Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
Popbela’s Playlist: Sonic Rebirth
Dok. Seringai, RINNI, Elephant Kind, Strange Fruit
  • Edisi Popbela’s Playlist: Sonic Rebirth menyoroti rilisan terbaru dari RINNI, Seringai, Elephant Kind, dan Strange Fruit yang sama-sama menandai fase perubahan dan eksplorasi musikal baru.
  • RINNI hadir dengan EP ‘Superstar’ bertema kepercayaan diri dan keautentikan, sementara Seringai merilis album ‘IV: Anastasis’ sebagai refleksi emosional pasca kehilangan gitaris Ricky Siahaan.
  • Elephant Kind mengeksplorasi transformasi lewat album ‘More Time’, sedangkan Strange Fruit menemukan formula eksperimentalnya dalam EP ‘Drips’ yang memadukan noise pop hingga electronic leftfield.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Empat musisi dan grup lokal, yaitu RINNI, Seringai, Elephant Kind, dan Strange Fruit merilis karya musik terbaru yang menandai fase baru dalam perjalanan kreatif mereka.
  • Who?
    RINNI dengan EP “Superstar”, Seringai dengan album “IV: Anastasis”, Elephant Kind dengan album “More Time”, serta Strange Fruit dengan EP “Drips”.
  • Where?
    Proses produksi dilakukan di berbagai lokasi seperti SURE Studio di Jakarta, London, serta Abbey Road Studios; seluruh rilisan tersedia di platform digital.
  • When?
    Rilisan berlangsung pada April 2026 untuk Seringai dan Strange Fruit, sementara proyek RINNI dan Elephant Kind dirampungkan antara 2023 hingga 2026.
  • Why?
    Masing-masing musisi menghadirkan karya baru sebagai bentuk eksplorasi identitas musikal, refleksi personal, serta penegasan arah artistik yang lebih jujur dan berani.
  • How?
    Karya-karya ini diproduksi melalui kolaborasi intensif antara musisi dan produser menggunakan pendekatan lintas genre seperti R&B, metal, pop alternatif, elektronik, hingga noise pop.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Dalam edisi Popbela’s Playlist: Sonic Rebirth, rilisan musik terbaru dari RINNI, Seringai, Elephant Kind, dan Strange Fruit terasa seperti fase lahir ulang.

Bukan sekadar merilis karya baru, empat musisi lokal ini datang dengan arah yang lebih jujur, eksploratif, dan berani menegaskan identitas yang terus berkembang.

Dari R&B yang merayakan kepercayaan diri, metal yang memproses kehilangan dan amarah, hingga eksplorasi elektronik dan pop alternatif yang melampaui batas genre, keempat rilisan ini menangkap satu benang merah yang sama: perubahan.

Mari dengarkan bersama albumnya di bawah ini.

Superstar – RINNI

RINNI resmi merilis EP terbarunya bertajuk Superstar, sebuah proyek yang merangkum perjalanan personal tentang mengenali diri, menetapkan batasan, hingga berani memilih diri sendiri.

Album mini yang dirilis di bawah label Gunfingerz ini berisi empat lagu dengan warna R&B modern yang konsisten, yaitu "Superstar Energy", "I Don’t Wanna Fall In Love With You", "Satellites", dan "Mulai".

Sebagai focus track, "Superstar Energy" hadir seperti afirmasi kepercayaan diri yang kuat. Lagu ini digarap bersama Jevin Julian, Teza Sumendra, dan Annisya, menghadirkan pesan tentang keberanian untuk tetap autentik tanpa harus mengecilkan diri demi orang lain.

Salah satu highlight lain dari rilisan ini adalah “Satellites”, lagu atmosferik yang terasa lebih intim dan reflektif. Lagu ini ditulis sebagai bentuk penghormatan untuk orang-orang terdekat dan komunitas yang terus mendukung RINNI di berbagai fase hidupnya. Ia menggambarkan relasi timbal balik antara seorang musisi dan lingkaran yang mengelilinginya, terutama saat berada di titik paling rapuh dalam perjalanan karier.

Seluruh proses produksi EP ini dilakukan secara intensif di SURE Studio, dengan Jevin Julian sebagai produser sekaligus arranger yang membentuk arah musikalnya.

IV: Anastasis – Seringai

Band heavy metal Seringai merilis album penuh keempat bertajuk IV: Anastasis secara digital pada 16 April 2026, disusul versi fisik pada 23 April 2026.

Album ini memuat 12 lagu dengan karakter musik yang tetap agresif, memadukan elemen metal, rock, hingga hardcore dengan eksplorasi yang terasa lebih berani.

