beragam, mulai dari luaran, kemeja, hingga gaun. Seluruhnya menggunakan Tenun kontemporer yang dibuat menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin atau ATBM oleh para perajin Tenun di Pematangsiantar.

    Pengembangan kain tersebut turut melibatkan Yayasan Rumah Komunitas Wastra atau Jabu Bonang, organisasi nirlaba yang menjadi mitra Tobatenun dalam pelestarian sekaligus pengembangan wastra.

  3. Mengenal Tenun Songket Batak dari Jabu Bonang

    Tobatenun TULLOM
    Sewindu Tobatenun, TULLOM hadirkan wajah baru Tenun Batak. (Dok. Tobatenun)

    TULLOM juga menghadirkan hasil pengembangan Jabu Bonang berupa Tenun Songket Batak Kreasi Partonun. Karya ini sebelumnya telah diperkenalkan dalam gelaran Indonesia Fashion Week 2026.

    Koleksinya melibatkan para partonun atau perajin tenun dari sejumlah wilayah, mulai dari Pulau Samosir, Tarutung, hingga Labuhanbatu. Setiap daerah memiliki karakter dan teknik pengolahan kain yang turut memperkaya keragaman Tenun Songket Batak.

    Kehadiran para partonun menjadi bagian penting dalam perjalanan wastra. Di balik setiap lembaran kainnya, terdapat keterampilan yang diwariskan dan terus dikembangkan oleh para perajin dari generasi ke generasi.

  4. Kolaborasi ketiga Tobatenun dan AMOTSYAMSURIMUDA

    Tobatenun TULLOM
    Sewindu Tobatenun, TULLOM hadirkan wajah baru Tenun Batak. (Dok. Tobatenun)

    Nama lain yang hadir dalam TULLOM adalah AMOTSYAMSURIMUDA melalui kolaborasi terbaru bertajuk Heirloom Fantasy. Koleksi tersebut sebelumnya telah dipresentasikan dalam JF3 2026 dan menjadi kolaborasi ketiga antara Tobatenun dan sang desainer.

    AMOTSYAMSURIMUDA dikenal lewat rancangan busana pria dengan konstruksi yang unik dan ringkas. Karakter tersebut membuat busananya digunakan untuk berbagai kesempatan, bentuk tubuh, dan kelompok usia. Beberapa rancangannya bahkan kerap dikenakan oleh perempuan.

    Dalam kolaborasi ini, pendekatan khas sang desainer bertemu dengan karakter Tenun Batak, sehingga menghasilkan perspektif baru kain tradisional yang dapat masuk ke dalam rancangan dengan konstruksi kontemporer.

  5. Peggy Hartanto hadirkan interpretasi baru untuk Tenun Batak

    Tobatenun TULLOM
    Sewindu Tobatenun, TULLOM hadirkan wajah baru Tenun Batak. (Dok. Tobatenun)

    Salah satu sorotan utama dalam TULLOM adalah karya Peggy Hartanto yang mengeksplorasi Tenun Batak. Koleksi bertajuk Sang Penari ini menjadi koleksi wastra pertama dari sang desainer.

    Pertemuan Peggy Hartanto dengan Tenun Batak dari Tobatenun bermula dari sebuah dialog kreatif yang diinisiasi Harper's Bazaar Indonesia dalam gelaran Karya Kreatif Indonesia yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia. Dari proses tersebut, Peggy menerjemahkan karakter Tenun Batak melalui permainan bentuk, potongan yang presisi, serta siluet feminin yang menjadi bagian dari identitas desainnya.

    Tenun ATBM kemudian diolah menjadi busana dengan tampilan yang relevan untuk kehidupan masa kini. Sementara itu, Tenun Batak Gedogan yang memiliki nilai sejarah mendapatkan pendekatan baru dengan tetap mempertahankan identitas serta nilai yang terkandung di dalamnya.

    Tobatenun TULLOM
    Sewindu Tobatenun, TULLOM hadirkan wajah baru Tenun Batak. (Dok. Tobatenun)

    Salah satu karya yang menarik perhatian dari koleksi Sang Penari adalah apron vest yang dibuat menggunakan Ulos Sadum. Kain tersebut memiliki makna simbolis yang berkaitan dengan harapan dan kebahagiaan.

    Peggy mengolah Ulos Sadum ke dalam bentuk apron vest dengan potongan tepian yang membulat. Detail tersebut menghasilkan siluet yang terasa fresh dan playful, sekaligus memberikan karakter baru pada kain yang memiliki sejarah dan makna budaya kuat.

    Eksplorasi ini memperlihatkan bagaimana sebuah kain tradisional dapat mengalami transformasi bentuk tanpa kehilangan cerita yang melekat di dalamnya.

    Melalui TULLOM, Tobatenun tidak hanya menandai perjalanan selama delapan tahun, tetapi juga menegaskan sebuah gerak yang terus berlangsung. Sebuah perjalanan untuk membawa Tenun Batak memasuki ruang-ruang baru, berdialog dengan berbagai pendekatan kreatif, serta terus menemukan relevansinya dari waktu ke waktu.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More