Review 'Jalan yang Jauh Jangan Lupa Pulang': Anak Rantau Wajib Nonton

Apa arti pulang dan keluarga untukmu?

Review 'Jalan yang Jauh Jangan Lupa Pulang': Anak Rantau Wajib Nonton

Pergi jauh mengubah itu semua
Dia seperti perjalanan pulang menemukan diri sendiri

Sejak film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI) tayang, perasaan terasing yang dialami Aurora (Sheila Dara Aisha) membuat banyak penonton relate. Kisahnya kemudian diceritakan lebih lanjut di film Jalan yang Jauh Jangan Lupa Pulang. Sebelumnya, eksistensi anak tengah yang satu ini samar karena keberadaan kakaknya, Angkasa (Rio Dewanto), dan adiknya, Awan (Rachel Amanda).

Hingga pada suatu hari ia akhirnya bisa merantau jauh ke London, Inggris. Menimba ilmu di Royal College of Art. Tempat ini memang tak seaman rumahnya di Jakarta. Namun, perjalanan ini membuatnya menemukan dirinya yang sesungguhnya. Di sudut kota ini, ia mempelajari banyak hal yang selama ini belum pernah dialaminya.

Perjalanan memilih keluarga

Review 'Jalan yang Jauh Jangan Lupa Pulang': Anak Rantau Wajib Nonton

Sekuel NKCTHI ini lagi-lagi dibuka dengan narasi yang diiringi dengan lagu milik Kunto Aji. Kali ini "Saudade". Jalan yang Jauh Jangan Lupa Pulang membawa pertanyaan besar tentang hal-hal yang sebenarnya belum selesai dalam hidup, terutama arti rumah dan keluarga. Apakah rumah hanya sekadar tempat kita berasal? Atau, keluarga sebatas orang-orang yang terikat darah dengan kita?

"Aku ngelihatnya film ini lebih ceritain dua hal. Tentang keluarga sebagai tempat di mana kita lahir, atau justru kita bisa milih keluarga kita. Lalu sebagai keluarga, kita kenal nggak, sih, satu sama lain? Atau, ya, mungkin ada orang-orang yang memilih untuk punya keluarga du tempat lain. Itu yang mau di-challenge di film ini," kata sang sutradara, Angga Dwimas Sasongko.

Keluarga yang dipilih Aurora adalah Honey (Lutesha) dan Kit (Jerome Kurnia). Dua tokoh baru ini menjadi support system terbesarnya saat berkonflik dengan sang kekasih, Jem (Ganindra Bimo). Hangatnya hubungan tiga insan ini bahkan membuat Sheila Dara sendiri merasa iri.

"Kalau menurut aku persahabatan antara Aurora, Honey, sama Kit itu aku pengen banget punya itu di real life. Karena aku ngerasa hubungan antara Aurora, Honey, dan Kit itu nggak cuma saling support, tapi juga saling ngasih tau kalau mereka nggak suka dengan yang Aurora lakukan. Mungkin begitu juga sebaliknya," ungkapnya.

Aduk emosi dengan teknik sinematografi

Akar permasalahan Jalan yang Jauh Jangan Lupa Pulang bermula dari pertengkaran hebat antara Aurora dan Jem. Karena kebiasaannya yang buruk, Jem sampai merusak ponsel dan karya akhir kekasihnya. Hal ini kemudian membuat sang perempuan harus menunda kelulusannya dan tak memberi kabar apa pun kepada keluarga di Jakarta.

Untuk orang yang belum pernah mengalami fase hidup seperti ini, Aurora mungkin tampak kekanakan. Angkasa dan Awan bahkan sampai harus menyusul ke London karena saudaranya nihil kabar selama dua bulan. Anggapan buruk kepada anak tengah ini diperkuat dengan teknik sinematografi yang diterapkan Angga dan timnya.

"Di awal memang kita bikin seakan-akan Aurora tuh memang nggak bener aja karena nggak ngabarin orang tuanya dan saya menempatkan adegan di kafe itu untuk penonton bisa simpati ke kakak dan adiknya gitu. Jadi pas Aurora menjelaskan, itu nggak perlu ada suaranya. Jadi kita taruh kameranya di luar. Tapi, itu memang sengaja untuk membuat penonton mengalami ketidaksepahaman dulu dengan Aurora, lalu kemudian memahami, sampai akhirnya mengerti kemudian menangis bersama Aurora," ungkap Angga.

Saya mengacungkan jempol untuk inisiatif ini karena memang berhasil! Saat kemudian satu demi satu alasan Aurora bertindak demikian terbongkar, rasa pilu di hati muncul begitu saja. Angga mengajak penonton menyelami satu sudut pandang baru. Dengan ini, orang mungkin bisa mulai memahami mengapa menyelesaikan studi terasa sulit bagi banyak mahasiswa–terutama perantau–tanpa harus menghakiminya.

Eksperimen terbesar Angga dan M. Irfan Ramli sebagai penulis skenario dalam Jalan yang Jauh Jangan Lupa Pulang adalah mendobrak pakem garis waktu. Tak dapat dimungkiri, hal ini membuat saya berkali-kali mengerutkan dahi. Sesaat saya merasa seperti sedang melamun kala garis waktu berpindah tanpa aba-aba meski sudah fokus sepenuhnya.

"Kami menulis ini dengan kesadaran timeline-nya acak. Kalau di yang pertama (NKCTHI) itu, timeline acak tapi kita bisa identifikasi. Oh, ini masa lalu. Oh, ini masa sekarang. Kalau ini kadang-kadang kita lompat ke dua bulan ke belakang, lompat tiba-tiba ke dua hari ke depan, lompat tiba-tiba ke tiga minggu ke depan, balik lagi ke empat minggu ke belakang tanpa ada identifikasi. Kenapa kami melakukan itu? Sebenarnya karena kami ingin coba satu metode penceritaan di mana orang tuh nggak mungkin nggak perlu memahami garis waktu, tapi bagaimana semenjak film mulai sampai film berakhir, penonton diajak terlibat dengan karakternya. Sehingga, alur cerita itu disusun berdasarkan development karakternya," papar Angga.

  • Share Artikel

TOPIC

trending

Trending

This week's horoscope

horoscopes

... read more

See more horoscopes here