The Devil Wears Prada 2
Perjalanan karier Andrea (Anne Hathaway), Emily Charlton (Emily Blunt), dan rezim Miranda Priestly (Meryl Streep) bertumbuh seiring pengembangan karier kami juga di dunia nyata. Andy tetap menjadi karakter yang berani mengintervensi namun lebih mature, Emily yang semakin percaya diri bertumbuh di bidang retail, serta Miranda yang semakin menunjukkan 'power' nya di media mode penentu masa depan fashion & culture dunia. Sampai pada titik media cetak mulai kalah pamor dari media digital. Tampuk kekuasaan tidak lagi bersifat otoriter. Bahkan, cancel culture juga bisa ‘menyentuh’ Miranda Beastly, I mean... Priestly.
David Frankel yang kembali duduk di kursi sutradara, membuat kami para jurnalis merasa tersambung hingga penuh haru. Bahkan, Aline Brosh McKenna yang juga menulis untuk kedua film ini, menjahitnya dengan elok. Retorika kekuasaan dan ambisi disusun begitu halus sehingga alur cerita mengalir dengan santun dan elegan. Sementara isu-isu besar seperti perubahan industri media, ancaman peggunaan AI dan dinamika karier disisipkan nyaris tanpa gesekan yang mengganggu ritme narasi.
The Devil Wears Prada 2 tak lagi membawa karakter pasangan Andy menjadi salah satu poros penentu keputusan lakon utama. Kematangan berpikir, karakter yang memiliki prinsip dan lebih mengutamakan kualitas hidup malah lebih relevan dengan para penonton usia matang, namun sekaligus inspiratif bagi generasi Z. Kehadiran Simone Ashley sebagai asisten Miranda bernama Amari, juga memberi kesegaran baru di antara tokoh-tokoh ikonik tersebut. Banyak penggemar film ini yang tidak berani berekspektasi tinggi, mengingat tidak sedikit film sequel malah tak berhasil mengungguli kesuksesan film pertama. Tapi tidak bagi The Devil Wears Prada 2. Film ini sukses merenda profesi jurnalis dengan begitu menyentuh dan penuh penghormatan. Membuat kami menyadari, why we love this job in the first place.
Sebagaimana Nigel (Stanley Tucci) masih setia mendampingi Miranda, secara garis besar The Devil Wears Prada 2 mengedepankan bahwa legacy dan loyalty tetap menjadi kunci bertahannya integritas sebuah media di tengah arus digitalisasi yang brutal tanpa koreksi, serta tuntutan investor yang menutup mata akan demokratisasi informasi.
So, journalists, where do you stand?