Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
Salinan dari Salinan dari BEFORE_20260212_150323_0002.png
Instagram.com / tkusumadjaja

Intinya sih...

  • Theresa Kusumadjaja, perempuan Indonesia pertama masuk nominasi Grammy Awards ke-68

  • Latar belakang pendidikan Theresa di bidang biokimia dan statistik, banting setir ke dunia kreatif

  • Peran Theresa sebagai produser video musik "So Be It" milik Clipse membawa namanya masuk nominasi Best Music Video

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Theresa Kusumadjaja menjadi sorotan setelah resmi masuk nominasi Grammy Awards ke-68 yang digelar pada 1 Februari 2026 di Crypto.com Arena, Los Angeles. Ia mencetak sejarah sebagai perempuan Indonesia pertama yang berhasil menembus nominasi kategori Best Music Video, berkat perannya sebagai produser video musik “So Be It” milik duo hip-hop legendaris asal Amerika Serikat, Clipse, yang digawangi Pusha T dan Malice.

Kiprah Theresa sebagai produser video musik internasional menjadi bukti bahwa talenta Indonesia, termasuk kreator di balik layar, memiliki kualitas yang bisa diakui secara global. Meski tak tampil di depan kamera, kontribusinya sangat krusial dalam menghadirkan karya visual berstandar dunia yang mampu bersaing di ajang musik paling prestisius. Berikut profil lengkap dan perjalanan karier Theresa Kusumadjaja, sosok di balik pencapaian bersejarah tersebut, Bela!

Latar belakang pendidikan Theresa hingga banting setir ke dunia kreatif

Instagram.com / tkusumadjaja

Theresa Kusumadjaja merupakan warga negara Indonesia yang telah menetap di Amerika Serikat sejak usia muda. Ia diketahui pindah ke AS bersama ibunya saat berusia 9 tahun dan kini bermukim di New York. Menariknya, Theresa memiliki latar belakang pendidikan yang jauh dari dunia seni, yakni di bidang biokimia dan statistik, sebuah jalur akademik yang tidak berkaitan langsung dengan industri kreatif.

Meski demikian, passion Theresa justru tumbuh di bidang visual dan produksi kreatif. Dorongan kuat untuk berkarya membuatnya berani banting setir dan memulai karier sebagai produser foto dan video di New York. Keputusan ini terbukti tepat, karena melalui konsistensi dan dedikasinya, Theresa perlahan membangun reputasi sebagai produser dengan visi kuat dan standar kerja tinggi hingga mampu menembus industri kreatif global.

Perjalanan karier hingga menembus industri global

Instagram.com / tkusumadjaja

Sebelum masuk nominasi Grammy Awards, Theresa Kusumadjaja telah lebih dulu dikenal di industri sebagai produser berpengalaman. Ia tercatat pernah bekerja sama dengan artis papan atas dunia seperti A$AP Rocky dan Frank Ocean.

Tak hanya itu, berbagai brand internasional ternama seperti Nike, Adidas, dan Apple juga mempercayakan proyek kreatif mereka kepadanya. Saat ini, Theresa juga dikabarkan aktif sebagai manajer sejumlah artis di Amerika Serikat, memperluas kiprahnya di industri hiburan.

Peran Theresa Kusumadjaja dalam video musik “So Be It”

Instagram.com / tkusumadjaja

Puncak sorotan terhadap karier Theresa datang lewat proyek video musik “So Be It” milik duo hip-hop legendaris Amerika Serikat, Clipse, yang digawangi oleh Pusha T dan Malice. Dalam proyek ini, Theresa berperan sebagai produser video dan berkolaborasi dengan sutradara Hannan Hussain.

Sebagai produser, Theresa bertanggung jawab atas keseluruhan produksi visual, mulai dari konsep hingga realisasi akhir. Video musik “So Be It” dirilis pada 17 Juli 2025 dan menjadi karya yang mengantarkannya ke nominasi Grammy Awards.

Theresa Kusumadjaja masuk nominasi Best Music Video pada Grammy Awards ke-68, kategori yang dikenal sangat kompetitif. Ia bersaing dengan nama-nama besar seperti Sabrina Carpenter (“Manchild”), OK Go (“Love”), dan Sade (“Young Lion”). Meski penghargaan akhirnya diraih Doechii lewat video musik “Anxiety”, pencapaian Theresa tetap dinilai sebagai tonggak sejarah bagi Indonesia.

Momen haru di balik nominasi Grammy

Kabar nominasi Grammy tersebut disambut haru oleh Theresa. Melalui akun Instagram pribadinya @tkusumadjaja, ia membagikan momen kebanggaan tersebut dengan dedikasi khusus untuk sang ibu.

“Mama, putrimu kini menjadi perempuan Indonesia pertama yang masuk nominasi Grammy!”

Unggahan tersebut mendapat respons luas dan menjadi simbol perjuangan panjang di balik pencapaiannya. Tak hanya merayakan prestasi, Theresa Kusumadjaja juga memanfaatkan momen Grammy untuk menyuarakan sikap sosial. Ia menyatakan dukungan terhadap gerakan ICE OUT, sebuah aksi solidaritas yang mengkritisi kebijakan U.S. Immigration and Customs Enforcement (ICE), sekaligus menegaskan kepeduliannya terhadap isu kemanusiaan.

Sebelum Theresa Kusumadjaja, Indonesia pernah diwakili Joey Alexander, musisi jazz yang masuk nominasi Grammy pada 2016 dan 2017. Kehadiran Theresa sebagai produser video musik memperluas representasi Indonesia di ajang tersebut, khususnya dari kalangan kreator di balik layar, sekaligus menegaskan bahwa talenta Tanah Air mampu bersaing di panggung internasional. Congratulations on this remarkable achievement!

Editorial Team

EditorAyu Utami