Tobatenun Hadirkan Konsep Baru Pakaian Raya Berbasis Warisan Tenun
- Kolaborasi Multi Perspektif dari Berbagai Desainer IndonesiaRAYA mempertemukan berbagai karakter desain dalam satu panggung, seperti Itang Yunasz, fbudi, dan Glashka.
- Abit Godang sebagai Highlight Wastra HistorisHighlight utama RAYA adalah Abit Godang atau Abit Sadum Angkola, tenun bersejarah dari Tapanuli Selatan dengan teknik kompleks.
- Interpretasi Modern Tanpa Menghilangkan Akar BudayaKoleksi dalam RAYA menunjukkan bagaimana tenun tradisional bisa diterjemahkan ke dalam siluet modern tanpa kehilangan nilai historisnya.
RAYA, Kolaborasi Wastra Ramadan yang Mempertemukan Tradisi dan Gaya Modern
Kata Pengantar
Menyambut Ramadan dan Idul Fitri, Tobatenun kembali menghadirkan presentasi kolaboratif RAYA sebagai ruang pertemuan antara tradisi tenun, desain kontemporer, dan cerita budaya yang terus berkembang. Tahun ini, presentasi digelar di Sopo Del Tower, menghadirkan konsep yang tidak hanya menampilkan pakaian, tapi juga perjalanan nilai budaya, kriya, dan komunitas.
Lewat RAYA, tenun tidak hanya dilihat sebagai material, tapi sebagai medium cerita—tentang identitas, warisan, dan bagaimana tradisi bisa terus hidup lewat interpretasi modern.
1. Kolaborasi Multi Perspektif dari Berbagai Desainer Indonesia
RAYA mempertemukan berbagai karakter desain dalam satu panggung. Itang Yunasz menghadirkan interpretasi tenun Batak ke dalam modest wear hingga pakaian ready to wear laki-laki dan perempuan. Sementara fbudi membawa konseptual demi-couture. Di sisi lain, Glashka menampilkan pakaian feminin dengan detail bordir tangan yang halus.
2. Abit Godang sebagai Highlight Wastra Historis
Salah satu highlight utama RAYA adalah Abit Godang atau Abit Sadum Angkola, tenun bersejarah dari Tapanuli Selatan. Tenun ini dibuat dengan teknik kompleks seperti pakan ganda (songket/jungkit), teknik marsimata (penyisipan manik saat menenun), serta sulam bonggit lilit yang memberi tekstur khas. Secara visual, motif geometris repetitifnya terinspirasi dari filosofi arabesque dan memiliki makna sosial serta identitas budaya yang kuat.
3. Interpretasi Modern Tanpa Menghilangkan Akar Budaya
Koleksi dalam RAYA memperlihatkan bagaimana tenun tradisional bisa diterjemahkan ke dalam siluet modern—mulai dari demi couture, modest wear, hingga daily wear. Hal ini menunjukkan bahwa wastra tidak harus eksklusif untuk acara adat, tapi bisa menjadi bagian dari wardrobe modern tanpa kehilangan nilai historisnya.
4. Wastra sebagai Medium Cerita tentang Kebersamaan
Banyak koleksi dalam RAYA membawa narasi tentang pulang, keluarga, dan koneksi antar generasi, tema yang terasa dekat dengan makna Ramadan. Di sini, tenun menjadi medium storytelling yang mempertemukan masa lalu dan masa kini dalam satu bahasa visual yang mudah diterima generasi sekarang.
5. Wearable Lewat Brand Kontemporer
Untuk sisi yang lebih daily dan wearable, Shawl & Co menghadirkan pakaian dengan aplikasi tenun yang subtle dan mudah dipadupadankan. Sementara AMOTSYAMSURIMUDA menghadirkan koleksi laki-laki dengan warna vibrant dan semangat perayaan yang kuat, tapi tetap modern.
6. Misi Sosial dan Pemberdayaan Artisan Lokal
Sebagai social enterprise, Tobatenun juga berfokus pada pemberdayaan artisan. Ratusan penenun di Sumatera Utara terlibat dalam ekosistem produksi dengan fair trade dan pembinaan berkelanjutan. Selain itu, pengembangan pewarna alami berbasis tanaman lokal juga menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan antara pelestarian budaya dan keberlanjutan lingkungan.


















