Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
Review 'Lee Cronin’s The Mummy': Ngilu, Intens, dan Bikin Nggak Nyaman
Review Lee Cronin's The Mummy (Dok. IMDB)
  • Lee Cronin’s The Mummy menghadirkan horor intens dengan fokus pada body horror realistis yang bikin ngilu, menonjol lewat transformasi fisik karakter Katie yang digarap detail dan disturbing.
  • Cerita film mengusung elemen investigasi misterius dengan tempo lambat, membangun rasa penasaran namun berpotensi terasa dragging bagi penonton yang mencari ketegangan cepat.
  • Visual berani dan efek praktikal kuat memperkuat atmosfer mencekam, meski ada inkonsistensi adegan serta ending yang dianggap terlalu sempurna namun tetap memberi kejutan tak terduga.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Film horor selalu punya cara unik untuk bikin penontonnya ketakutan. Tapi Lee Cronin’s The Mummy datang dengan pendekatan yang berbeda—bukan cuma soal jumpscare, tapi juga body horror yang terasa sangat nyata dan… jujur saja, bikin ngilu.

Disutradarai oleh Lee Cronin, film ini menghadirkan pengalaman menonton yang intens, bahkan sejak menit-menit awal. Kalau kamu tipe penonton yang sensitif dengan visual ekstrem, film ini mungkin bakal jadi ujian mental tersendiri.

Review ini mengandung spoiler jadi pastikan kamu sudah menonton terlebih dahulu sebelum lanjut baca ya, Bela!

Synopsis Lee Cronin's The Mummy (2026)

Kehidupan seorang jurnalis bernama Charlie Cannon awalnya berjalan normal bersama keluarganya, hingga sebuah tragedi mengubah segalanya. Putrinya, Katie, tiba-tiba menghilang secara misterius di padang pasir tanpa jejak, meninggalkan tanda tanya besar yang tak terjawab.

Kehilangan tersebut bukan hanya menyisakan duka, tapi juga luka yang terus membekas selama bertahun-tahun. Charlie dan keluarganya hidup dalam ketidakpastian, dihantui rasa bersalah sekaligus harapan yang perlahan memudar.

Delapan tahun kemudian, sebuah kejutan tak terduga terjadi, Katie ditemukan dalam keadaan hidup. Namun, situasinya jauh dari kata normal. Ia ditemukan di dalam sarkofagus kuno, tubuhnya terbungkus layaknya mumi, menciptakan misteri baru yang jauh lebih gelap.

Alih-alih menjadi momen penuh haru, kepulangan Katie justru membawa teror. Ada sesuatu yang berbeda darinya, bukan hanya secara fisik, tapi juga dari cara ia bergerak dan berperilaku. Sosok yang kembali itu terasa seperti orang asing… atau mungkin sesuatu yang lain.

Lee Cronin's The Mummy
2026
3.5/5
Directed by Lee Cronin
ProducerJames Wan, Jason Blum, John Keville
WriterLee Cronin
Age Rating17+
GenreKengerian, Misteri
Duration134 Minutes
Release Date07-04-2026
Themejournalist, monster, pyramid, investigation, supernatural, mummy, possession, disappearance, curse, tomb, scorpion, reboot, dark fantasy, supernatural horror, body horror, horror
Production HouseAtomic Monster, Blumhouse Productions, New Line Cinema, Domain Entertainment, Wicked/Good
Where to WatchXXI Cinema, CGV, Cinepolis
CastJack Reynor, Laia Costa, May Calamawy, Natalie Grace, Shylo Molina

Trailer Lee Cronin's The Mummy (2026)

Body horror yang brutal dan terasa nyata

Review Lee Cronin's The Mummy (Dok. The Mummy)

Hal paling menonjol dari Lee Cronin’s The Mummy tentu saja ada pada elemen body horror-nya. Transformasi karakter Katie menjadi sosok mummy digarap dengan detail yang sangat mengganggu.

