Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan yang diperingati pada 25 November memang sudah lewat. Basi? Yah tentu isu ini bukanlah hal basi yang mudah dilupakan seperti berita selebritas cerai atau artis cari sensasi. Sebab, isu kekerasan yang menimpa kaum perempuan sudah seharusnya jadi isu yang diperhatikan oleh perempuan, pria hingga negara. Apalagi, kekerasan terhadap perempuan masih secara bertubi-tubi menghantui perempuan. Bahkan, belum lama ini hati kita teriris ketika mendengar kabar seorang perempuan bernama Baiq Nurul yang menjadi korban pelecehan seksual secara verbal justru jadi pihak yang terancam dipenjara! 

Ketika Perempuan Indonesia Belum Merdeka dari Tindak Kekerasanidntimes.com

Kekerasan yang dialami perempuan tak hanya fisik saja, seperti pengalaman pahit Baiq Nurul, ia menjadi korban pelecehan secara verbal. Ya, pelecehan secara verbal, perundungan berlebihan hingga membuat korban mengalami self esteem yang rendah termasuk tindak kekerasan pula. Korbannya bisa siapa pun, tak pandang bulu, kekerasan bisa saja dialami oleh keluarga terdekat bahkan sahabat sendiri. Bahkan selebritas seperti Velove Vexia pun mengakui kalau isu kekerasan sudah menjadi makanan sehari-harinya sejak lama.  

"Banyak, itu terjadi di sekeliling saya dari muda sampai mereka yang sudah jadi ibu rumah tangga pun jadi korban kekerasan dalam bentuk apapun itu. Memang sudah seperti makanan sehari-hari yang sering aku dengar," jawabnya ketika Popbela bertanya apakah teman dekatnya pernah menjadi korban kekerasan.

Ketika Perempuan Indonesia Belum Merdeka dari Tindak Kekerasaninstagram.com/vaelovexia

Hal tersebut pun terungkap pula lewat film dokumenter Women Sense Tour karya Sarah Zouak dan Justine Devillaine asal Prancis ketika kamera menyoroti Latifah Iskandar, Pendiri Rifka Annisa Women's Crisis Center di Yogyakarta yang bercerita pada malam pertama organisasi non pemerintah ini resmi dibuka. Pada video itu, Latifah mengatakan kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga juga dialami oleh kalangan menengah ke atas. Pada film dokumenter karya Sarah dan Justine, malam pertama Rifka Annisa beroperasi, Latifah mengatakan ada seorang istri yang telah menjadi korban kekerasan datang dengan urat nadi yang nyaris putus meminta pertolongan kepada lembaga yang memberdayakan perempuan ini.

Ketika Perempuan Indonesia Belum Merdeka dari Tindak KekerasanDoc. Institut Français d’Indonésie (IFI)

Itu buktinya, kekerasan masih terus terjadi, dalam diskusi film Women Sense Tour yang diselenggarakan di IFI, Velove yang juga diundang menjadi pembicara pun mengatakan kekerasan tak hanya dalam bentuk fisik saja, tapi juga verbal yang menurutnya justru lebih susah untuk dihilangkan lukanya. 

"Verbal abuse itu kan bisa menyerang mental seseorang, jadi terkesannya normal padahal itu bukan hal yang bisa diterima. Padahal kekerasan verbal juga lukanya lebih sulit untuk dihilangkan, kekerasan fisik kelihatan di luar, jadi orang lebih take it more serious. sebenarnya kekerasan yang menyerangnya ke mental emosional orang itu bukan hal yang tidak serius, bahkan orang tersebut bisa merasakan kesakitan yang sama seperti yang dialami korban kekerasan fisik," ucap Velove kepada Popbela.

Ketika Perempuan Indonesia Belum Merdeka dari Tindak KekerasanDoc. Institut Français d’Indonésie (IFI)

Kasus kekerasan terhadap perempuan memang tak boleh disepelekan, tahukah kalau tahun 2017 kasus kekerasan meningkat dibanding tahun 2016? Ya, sepanjang tahun 2017 saja, Komnas Perempuan mengeluarkan data Catatan Tahunan (CATAHU) yang membuktikan kalau kekerasan fisik muncul sebanyak 3,982 kasus (41%), disusul 
kekerasan seksual kasus 2,979 ( 31%) dan psikis sebanyak 1,404 (15%) kasus. Jadi memang sudah seharusnya kampanye anti kekerasan terhadap perempuan memang harus digalakkan secara berulang tanpa harus berhenti. Tentu, semua bermula dari diri kita sendiri, jangan jadi kaum yang bungkam, Bela. Seperti Velove yang mengatakan ia menyemangati perempuan Indonesia dengan kumpulan quotes yang ia buat dan dicetak dalam bentuk sebuah novel untuk membangun self esteem yang positif buat banyak orang. Jadi, bersuaralah demi memperjuangkan hak azasi kita sebagai perempuan, do not forget, women supporting women! #hearmetoo

Baca Juga: Simak 7 Tanda Pacar Melakukan Kekerasan Psikis padamu