Ada beberapa faktor yang mempengaruhi ketika seorang desainer diminta untuk berkolaborasi dengan sebuah brand besar. Pertama, exposure yang luas (sangat menguntungkan bagi desainer yang terhitung baby). Kedua, kemungkinan cepat laku karena desain yang komersil. Ketiga, karya yang biasanya "terdikte" supaya nyerempet dengan si sponsor. Faktor pertama dan kedua, sah kok. Yang kadang bikin bete adalah kalau kamu (true fashionista) harus membeli baju yang ada embel-embel branding dari sponsor brand - of course, rule ini enggak berlaku buat "influencers" yang wajib posting karena dibayar. Namun untungnya, koleksi MORAL terbaru yang malam ini dikemas dalam bentuk fashion presentation tampil cukup halus dalam mensiasatinya.

Sejarah Baru dan Formula Lawas dari MORALFoto: Michael Richards

 

Ada alasan kenapa saya berkata seperti ini. Tentu saja, secara personal, saya sangat menantikan karya terbaru dari Andandika Surasetja, founder sekaligus creative director dari MORAL. Sudut pandang Andandika terbilang menarik. Sedikit berfilosi. Realistis. Kekinian. Koleksi keduanya yang bertajuk Soar to The Other Shore masih saya ingat jelas - which is my favorite. Jaket bomber bernuansa gelap dan berbagai atasan berdetail fotografi lautan penuh misteri tampil lebih kuat ketimbang dengan apa yang saya lihat malam ini. Koleksi hasil kolaborasi dengan Generation-G bertajuk New History ini tampak menjadi seri lanjutan yang hadir dengan formula lawas - yang sayangnya kali ini buat saya terlihat weak di elemen utamanya. Yaitu pada aplikasi photo patch-nya. Hasil jepretan sang desainer yang ditempel pada t-shirt dan sweatshirt kurang bold. Padahal inilah sentuhan khas MORAL yang bikin unik dan harus dipertahankan.

Sejarah Baru dan Formula Lawas dari MORALFoto: Michael Richards

 

Disisi lain, koleksi yang berpegang pada pilar utama: seni, musik, fashion, dan travel ini, punya sesuatu yang trending! Pertama, t-shirt slogan yang kece - youth knows no pain, leather goods pada clutch dan tote bag (pas banget untuk cowok zaman sekarang), jaket bomber yang lebih boxy dan puffy, parka dengan detachable hoodie, serta sweatshirt velcro tapes yang brilian - bertuliskan: young, wild, free. Konsep ini keren. Kalau bisa konsisten, saya percaya one day MORAL bisa head-to-head dengan Danjyo Hiyoji yang senior perihal gaya street - note: sebelum MORAL, Generation-G memang berkolaborasi dengan duo desainer Dana Maulana dan Liza Mashita dari Danjyo Hiyoji.

Sejarah Baru dan Formula Lawas dari MORALFoto: Michael Richards

 

Apa yang ditampilkan oleh MORAL sejauh ini punya karakter. Brand yang dibangun oleh para anak muda ini masih memiliki banyak kesempatan untuk bereksplorasi demi mengukir sejarah baru. Overall, kolesi kapsul 2017 ini tetap fun. Cuma saya berharap: semoga di kesempatan mendatang, saya bisa merasakan energi kebebasan yang malam ini terbatas.

Sejarah Baru dan Formula Lawas dari MORALFoto: Michael Richards
 
Sejarah Baru dan Formula Lawas dari MORALFoto: Michael Richards
 
Sejarah Baru dan Formula Lawas dari MORALFoto: Michael Richards

 

BACA JUGA: Perjalanan Karir Rinaldy Yunardi Hingga Bisa Tembus Met Gala