Perubahan fisiknya ditampilkan secara bertahap, mulai dari gerakan tubuh yang kaku, ekspresi wajah yang semakin kosong, hingga munculnya binding atau lilitan kain yang menjadi bagian dari proses mumifikasi. Semua terasa lambat, tapi justru di situlah letak terornya.

Setiap gerakan Katie terasa tidak natural, bahkan cenderung menyeramkan. Penonton dibuat terus deg-degan karena tidak pernah tahu kapan momen horor berikutnya akan muncul.

Visual berani, dekat, dan tanpa ampun

Review Lee Cronin's The Mummy (Dok. The Mummy)

Dari sisi visual, film ini bisa dibilang sangat berani. Kamera tidak ragu menyorot detail tubuh secara dekat, memperlihatkan perubahan fisik yang terasa disturbing.

Efek praktikal yang digunakan juga terasa solid, membuat setiap adegan terlihat lebih nyata dibanding sekadar efek digital. Inilah yang membuat rasa ngilu itu benar-benar sampai ke penonton.

Bukan hanya Katie yang mengalami transformasi mengerikan, beberapa karakter lain juga ikut terseret dalam teror yang sama. Hal ini membuat atmosfer film semakin mencekam dan tidak memberi ruang aman bagi siapa pun.

Misteri yang menarik, tapi tempo terasa lambat

Review Lee Cronin's The Mummy (Dok. The Mummy)

Dari segi cerita, film ini mengusung elemen investigasi yang cukup kuat. Misteri di balik perubahan Katie dibuka secara perlahan, memberi penonton waktu untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Pendekatan ini sebenarnya menarik, karena membangun rasa penasaran. Namun di sisi lain, alurnya terasa cukup lambat dan cenderung dragging di beberapa bagian.

Bagi sebagian penonton, tempo ini mungkin terasa mengurangi intensitas. Tapi kalau kamu suka horor dengan slow burn, bagian ini masih bisa dinikmati.

Inkonsistensi adegan yang sedikit mengganggu

Review Lee Cronin's The Mummy (Dok. The Mummy)

Ada beberapa momen yang terasa kurang masuk akal dari segi blocking dan jarak antar karakter. Salah satu contohnya ketika Mauddie mulai didekati oleh Katie yang sudah dikuasai entitas jahat.

Di saat bersamaan, sang ayah, Charlie, justru sedang sibuk mencari petunjuk lain di bagian rumah yang sama. Anehnya, tidak ada interaksi atau respons yang terasa realistis dari situasi tersebut.

Keesokan harinya, perubahan perilaku Mauddie baru disadari. Detail seperti ini memang kecil, tapi cukup terasa mengganggu bagi penonton yang memperhatikan alur secara detail.

Ending yang Terlalu “Sempurna”?

Review Lee Cronin's The Mummy (Dok. youtube.com/Warner Bros.)

Masuk ke bagian akhir, film ini memberikan penutup yang mungkin diharapkan banyak penonton. Namun, bagi sebagian orang, termasuk penulis, ending-nya terasa sedikit too good to be true.

Meski begitu, harus diakui bahwa arah ending tersebut cukup mengejutkan. Ada elemen yang tidak mudah ditebak, sehingga tetap memberikan kesan tersendiri setelah film selesai.

Lee Cronin’s The Mummy bukan film horor biasa. Ia menawarkan pengalaman yang lebih visceral, lebih dekat, dan jauh lebih mengganggu dibanding kebanyakan film sejenis.

Kalau kamu mencari horor dengan nuansa berbeda yang tidak hanya menakutkan tapi juga bikin tidak nyaman secara fisik—film ini layak masuk daftar tontonan. Tapi satu hal yang pasti, setelah menonton ini, kamu mungkin bakal sedikit lebih sensitif melihat perban atau lilitan kain di dunia nyata.

Editorial Team