Dari sisi lirik, IV: Anastasis hadir dengan emosi yang lebih intens, membawa kemarahan sekaligus refleksi terhadap situasi sosial dan politik saat ini.

Album ini juga menjadi karya pertama setelah kepergian gitaris Ricky Siahaan, yang meninggal pada 2025. Meski begitu, jejak musikalnya masih terasa kuat, mulai dari penggunaan instrumen hingga karakter riff yang tetap dipertahankan dalam proses produksi yang dipimpin Sammy Bramantyo.

Seringai melibatkan gitaris Angga Kusuma dalam proses rekaman, serta menghadirkan formasi live terbaru bersama Darma Respati. Beberapa lagu seperti "Sejati" dan "Senarai Feses" sudah lebih dulu dirilis sebagai penanda kembalinya mereka ke skena musik keras.

Secara keseluruhan, IV: Anastasis tidak hanya menjadi rilisan baru, tetapi juga fase baru bagi Seringai. Album ini menegaskan bahwa mereka tetap relevan dengan pendekatan yang lebih gelap, emosional, dan tetap menghantam dengan intensitas khasnya.

More Time – Elephant Kind

Trio pop-alternatif Elephant Kind resmi merilis album ketiga mereka bertajuk More Time lewat Alcopop! Records.

Album ini menjadi salah satu karya paling personal sekaligus ekspansif dari Elephant Kind, dengan eksplorasi tema seputar transformasi, kerinduan, hingga pencarian makna di tengah dunia yang bergerak cepat.

Dikerjakan dalam rentang waktu 2023 hingga 2025, More Time lahir dari fase perubahan besar dalam perjalanan mereka. Proses penulisan dilakukan di antara dinamika Jakarta dan suasana reflektif di London, menghasilkan karya yang terasa lebih matang dan terarah.

Kali ini, Elephant Kind juga terlibat langsung sebagai produser, mempertegas perkembangan mereka sebagai unit musik yang semakin solid.

Single utama "More Time" menjadi highlight dengan nuansa late-night yang hipnotis, memadukan vokal berlapis reverb dengan lirik introspektif.

Secara keseluruhan, album ini bergerak bebas melintasi berbagai genre seperti hip-hop, house, rock, hingga elemen dance, tanpa kehilangan akar alternatif mereka.

Diproduseri oleh Bam Mastro bersama Iain Berryman, serta melalui proses mixing oleh Adam Stevenson dan mastering di Abbey Road Studios, album ini menunjukkan kualitas produksi yang matang.

More Time menjadi penanda evolusi Elephant Kind yang lebih berani, fleksibel, dan eksploratif, sekaligus memperkuat identitas musikal mereka di skena alternatif.

Drips – Strange Fruit

Grup musik Strange Fruit memperkenalkan EP Drips sebagai titik temu dari perjalanan eksplorasi musik mereka selama lebih dari satu dekade.

Alih-alih menjadi simbol kebangkitan, rilisan ini terasa seperti fase di mana mereka akhirnya menemukan formula yang menyatukan berbagai eksperimen sonik yang telah dibangun sejak EP Dolphin Leap (2015).

Dalam Drips, Strange Fruit meramu berbagai elemen seperti noise pop, krautrock, shoegaze, hingga electronic leftfield menjadi empat komposisi yang terdengar eksperimental dan tidak konvensional.

Pendekatan ini semakin kuat dengan penggunaan instrumen elektronik dan analog secara bersamaan, terutama pada bagian ritme yang digerakkan oleh drum machine dan synthesizer, menciptakan lanskap suara yang terasa luas dan imersif.

Single utama "Iridescent" menjadi representasi arah musikal tersebut, dengan beat minimalis yang perlahan membangun atmosfer hipnotik. Perpaduan bass yang dalam, gitar atmosferik, serta lapisan synthesizer menghadirkan nuansa kosmik yang terasa reflektif sekaligus emosional.

Vokal Baldi Calvianca pun terdengar seperti mengalir di antara dimensi, memperkuat kesan perjalanan sonik yang melampaui ruang dan waktu.

Secara konsep, "Iridescent" dimaknai sebagai pertemuan berbagai spektrum warna, menjadi simbol pencarian cahaya di tengah kegelapan.

Produksi EP ini juga melibatkan Bernardus Fritz yang membantu mengembangkan struktur lagu hingga menghasilkan komposisi elektronik yang lebih matang.

EP Drips sudah rilis di seluruh platform digital pada 3 April 2026, dengan versi piringan hitam menyusul di pertengahan tahun.

Editorial Team

EditorAyu Utami