Apa Itu Trust Issue? Ini Penjelasan, Penyebab dan Cara Menanganinya

Apakah kamu pernah mengalaminya, Bela?

Apa Itu Trust Issue? Ini Penjelasan, Penyebab dan Cara Menanganinya

Follow Popbela untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Whatsapp Channel & Google News

Bela, apakah kamu adalah sosok yang selalu curiga terhadap orang lain? Atau kamu tidak pernah mempercayai pasanganmu jika kalian sedang tidak bersama?

Jika kamu merasakan hal ini, kemungkinan besar kamu mengalami trust issue atau krisis kepercayaan. Hal ini mungkin bagi sebagian orang menjadi hal yang biasa. Padahal jika dibiarkan, krisis kepercayaan ini akan mengganggu kesehatan mentalmu, lho.

Melalui artikel ini, Salma Ghina Sakinah Safari, seorang Clinical Psychologist Candidate dari Universitas Indonesia akan menjelaskan secara detail mengenai pengertian dari apa itu trust issue, penyebabnya, hingga cara mengatasinya. Simak artikelnya berikut ini, ya.

Pengertian rasa percaya atau trust

Sebelum membahas lebih jauh tentang krisis kepercayaan atau trust issue, lebih dulu kita akan membahas tentang kepercayaan. Menurut Salma, mengutip dari penelitian psikologi yang dilakukan oleh Erikson (1950), Rotter (1967) dan Wrightsman (1974), trust atau rasa percaya merupakan dasar yang esensial dalam perkembangan terhadap hubungan personal dalam bentuk apapun. Selain itu, perkembangan rasa percaya juga merupakan komponen yang penting dalam penyesuaian diri dan kepribadian yang sehat, atau disebut juga dengan healthy personality.

Masalah rasa percaya ini terbentuk tidak begitu saja, Bela. Apa yang kita alami sejak kecil, sangat berpengaruh terhadap rasa percaya kita terhadap orang lain. Erikson (1963) dalam penelitiannya menyebutkan, rasa percaya yang tertanam pada diri kita terbentuk secara optimal di usia 0-18 bulan. Di usia tersebut, rasa percaya yang kita miliki terbentuk berdasarkan pola asuh yang kita terima.

Trust atau lebih dikenal dengan istilah basic trust dapat tercapai apabila bayi mendapatkan kehangatan atau pengasuhan dari caregiver atau pengasuhnya. Sebaliknya, apabila bayi kurang kehangatan atau diabaikan, maka ia akan mengembangkan basic mistrust. Bayi yang berhasil mencapai basic trust akan mengembangkan pola kelekatan yang aman atau secure attachment, yang mana pola tersebut akan ia terus bawa hingga dewasa.

Pola kelekatan atau attachment style itu sendiri adalah cara spesifik yang dimiliki individu ketika menjalin relasi dengan orang lain. Pola kelekatan atau attachment dan trust merupakan dua hal yang berkaitan satu sama lain. Semakin tinggi level kepercayaan yang dimiliki oleh individu, semakin aman pula pola kelekatannya atau semakin secure attachment-nya.

Menurut Ainsworth dan Bowlby (1950), attachment style dibentuk dan dikembangkan pada masa awal anak-anak berdasar pada hubungan yang dimiliki individu dengan pengasuhnya. Jadi, memang attachment style kita hari ini merupakan cermin dari dinamika yang kita miliki dengan orangtua atau pengasuh kita, saat balita dan anak-anak.

Munculnya krisis kepercayaan

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, munculnya krisis kepercayaan dapat disebabkan oleh pola asuh yang kurang hangat atau cenderung diabaikan. Namun, krisis kepercayaan ini dapat terus berkembang seiring dengan pengalaman yang kita dapatkan selama tumbuh dewasa.

Dalam perjalanan kehidupan, apa yang kita lihat, alami maupun pelajari, juga mempengaruhi rasa percaya kita hari ini, atau lebih dikenal dengan social learning theory. Beberapa hal yang dapat menghancurkan rasa percaya hingga menimbulkan krisis kepercayaan adalah sebagai berikut.

  • Ketidaksetiaan mampu membawa kembali semua luka-luka yang ada dari masa kecil.
  • Ketidakjujuran atau pengkhianatan terhadap rasa percaya dapat memberikan dampak yang lebih merusak dibandingkan dengan perselingkuhan itu sendiri pada suatu hubungan.
  • Rasa percaya atau trust dapat juga dihancurkan melalui ketidakpedulian, kritik yang tidak konstruktif, penghinaan, dan perilaku penolakan yang dilakukan oleh pasangan, baik itu secara terang-terangan maupun terselubung.
  • Selain itu, ketidakpercayaan, keraguan, dan kecurigaan secara kuat dipengaruhi oleh suara dalam diri kita.
  • Proses berpikir yang destruktif merupakan bagian dari sistem pertahanan yang terbangun dari masa kecil; hal tersebut terdiri atas dialog internal yang bertentangan dengan minat kita dan sinis terhadap orang lain.
  • Share Artikel

TOPIC

trending

Trending

This week's horoscope

horoscopes

... read more

See more horoscopes here