Isu kesetaraan gender belum habis untuk dibahas, terutama tentang kesenjangan, subordinasi dan pelecehan yang dialami perempuan di tempat kerjanya. Masalah yang dialami perempuan di dunia kerja merupakan fenomena gunung es, puncaknya saja yang menjadi perhatian. Itu pun jika ada korban yang melaporkan. Mayoritas perempuan yang mendapatkan perlakuan tidak baik di kantor atau tempat kerjanya enggan melapor karena selalu menjadi pihak yang disalahkan atau dimintai keikhlasannya untuk menerima semuanya tanpa protes. 

 

1. Suara Perempuan di Dunia Kerja, Sudahkah Didengar?


Proses melahirkan yang cukup menyakitkan dan keinginan untuk bisa lebih dekat dengan buah hati harus pupus karena terlalu sedikitnya masa cuti yang diberikan. Tuntutan kerja membuat perempuan kehilangan hak-haknya untuk beristirahat dengan baik dan melakukan perawatan intensif pada bayinya di usia yang sangat dini.

 

2. Suara Perempuan di Dunia Kerja, Sudahkah Didengar?


Tidak sedikit perempuan yang mengalami rasa sakit hebat di hari-hari awal masa menstruasinya. Pihak kantor tetap mengharuskan para perempuan masuk kerja atau boleh izin dengan syarat ada surat dokter. Jika ini merupakan siklus yang rutin untuk beberapa perempuan, surat dokter cukup merepotkan karena biaya untuk periksa saja sudah mahal. Perempuan pun biasanya sudah punya treatment sendiri tanpa harus ke dokter untuk mengatasinya.

 

3. Suara Perempuan di Dunia Kerja, Sudahkah Didengar?


Perempuan dengan posisi yang sama cenderung digaji lebih rendah dibandingkan laki-laki. Ini berakar dari stereotip tradisional yang mendikte perempuan untuk tetap di rumah dan mengurus keluarga, bukannya bekerja. Perempuan dianggap tak sekompeten laki-laki dalam bekerja. Padahal, anggapan ini salah sama sekali. Perempuan dan laki-laki memiliki produktivitas dan kemampuan yang sama. Lalu mengapa harus ada ketidakdilan ini?

 

4. Suara Perempuan di Dunia Kerja, Sudahkah Didengar?


Ketika sebuah pelecehan seksual terjadi, entah itu lewat tindakan atau kata-kata, pakaian dan penampilan perempuan selalu disalahkan. Tapi cara laki-laki untuk mengekang nafsunya tak pernah dipertanyakan. Apakah semua yang berkaitan dengan pelecehan memang salah perempuan? Ini merupakan hasil pemikiran diskriminatif yang melihat perempuan sebagai objek seksual, bukan sebagai manusia yang memiliki martabat sejajar dengan laki-laki. 

 

Walau zaman sudah berubah, diskriminasi terhadap perempuan di tempat kerja masih marak terjadi. Entah itu dalam bentuk kesenjangan gaji, pemberian hak-hak istimewa, dan pelecehan. Belum lagi wanita masih harus dihadapkan dengan kompetisi yang tidak adil dengan para lelaki. Wanita tak dipercaya untuk memegang posisi penting dan ide-ide mereka sering dikesampingkan begitu saja. Suara-suara perempuan terus diredam, haruskah kita tetap tinggal diam?