Pesan Inspiratif dari Pembicara Hari Ketiga BFA Surabaya 2026, Bahas Peluang Bisnis Fashion Tradisional di Era Modern

Gusti Ian menyarankan pemula memilih kebaya polos, menyesuaikan model dengan karakter, serta memadukannya dengan koleksi pakaian yang sudah dimiliki untuk gaya fleksibel.
Dalam membangun bisnis, viralitas perlu dimanfaatkan untuk branding dan loyalitas pelanggan, tanpa terjebak tren cepat; identitas brand yang konsisten tetap harus dijaga.
Kebaya dapat terus diminati generasi muda melalui inovasi bahan dan desain yang lebih praktis, sehingga bisnis fashion tradisional sekaligus mendukung pelestarian budaya.
Industri kreatif membuka peluang bagi siapa saja untuk mengembangkan keterampilan dan minat menjadi sebuah bisnis yang bernilai. Namun, membangun usaha tidak cukup hanya dengan menghadirkan produk menarik atau mengikuti tren yang sedang populer, tetapi juga membutuhkan identitas, konsistensi, dan keberanian untuk terus berinovasi.
Hal tersebut menjadi salah satu pesan inspiratif yang dibagikan Gusti Ian, owner Kebaya Mbok Dhe sekaligus UMKM Binaan Amartha, dalam talkshow bertajuk Your Skills, Your Story, Your Business di DAY 3 BeautyFest Asia Surabaya 2026 pada Minggu (1/11/2026), bertempat di Convention Hall, Tunjungan Plaza 3, Surabaya. Penasaran dengan berbagai pelajaran yang dibagikan Gusti Ian tentang membangun bisnis, menghadapi perubahan tren, hingga menjaga eksistensi kebaya di tengah perkembangan zaman? Simak selengkapnya berikut ini, Bela!
1. Memulai dengan kebaya polos agar mudah dipadupadankan

IDN Bagi yang baru ingin mencoba mengenakan kebaya, Gusti Ian menyarankan untuk memulainya dengan memilih model dan warna yang sederhana. Kebaya polos bisa menjadi pilihan karena lebih mudah dipadukan dengan berbagai jenis bawahan maupun aksesori.
Dengan begitu, satu kebaya tidak hanya digunakan untuk satu penampilan, tetapi dapat dikreasikan menjadi beberapa gaya berbeda.
"Kalau kebaya itu, untuk mencoba pertama kali, lebih baik pilih warna yang polos-polos. Jadi kita bisa, satu kebaya itu bisa kita buat untuk beberapa kali," ujar Gusti Ian.
Tips ini juga bisa menjadi langkah awal bagi siapa saja yang ingin mulai mengoleksi kebaya tanpa harus membeli banyak model sekaligus. Pilihan warna netral atau polos memberikan keleluasaan untuk bereksperimen dengan padu padan yang berbeda.
2. Memilih model kebaya sesuai dengan karakter personal

IDN Selain warna, pemilihan model kebaya juga sebaiknya disesuaikan dengan karakter dan selera masing-masing. Setiap jenis kebaya memiliki ciri khas tersendiri sehingga dapat memberikan kesan yang berbeda ketika dikenakan. Salah satu pilihan yang diperkenalkan Gusti Ian adalah kebaya encim yang identik dengan warna-warna cerah dan pengaruh budaya Peranakan.
"Misalnya suka encim, coba beli encim satu. Itu nanti kita bisa padupadankan, karena encim itu biasanya warnanya cerah-cerah. Karena itu kan istilahnya kebaya peranakan," jelasnya.
Kebaya encim dapat menjadi pilihan bagi pencinta busana dengan tampilan cerah dan karakter yang lebih ekspresif. Dengan mengenali model yang disukai, seseorang bisa lebih mudah menentukan gaya kebaya yang terasa nyaman dan sesuai dengan kepribadiannya.
3. Memadukan kebaya tradisional dengan beragam bawahan

