Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
_ARM4638.jpg
Dok. Netflix

Intinya sih...

  • Netflix Indonesia merilis daftar film dan serial original 2026, termasuk Night Shift for Cuties.

  • Sutradara Monica Tedja mengangkat tema K-pop fandom dari pengalaman pribadinya.

  • Serial ini melibatkan Netflix Korea untuk memastikan autentisitas detail-detail penting dalam representasi dunia K-pop.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Netflix Indonesia baru saja mengumumkan daftar film dan serial original yang akan rilis di tahun 2026 ini. Dari enam judul serial dan film—Surat untuk Masa Mudaku, Luka, Makan, Cinta, Night Shift for Cuties, Aku Sebelum Aku Secrets, dan Serangan Balik—ada satu judul yang menarik perhatian POPBELA, yakni Night Shift fo Cuties. Dari segi visual, premis, dan deretan aktor yang membintanginya, serial ini menawarkan sesuatu yang segar dan tak banyak diangkat di tayangan Indonesia sebelumnya.

Pada 15 Januari 2026 lalu, POPBELA berkesempatan untuk mewawancarai secara langsung Monica Tedja, sutradara sekaligus penulis naskah dari Night Shift for Cuties. Selama wawancara berdurasi kurang lebih 15 menit tersebut, Monica bercerita bagaimana suka dukanya membuat long form pertamanya dan keluar dari zona nyaman (sebab selama ini Monica lebih banyak membuat film pendek).

Simak hasil wawancara POPBELA bersama Monica Tedja dalam artikel berikut ini.

Kisah yang berangkat dari keresahan dan pengalaman pribadi Monica sebagai penggemar K-Pop

Dok. Netflix

Judul Night Shift for Cuties mungkin terdengar ringan, bahkan jenaka, tapi ide di baliknya justru lahir dari perenungan yang cukup personal bagi Monica Tedja. Ia mengaku cerita ini berangkat dari dua hal sekaligus: keresahan dan pengalaman. Sebagai seseorang yang juga menikmati K-pop—meski mengaku masih berada di level "pemula"—Monica tumbuh di lingkungan pertemanan yang fandom-nya jauh lebih intens.

"Aku dikelilingi sama teman-teman yang sangat mengemari K-pop. Yang mungkin di level itu sudah sangat advance gitu. Dan ada sedikit keresahan awalnya ketika melihat teman-teman yang sangat ngefans sampai segitunya, sampai aku tuh resahnya karena, kok kayak gini ya, is it healthy? Karena level obsesi yang seperti ini. Tapi di satu sisi ternyata, it's not necessarily negative. Kayak banyak banget pengalaman-pengalaman sebenarnya yang aku lihat dari mereka, misalnya ada temanku yang sangat berubah gitu dari segi penampilan. Tapi bukan cuma dari segi penampilan, dari mentality pun dia terlihat lebih ceria, lebih fresh gitu. Karena dia udah punya sebuah joy baru gitu di hidupnya. Dan itu yang menarik buat aku sih," jelas Monica membuka obrolan singkat itu.

Dari sana, Monica melihat bahwa fandom tak selalu identik dengan sisi negatif. Justru, di sanalah ia menemukan lapisan emosi dan kemanusiaan yang menarik untuk digali.

Tema ini terasa berbeda dari karya-karya Monica sebelumnya, tetapi tetap berangkat dari satu benang merah yang konsisten: cerita yang dekat dengan manusia dan pengalaman personal. Baginya, kedekatan emosional inilah yang membuat cerita terasa jujur dan relevan.

'Lompat' dari film pendek ke format serial

Dok. Netflix

Monica menyadari sejak awal bahwa cerita Night Shift for Cuties tidak akan cukup jika dipadatkan dalam format pendek. Ada terlalu banyak lapisan yang ingin ia ceritakan, mulai dari tentang fandom, tentang kerja malam di minimarket, tentang mimpi kecil yang terasa remeh tapi sangat manusiawi.

"Karena memang dari segi cerita kita banyak layernya gitu. Jadi, dari segi cerita memang lebih cocok untuk serial. Dan satu lagi juga ada masalah, bukan masalah, reasoning yang lebih personal karena aku memang sudah develop feature film sejak tahun 2021 sebenarnya yang memang aku ingin mengikuti jalur ke festival gitu," kata Monica lagi.

Serial ini kemudian menjadi ruang yang tepat baginya untuk mengeksplorasi format panjang yang berbeda: lebih episodik, lebih dekat dengan penonton luas, dan memberi ruang bernapas bagi karakter-karakternya. Diproduksi oleh Soda Machine Films dengan Tukir Guswandi sebagai produser, Night Shift for Cuties menjadi langkah baru yang strategis sekaligus personal bagi Monica, bukan sekadar berpindah format, tapi juga memperluas caranya bercerita.

Supervisi langsung dari Netflix Korea saat 'menciptakan' sang idola

Dok. Netflix

Meski berakar dari cerita lokal, Night Shift for Cuties sangat serius dalam merepresentasikan dunia K-pop. Netflix Korea terlibat langsung dalam proses supervisi, memastikan bahwa detail-detail penting, mulai dari lirik, musik, hingga konsep idol group. Hal ini dilakukan agar cerita dan visualisasi sang idol tetap terasa autentik.

