Review 'Mother Mary': Comeback Seorang Diva yang Penuh Luka dan Tafsir

Mother Mary menampilkan Anne Hathaway dan Michaela Coel dalam kisah dua perempuan yang terhubung lewat masa lalu, ambisi, serta luka emosional di tengah persiapan comeback seorang diva pop.
Disutradarai David Lowery, film ini menggabungkan drama psikologis dan elemen surealis dengan visual puitis, namun alurnya cenderung stagnan karena dominasi dialog filosofis dan simbolisme kompleks.
Aksi akting intens Hathaway berpadu dengan performa subtil Coel menghadirkan dinamika menarik, sementara kekuatan utama film terletak pada gaya visual artistik dan atmosfer emosional yang mendalam.
Siapa yang tidak penasaran melihat Anne Hathaway kembali memerankan sosok diva pop penuh misteri? Dalam Mother Mary, ia dipasangkan dengan Michaela Coel untuk menghadirkan kisah tentang dua perempuan yang terikat masa lalu, ambisi, dan luka emosional yang belum selesai.
Disutradarai oleh David Lowery, film ini memadukan drama pop, psikologi, dan sentuhan supernatural dalam gaya yang artistik. Mother Mary menawarkan visual yang menarik dan ide yang besar, meski penyampaiannya cenderung kompleks dan terbuka untuk berbagai interpretasi. Seperti apa keseluruhan film ini? Mari kita bahas lebih dalam, Bela!
Table of Content
Sinopsis 'Mother Mary' (2026)
Mother Mary mengikuti kisah seorang bintang pop, Mother Mary (Anne Hathaway), yang bersiap kembali ke panggung setelah mengalami peristiwa besar dalam hidupnya. Dalam persiapan comeback tersebut, ia mendatangi kembali Sam Anselm (Michaela Coel), seorang desainer yang pernah berperan penting dalam membentuk identitas panggungnya.
Pertemuan keduanya membuka kembali hubungan masa lalu yang penuh ketegangan sekaligus proses kreatif yang intens. Di tengah percakapan emosional dan kenangan yang muncul, mereka perlahan harus menghadapi kembali luka dan dinamika hubungan yang belum selesai.
| Producer | Maximilian Leo, Jonathan Saubach, Toby Halbrooks, Jonas Katzenstein, Jeanie Igoe |
| Writer | David Lowery |
| Age Rating | 17+ |
| Genre | Musik, Drama, Cerita Seru |
| Duration | 112 Minutes |
| Release Date | 24-04-2026 |
| Theme | pop star, supernatural, betrayal, dress, old grudge, estranged friend, psychosexual |
| Production House | A24, Augenschein Filmproduktion, Topic Studios, Sailor Bear, IPR.VC |
| Where to Watch | Cinema 21, XXI, Cinepolis, CGV, Platinum Cineplex, NSC, Kota Cinema |
| Cast | Anne Hathaway, Michaela Coel, Hunter Schafer, Sian Clifford, Atheena Frizzell |
Trailer 'Mother Mary' (2026)
'Mother Mary' (2026) Still Images
Dialog panjang yang mendominasi alur cerita

Secara garis besar, film ini berkisah tentang seorang pop star legendaris bernama Mother Mary (Anne Hathaway) yang ingin kembali ke panggung setelah peristiwa traumatis. Ia mendatangi kembali desainer lamanya, Sam Anselm (Michaela Coel), untuk membuat kostum comeback yang “mewakili dirinya”.
Premis ini sebenarnya menarik, yakni menggabungkan dunia selebriti dengan relasi personal yang kompleks. Namun, struktur cerita film ini cenderung stagnan. Sebagian besar durasi dihabiskan dalam percakapan panjang di satu lokasi (studio/barn), dengan dialog yang sering kali terasa terlalu filosofis dan berputar tanpa arah jelas.
Alih-alih membangun konflik yang kuat, film ini justru tenggelam dalam metafora dan simbolisme yang kadang sulit dipahami. Hasilnya, penonton bisa merasa terasing dari cerita yang seharusnya emosional.
Ambisi artistik dalam eksplorasi cerita

Sebagai sutradara, David Lowery dikenal dengan gaya visual puitis dan eksperimental (seperti dalam A Ghost Story). Di Mother Mary, ia kembali bermain dengan pendekatan serupa dengan mengutamakan suasana, simbol, dan emosi dibanding narasi konvensional.
Masalahnya, pendekatan ini terasa berlebihan. Film ini dipenuhi referensi artistik dan gaya surealis, tetapi tidak semuanya menyatu dengan baik. Ada momen-momen kuat, namun sering kali terasa seperti kumpulan ide besar yang tidak sepenuhnya terhubung.
Dinamika akting Anne Hathaway dan Michaela Coel

Anne Hathaway tampil dengan intensitas tinggi sebagai diva pop yang emosional, terutama dalam adegan panggung yang menonjolkan fisikalitas dan ekspresi dramatisnya. Ia mampu menggambarkan tekanan dan sisi rapuh seorang bintang, meski pendekatannya terasa cukup ekspresif.
Sementara itu, Michaela Coel hadir dengan gaya yang lebih subtil dan terkontrol, memberi kedalaman pada karakternya. Interaksi keduanya membangun dinamika yang menarik lewat perbedaan pendekatan akting, meski hubungan karakternya tidak selalu terasa berkembang sepenuhnya.
Pendekatan visual dalam membangun suasana

Secara visual, Mother Mary tampil sangat stylish dengan komposisi gambar yang artistik, permainan cahaya dramatis, dan nuansa gothic yang kuat. Penggunaan close-up pada wajah karakter turut menegaskan emosi dan ketegangan, menciptakan atmosfer yang terasa intens dan intim.
Di sisi lain, musik menjadi daya tarik penting dengan kontribusi FKA twigs, Charli XCX, dan Jack Antonoff, menghadirkan warna pop yang terasa relevan. Namun, penyusunan adegan terkadang terasa kurang mulus, terutama saat berpindah antara realitas, kilas balik, dan elemen supernatural, sehingga alur bisa terasa kurang konsisten bagi sebagian penonton.
Hiburan untuk pecinta film eksperimental dan artistik

Film ini mencoba mengangkat tema besar yang menarik, mulai dari ketenaran, identitas, hingga dinamika dalam industri kreatif, meski sebagian di antaranya terasa belum tergali secara mendalam. Relasi emosional antara dua tokoh utama yang seharusnya menjadi inti cerita juga disampaikan secara terbatas, sementara beberapa isu seperti hubungan queer turut muncul namun tidak menjadi fokus utama.
Dari segi pendekatan, film ini tampil berani dengan gaya yang tidak konvensional. Pilihan naratif yang lebih simbolik dan tidak linear membuatnya terasa berbeda dari film sejenis, meski bagi sebagian penonton alurnya bisa terasa kurang mudah diikuti.
Secara keseluruhan, kekuatan film ini terletak pada gaya visual yang kuat dan performa akting, terutama dari Michaela Coel. Dengan pendekatan yang lebih artistik dibanding naratif, Mother Mary menawarkan pengalaman menonton yang terbuka untuk berbagai interpretasi. Film ini tayang di bioskop Indonesia mulai 24 April 2026, Bela!

















