Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
For
You

Arti dan Dampak Quiet Quitting, Saat Karyawan Memilih Cukup Tanpa Harus Resign

Arti dan Dampak Quiet Quitting, Saat Karyawan Memilih Cukup Tanpa Harus Resign
freepik.com/tirachardz
Intinya Sih
5W1H
  • Quiet quitting adalah sikap bekerja sesuai tanggung jawab tanpa mengambil tugas tambahan, muncul sebagai respons terhadap budaya kerja berlebihan dan kurangnya apresiasi.
  • Fenomena ini membantu karyawan menjaga kesehatan mental dan keseimbangan hidup, namun bisa membatasi peluang karier serta menurunkan keterlibatan dalam pekerjaan.
  • Bagi perusahaan, quiet quitting menjadi tanda perlunya perbaikan budaya kerja agar lebih menghargai kontribusi dan kesejahteraan karyawan secara menyeluruh.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Belakangan ini, istilah quiet quitting semakin sering terdengar, terutama di kalangan pekerja muda yang mulai memprioritaskan keseimbangan hidup. Meski terdengar seperti mengundurkan diri diam-diam, sebenarnya fenomena ini bukan tentang berhenti bekerja.

Melainkan tentang menetapkan batasan yang lebih sehat dalam dunia kerja. Di tengah tuntutan yang semakin tinggi, banyak orang mulai menyadari bahwa bekerja tanpa henti bukan lagi satu-satunya cara untuk dianggap produktif. Lalu, apa sebenarnya arti quiet quitting dan bagaimana dampaknya, bagi karyawan maupun perusahaan? Yuk, pahami lebih dalam, Bela!

Table of Content

Apa Itu Quiet Quitting?

Apa Itu Quiet Quitting?

freepik.com/Kamran Aydinov
freepik.com/Kamran Aydinov

Quiet quitting adalah kondisi ketika seseorang tetap menjalankan pekerjaannya, tetapi hanya sebatas deskripsi kerja yang menjadi tanggung jawabnya—tidak lebih, tidak kurang. Mereka tidak lagi mengambil pekerjaan tambahan di luar kapasitas, tidak merasa perlu untuk selalu available, dan mulai memisahkan kehidupan kerja dengan kehidupan pribadi secara tegas.

Fenomena ini muncul sebagai respons terhadap budaya kerja yang sering kali menuntut karyawan untuk melakukan overwork tanpa kompensasi yang sepadan. Alih-alih benar-benar resign, mereka memilih untuk mundur secara emosional demi menjaga kesehatan mental dan kualitas hidup.

Mengapa Quiet Quitting Terjadi?

freepik.com
freepik.com

Ada beberapa faktor yang mendorong seseorang melakukan quiet quitting. Salah satunya adalah kelelahan kerja atau burnout akibat beban kerja yang tidak seimbang. Selain itu, kurangnya apresiasi dari perusahaan juga menjadi alasan utama.

Ketika usaha ekstra tidak dihargai, karyawan cenderung kehilangan motivasi untuk memberikan lebih dari yang diminta. Faktor lainnya adalah perubahan mindset generasi muda yang kini lebih menghargai work-life balance. Mereka tidak lagi melihat pekerjaan sebagai satu-satunya identitas, melainkan bagian dari kehidupan yang harus tetap seimbang dengan aspek lain.

Dampak Quiet Quitting bagi Karyawan

freepik.com/DC Studio
freepik.com/DC Studio

Bagi karyawan, quiet quitting bisa memberikan dampak positif, terutama dalam menjaga kesehatan mental. Dengan membatasi pekerjaan sesuai kapasitas, mereka bisa mengurangi stres dan memiliki waktu lebih untuk diri sendiri maupun keluarga.

Namun, di sisi lain, ada juga potensi dampak negatif. Misalnya, peluang pengembangan karier bisa menjadi lebih terbatas karena dianggap kurang proaktif atau tidak menunjukkan inisiatif lebih.

Bahkan, jika tidak dikelola dengan baik, quiet quitting juga bisa membuat seseorang kehilangan rasa keterlibatan atau engagement terhadap pekerjaannya, sehingga pekerjaan terasa monoton dan kurang bermakna.

Dampak Quiet Quitting bagi Perusahaan

freepik.com/katemangostar
freepik.com/katemangostar

Bagi perusahaan, fenomena ini bisa menjadi sinyal adanya masalah dalam lingkungan kerja. Menurunnya inisiatif karyawan dapat berdampak pada produktivitas tim secara keseluruhan.

Jika banyak karyawan melakukan quiet quitting, perusahaan bisa mengalami penurunan inovasi dan kolaborasi. Hal ini tentu akan memengaruhi performa jangka panjang.

Namun, fenomena ini juga bisa menjadi momentum refleksi bagi perusahaan untuk menciptakan budaya kerja yang lebih sehat, menghargai kontribusi karyawan, dan memperhatikan kesejahteraan mereka secara menyeluruh.

Apakah Quiet Quitting Selalu Buruk?

freepik.com/Kamran Aydinov
freepik.com/Kamran Aydinov

Dalam beberapa kasus, quiet quitting justru menjadi bentuk self-awareness seseorang terhadap batasan dirinya. Ini bisa menjadi cara untuk mencegah kelelahan berlebihan dan menjaga keseimbangan hidup.

Yang perlu kamu ingat adalah bagaimana cara seseorang menerapkannya. Jika dilakukan dengan tetap menjaga tanggung jawab dan komunikasi yang baik, quiet quitting bisa menjadi strategi untuk bekerja secara lebih sehat tanpa harus mengorbankan performa.

Cara Menyikapi Quiet Quitting dengan Bijak

freepik.com/garetvisual
freepik.com/garetvisual

Baik sebagai karyawan maupun perusahaan, penting untuk menyikapi fenomena ini dengan bijak. Bagi karyawan, cobalah untuk tetap menjaga kualitas kerja meski menetapkan batasan. Komunikasikan kebutuhanmu dengan atasan agar tidak terjadi kesalahpahaman.

Sementara bagi perusahaan, penting untuk menciptakan lingkungan kerja yang suportif, memberikan apresiasi yang layak, serta membuka ruang dialog agar karyawan merasa didengar.

Dengan begitu, quiet quitting tidak lagi dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai sinyal untuk menciptakan budaya kerja yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ayu Utami
EditorAyu Utami
Follow Us

Latest in Career

See More