Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
Review The Devil Wears Prada 2: Pukulan Telak Perubahan Industri Media yang Tersaji Elegan
20th Century Studios
  • Film The Devil Wears Prada 2 menyoroti perjuangan Miranda Priestly menghadapi kemunduran media cetak dan tekanan era digital, dengan Andy Sachs kembali hadir sebagai sosok penyelamat Runway.
  • Konflik antara Miranda, Andy, dan Emily menggambarkan dinamika ambisi, loyalitas, serta perubahan kekuasaan di dunia mode yang kini dipengaruhi budaya digital dan cancel culture.
  • Sutradara David Frankel dan penulis Aline Brosh McKenna berhasil menyajikan isu transformasi industri media dengan elegan, menekankan pentingnya legacy dan integritas di tengah arus digitalisasi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Film “The Devil Wears Prada 2” menampilkan kelanjutan kisah dunia majalah mode Runway, dengan fokus pada tantangan industri media cetak menghadapi era digital dan dinamika hubungan antara tokoh-tokoh utamanya.
  • Who?
    Meryl Streep kembali berperan sebagai Miranda Priestly, Anne Hathaway sebagai Andrea Sachs, Emily Blunt sebagai Emily Charlton, serta sutradara David Frankel dan penulis Aline Brosh McKenna.
  • Where?
    Latar cerita berlangsung di lingkungan kerja majalah mode Runway yang berbasis di New York, menggambarkan kehidupan para profesional di industri fashion global.
  • When?
    Film ini merupakan sekuel dari film tahun 2006 dan dirilis dua dekade setelah kisah pertama; tanggal rilis pastinya per saat ini masih belum diketahui.
  • Why?
    Kisah dibuat untuk menggambarkan perubahan besar dalam industri media dan fashion akibat digitalisasi serta menyoroti nilai loyalitas, integritas, dan adaptasi terhadap perkembangan zaman.
  • How?
    Cerita disajikan melalui konflik karier dan personal antara Miranda, Andy, dan Emily dengan pendekatan elegan khas dunia mode; isu modern seperti AI dan cancel culture turut dimasukkan secara halus dalam alur naratifnya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

“A life without passion would be a dull wasteland of neutrality,” tulis Daniel Goleman dalam buku Emotional Intelligence karyanya. Saya kira itu yang Andy Sachs anut ketika 20 tahun kemudian, ia masih berjibaku menjadi jurnalis. But then again, that’s what most journalist feels. Loyalitas terhadap profesi ini menjadi salah satu pesan yang disampaikan dalam The Devil Wears Prada 2.

And “that’s (not) all.” Film sequel The Devil Wears Prada yang rilis pada 2006 itu, menjadi hajatan dan nostalgia kami para jurnalis media mode dan gaya hidup. Era ketika menganut paham “fake it ‘till you make it” di bawah naungan Editor-in-Chief gen X yang ‘keras’ dalam memimpin—namun kami rasa memang seperti itulah kulturnya.

Sinopsis The Devil Wears Prada 2

Film sequel ini membawa penonton pada dunia majalah mode yang penuh tekanan. Meryl Streep kembali sebagai Miranda Priestly, pemimpin majalah Runway yang kini harus menghadapi kemunduran media cetak di tengah era digital. Saat politik kantor bisa memengaruhi jabatan Miranda, karakter Andrea (Andy) Sachs yang diperankan oleh Anne Hathaway, kembali hadir dengan harapan menjadi penyelamat eksistensi Runway.

Konflik makin memanas ketika karakter Emily Blunt, mantan asistennya, kini beralih menjadi eksekutif sukses di perusahaan luxury brand. Hubungannya dengan Miranda pun dipenuhi ketegangan, ambisi, dan drama khas dunia fashion elite. Apakah Runway akan tutup?

The Devil Wears Prada 2
2026
4.2/5
Directed by David Frankel
ProducerWendy Finerman
WriterAline Brosh McKenna
Age Rating13+
GenreDrama, Komedi
Duration119 Minutes
Release Date29-04-2026
Themenew york city, based on novel or book, sequel, fashion, fashion magazine, dramedy, magazine editor, fashion industry, fashionista, exhilarated
Production House20th Century Studios, Wendy Finerman Productions
Where to Watchmovie theatre
CastMeryl Streep, Anne Hathaway, Emily Blunt, Stanley Tucci, Kenneth Branagh

Trailer

Perjalanan karier Andrea (Anne Hathaway), Emily Charlton (Emily Blunt), dan rezim Miranda Priestly (Meryl Streep) bertumbuh seiring pengembangan karier kami juga di dunia nyata. Andy tetap menjadi karakter yang berani mengintervensi namun lebih mature, Emily yang semakin percaya diri bertumbuh di bidang retail, serta Miranda yang semakin menunjukkan 'power' nya di media mode penentu masa depan fashion & culture dunia. Sampai pada titik media cetak mulai kalah pamor dari media digital. Tampuk kekuasaan tidak lagi bersifat otoriter. Bahkan, cancel culture juga bisa ‘menyentuh’ Miranda Beastly, I mean... Priestly.

David Frankel yang kembali duduk di kursi sutradara, membuat kami para jurnalis merasa tersambung hingga penuh haru. Bahkan, Aline Brosh McKenna yang juga menulis untuk kedua film ini, menjahitnya dengan elok. Retorika kekuasaan dan ambisi disusun begitu halus sehingga alur cerita mengalir dengan santun dan elegan. Sementara isu-isu besar seperti perubahan industri media, ancaman peggunaan AI dan dinamika karier disisipkan nyaris tanpa gesekan yang mengganggu ritme narasi.

20th Century Studios

The Devil Wears Prada 2 tak lagi membawa karakter pasangan Andy menjadi salah satu poros penentu keputusan lakon utama. Kematangan berpikir, karakter yang memiliki prinsip dan lebih mengutamakan kualitas hidup malah lebih relevan dengan para penonton usia matang, namun sekaligus inspiratif bagi generasi Z. Kehadiran Simone Ashley sebagai asisten Miranda bernama Amari, juga memberi kesegaran baru di antara tokoh-tokoh ikonik tersebut. Banyak penggemar film ini yang tidak berani berekspektasi tinggi, mengingat tidak sedikit film sequel malah tak berhasil mengungguli kesuksesan film pertama. Tapi tidak bagi The Devil Wears Prada 2. Film ini sukses merenda profesi jurnalis dengan begitu menyentuh dan penuh penghormatan. Membuat kami menyadari, why we love this job in the first place.

Sebagaimana Nigel (Stanley Tucci) masih setia mendampingi Miranda, secara garis besar The Devil Wears Prada 2 mengedepankan bahwa legacy dan loyalty tetap menjadi kunci bertahannya integritas sebuah media di tengah arus digitalisasi yang brutal tanpa koreksi, serta tuntutan investor yang menutup mata akan demokratisasi informasi.

So, journalists, where do you stand?

Editorial Team