Riset Night Shift for Cuties dimulai dari premis sederhana: dua pegawai minimarket yang ingin menonton konser bersama. Dari situ, riset berkembang ke berbagai arah, mulai dari wawancara pekerja minimarket tentang ritme shift malam, hingga mendalami fenomena fandom lewat internet dan obrolan personal dengan teman-temannya yang merupakan fans garis keras.
"Risetnya benar-benar berjalan ketika kita nemu premis sebenarnya. Jadi kayak kita temuin dulu premisnya, pertama tuh beneran memikirnya dari si dua pegawai minimarket ini, yang ingin nonton konser bareng. Dari situ kan kita tahu, oke kita akan membicarakan soal K-pop, kita akan membicarakan soal kultur, jadi risetnya dimulai dari situ. Aku ingat di tahap-tahap awal, interview pekerja minimarket juga, untuk tahu shift mereka tuh seperti apa, kesehariannya, dan apa sih yang mereka lakukan. Aku juga sebenarnya banyak riset di internet, untuk mengerti fenomena-fenomena fandom dan fans-fansnya, sama ngobrol sama teman-teman aku ini sih, karena aku kan dikelilingi sama teman-teman yang benar-benar fans banget nih, dan aku mencoba untuk mencari tahu, gimana sih pengalaman mereka pribadi," kenangnya.
Riset tidak hanya pada segi cerita, tapi juga pada pemilihan baju, identitas, dan lagu idol grup yang Monica bawa di serial ini. Berbicara soal itu, Monica bercerita tentang risetnya yang dibantu oleh teman dan tim Netflix Korea agar hasil idol grup 'buatan' di serial ini terlihat lebih otentik.
"Untuk kostum ini, aku memberikan berbagai macam referensi. Karena tadi aku juga lumayan beginner nih, tapi ada beberapa referensi yang sudah ada di kepala ketika membuat series ini. Kayak lagunya itu seperti apa, kira-kira kostumnya seperti apa, branding si idol ini seperti apa, itu aku langsung bicarakan dengan showrunner, dengan produser juga, jadi mereka bisa membantu untuk, oke, kira-kira ini nih yang mungkin kita bisa capai nih yang seperti ini, termasuk pemilihan warnanya," kata Monica lagi.
Setiap detail—warna, konsep, hingga persona tiap anggota idol group—dipikirkan matang agar terasa masuk akal dalam dunia yang dibangun.