IDN Kebaya juga memiliki banyak kemungkinan padu padan, termasuk dengan bawahan tradisional seperti jarik, kain sogan, maupun lurik. Gusti Ian mencontohkan kebaya kutubaru yang dapat dikenakan bersama bawahan bernuansa cokelat untuk menghasilkan tampilan klasik yang anggun.
"Ini bisa pakai jarik, jarik bawahnya bisa pakai yang warna-warna cokelat-cokelat, sogan-sogan. Kayak gitu itu bagus. Mau pakai cokelat-cokelat boleh, mau pakai lurik juga enggak apa-apa," tuturnya.
Perpaduan tersebut menunjukkan bahwa mengenakan kebaya tidak harus selalu mengikuti satu aturan gaya tertentu. Pemilihan warna dan motif bawahan dapat disesuaikan untuk menciptakan penampilan yang tetap harmonis sekaligus mencerminkan selera personal.
4. Memanfaatkan pakaian yang sudah dimiliki untuk mix and match

IDN Untuk mulai mengenakan kebaya, seseorang tidak harus langsung membeli satu set busana lengkap. Gusti Ian menyarankan agar cukup memulai dengan satu kebaya, kemudian mencoba memadukannya bersama pakaian yang sudah tersedia di rumah.
"Jadi saran saya beli satu dulu, dicoba dulu. Mix and match dengan apa yang dipunya di rumah, udah itu," ungkapnya.
Cara ini dapat membantu menghemat pengeluaran sekaligus memberikan kesempatan untuk mengeksplorasi berbagai gaya. Kebaya bisa dipadukan dengan koleksi bawahan yang sudah dimiliki, sehingga tampilannya terasa lebih variatif dan tidak monoton.
5. Memanfaatkan viralitas untuk membangun branding dan loyalitas pelanggan

IDN Di era media sosial, viralitas dapat menjadi kesempatan bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan produknya kepada masyarakat yang lebih luas. Ketika sebuah produk ramai diperbincangkan, semakin banyak orang berkesempatan mengenal nama dan karakter sebuah brand.
Namun, Gusti Ian mengingatkan bahwa mendapatkan perhatian publik bukanlah akhir dari perjalanan bisnis. Tantangan berikutnya adalah mempertahankan hubungan dengan pelanggan agar mereka tidak hanya datang karena produk sedang viral, tetapi juga tertarik untuk melakukan pembelian kembali.
"Sebetulnya viral tuh bagus ya untuk branding. Tapi gimana caranya kita untuk menjaga brand kita itu harus tetap diingat dan pelanggan itu harus tetap kembali ke kita," ujarnya.
Dengan demikian, viralitas sebaiknya dimanfaatkan sebagai sarana memperluas pengenalan brand. Setelah berhasil menarik perhatian calon pelanggan, pelaku usaha perlu membangun kepercayaan agar konsumen memiliki alasan untuk kembali.
6. Tidak terjebak mengikuti tren fashion yang terus berganti

IDN Salah satu tantangan dalam industri fashion adalah perubahan tren yang berlangsung cukup cepat. Produk yang sedang populer bulan ini belum tentu masih diminati beberapa bulan berikutnya. Kondisi tersebut dapat menjadi tantangan bagi pelaku usaha yang terus berusaha mengikuti setiap tren tanpa mempertimbangkan arah bisnisnya.
Gusti Ian menggambarkan bahwa tren viral biasanya memiliki masa popularitas yang terbatas. Jika semua tren terus diikuti, pelaku usaha justru bisa kesulitan menentukan fokus pengembangan produk.
"Jadi kalau tren viral, viral itu kan kayak fashion itu kan sebulan dua bulan kan pasti ganti. Ganti lagi. Nah, bulan ini, bulan ini, bulan ini. Kalau ini ikutin gitu terus lah, gimana? Pusing tuh kepala," ungkapnya.
Karena itu, pelaku usaha perlu lebih selektif dalam melihat perkembangan tren. Memahami perubahan selera pasar memang penting, tetapi keputusan bisnis sebaiknya tetap mempertimbangkan karakter produk dan kebutuhan pelanggan.
7. Menjaga konsistensi identitas agar brand mudah dikenali

IDN Di tengah persaingan bisnis yang semakin beragam, memiliki identitas brand yang jelas menjadi salah satu hal penting. Identitas tersebut dapat tercermin melalui karakter produk, konsep desain, hingga nilai yang ingin disampaikan kepada pelanggan.
Gusti Ian menekankan bahwa konsistensi diperlukan agar sebuah brand tetap memiliki ciri khas dan tidak kehilangan arah meskipun tren terus berubah.
"Jadi gimana kita ini konsisten untuk identitasnya tuh apa? Itu tuh harus ya. Konsistensi itu harus," jelasnya.
Pesan ini mengingatkan bahwa pelaku usaha perlu memahami karakter utama yang ingin dipertahankan. Inovasi memang penting, tetapi pengembangan produk sebaiknya tetap memiliki benang merah dengan identitas brand yang sudah dibangun.
8. Menghadirkan inovasi melalui eksplorasi bahan dan desain

IDN Menjaga konsistensi bukan berarti membatasi kreativitas. Justru, inovasi diperlukan agar produk tetap menarik dan memiliki variasi yang dapat menjawab kebutuhan pelanggan. Dalam industri fashion, hal tersebut bisa dilakukan melalui eksplorasi bahan, detail, desain, maupun perpaduan elemen yang berbeda.
Gusti Ian memberikan contoh inovasi melalui perpaduan kebaya dengan kebaya tim sebagai elemen border. Kombinasi tersebut menjadi salah satu cara untuk menghadirkan kreasi baru tanpa harus meninggalkan karakter dasar kebaya.
"Terus kemudian jangan lupa untuk berinovasi. Jadi misalnya gini, ah kok kebaya ini, ini, ini tuh ya tak apa. Nah, gitu kan. Oh, mungkin aku bisa memadukannya dengan kebaya tim. Jadi kebaya itu baru tak mix dengan kebaya tim," jelas Gusti Ian.
Dari contoh tersebut, terlihat bahwa inovasi tidak selalu harus dimulai dengan menciptakan produk yang sepenuhnya baru. Mengolah kembali bahan dan desain yang sudah ada juga bisa menghasilkan tampilan berbeda.
9. Membuat kebaya lebih relevan agar tetap diminati generasi muda

IDN Salah satu tantangan dalam mempertahankan eksistensi busana tradisional adalah membuatnya tetap dekat dengan kehidupan generasi muda. Selama ini, kebaya sering kali identik dengan acara formal atau kegiatan adat. Padahal, melalui pengembangan desain yang lebih praktis, kebaya memiliki potensi untuk dikenakan dalam berbagai kesempatan.
Gusti Ian mencontohkan pengembangan kebaya janggan yang biasanya identik dengan model lengan panjang. Model tersebut kemudian dibuat dalam versi tanpa lengan agar lebih fleksibel dan mudah dipadukan dengan celana panjang.
"Kebaya janggan kan terbiasa dengan lengannya panjang. Itu kita bikin yang tanpa lengan. Jadi bisa tetap jalan ke mana-mana, gitu tetap bisa pakai. Dengan pakai celana panjang, pakai celana keluar, bisa," tuturnya.
Lebih dari sekadar menghadirkan model baru, upaya tersebut juga berkaitan dengan harapan agar kebaya semakin dikenal oleh generasi muda. Gusti Ian mengungkapkan keinginannya agar anak-anak muda turut melihat dan mengenal busana tradisional ini.
"Terus kemudian untuk gimana caranya ini tetap bertahan, ya. Itu pengen anak-anak muda itu juga bisa ngelihat ini," ungkapnya.
Melalui pengembangan desain yang lebih fleksibel dan pendekatan yang sesuai dengan perkembangan zaman, kebaya diharapkan tidak hanya menjadi bagian dari sejarah, tetapi juga terus hadir dalam kehidupan sehari-hari. Dengan begitu, bisnis fashion tradisional dapat berkembang sekaligus mengambil peran dalam menjaga warisan budaya Indonesia.

IDN Melalui talkshow Your Skills, Your Story, Your Business di DAY 3 BeautyFest Asia Surabaya 2026, Gusti Ian membagikan berbagai pelajaran tentang kreativitas, strategi bisnis, dan keberlanjutan usaha. Mulai dari memahami karakter produk, menjaga pelanggan, hingga berani berinovasi menjadi hal penting dalam perjalanan sebuah brand.
Kisah Kebaya Mbok Dhe juga memperlihatkan bahwa bisnis dan pelestarian budaya dapat berjalan beriringan. Sebab, bisnis yang berkelanjutan bukan hanya tentang bertahan di tengah persaingan, tetapi juga tentang menjaga nilai dan cerita yang ingin diwariskan.




