"Kebetulan karena Netflix juga ada Netflix Korea, mereka juga sempat supervisi saat kita mulai membentuk Idol ini. Jadi dari situ kita input dari mereka, masalah lirik misalnya. Mereka ada yang supervisi di bagian musiknya juga gitu. Ketika kita kan membuat lagu-lagunya sendiri dari nol, tadi seperti yang aku sudah mention. Jadi, kita banyak dapat bantuan dari Netflix Korea juga sih, directly. Untuk memastikan idol ini benar-benar legit gitu K-popnya," ungkap Monica.

Monica menjelaskan bahwa semua lagu dalam serial ini diciptakan dari nol oleh tim Indonesia. Namun, setiap prosesnya mendapatkan masukan dari tim Netflix Korea, terutama agar nuansa K-pop-nya terasa lebih legit, bukan sekadar tempelan estetika. Kolaborasi lintas negara ini menjadi bukti bahwa Night Shift for Cuties tidak main-main dalam membangun dunianya, meski dibalut dengan komedi dan cerita yang terasa ringan.

Tantangan besar Monica Tedja membuat cerita dalam format serial

Dok. Netflix

Pengembangan Night Shift for Cuties memakan waktu sekitar satu setengah tahun, dimulai dari proses menggodok pitch hingga akhirnya siap masuk tahap produksi. Bagi Monica, ini menjadi tantangan tersendiri karena merupakan proyek panjang pertamanya.

"Hal yang paling menantang sebenarnya karena ini proyek panjang pertama sih. Dan apalagi serial kan, jadi ada banyak episode gitu. Jadi mungkin yang biasanya aku formatnya pendek, tapi sekarang harus pendek tapi banyak gitu. Jadi mungkin yang lebih menantang itu. Dan cara bertuturnya kan juga bisa dibilang lebih, aku nggak mau bilang komersil, tapi lebih mungkin straight forward daripada film-filmku yang biasanya. Jadi mungkin itu bukan menjadi tantangan, tapi lebih kepenyesuaian juga aja sih ketika aku menulis ceritanya," jelas Monica.

Meski begitu, Monica tidak melihatnya sebagai hambatan, melainkan proses adaptasi. Ia belajar memahami apa yang dibutuhkan oleh cerita dan medium serial itu sendiri, tanpa kehilangan kejujuran dalam bertutur.

Alasan di balik pemilihan casts 'Night Shift for Cuties'

Dok. Netflix

Pemilihan Gemat sebagai Jenar bahkan terjadi sebelum proses pitching. Monica sudah mengenalnya lebih dulu sebagai podcaster, YouTuber, dan influencer, lalu merasa ada sesuatu yang menarik dari karakternya.

"Sebenarnya aku udah melihat Gemat dari awal sekali sebelum pitch malah. Jadi aku melihat, menemukan dia, dia kan podcast, dia kan YouTuber juga, influencer. Dan aku melihat dia dan aku kayak, wah ini menarik sekali karakternya dia. Jadi justru karena melihat Gemat, aku jadi terinspirasi untuk membuat karakter Jenar ini yang akhirnya diperankan oleh dia. Dan untungnya ketika di-casting cocok semuanya, dan yaudah jadilah dia Gemat memerankan Jenar. Kalau Shenina memang karena Mas Lucky Kuswandi (produser) kan udah sering kerja sama Shenina juga. Dan kita, oke kita coba deh Shenina, kita casting. Dan begitu casting di-pair sama Gemat itu udah, udah nggak usah diapapain lagi, emang udah jodoh gitu. Jadilah mereka berdua dapat peran ini," cerita Monica sambil mengenang proses casting saat itu.

Untuk cast lainnya, Monica belum bisa membocorkan terlalu banyak karena memang masih rahasia. "Tunggu saja saat nanti rilis, ya!" jelasnya.

Mendobrak standar kecantikan idol

Dok. Netflix

Salah satu aspek paling menarik dari Night Shift for Cuties adalah bagaimana serial ini memandang standar kecantikan dalam dunia K-pop. Monica mengakui bahwa ada kegelisahan pribadi terkait gambaran idol yang sering kali dikaitkan dengan tubuh ramping dan visual tertentu.

"Sebenarnya memang ada keresahan di situ. Karena memang kalau kita membicarakan soal K-pop, pasti dikaitkannya wah, slim, very white, pokoknya standar yang biasanya kita lihat itu. Tapi sebenarnya, ketika aku riset pun, banyak idol K-pop yang tidak memenuhi standar kecantikan seperti itu, contohnya CL dari 2NE1, dan ada banyak lainnya yang menurutku semakin sekarang pun, sepertinya masyarakat sosial di Korea Selatan pun sudah lebih open gitu dan lebih progresif untuk menerima perbedaan. Banyak cara untuk melihat beauty saat ini dan itu yang ingin aku coba untuk sampaikan di series ini," jelas Monica.

Lewat serial ini, Monica ingin membuka percakapan: bagaimana jika definisi idol dan beauty lebih beragam? Bagaimana jika realita yang selama ini dianggap mustahil justru bisa dibayangkan ulang?

Premis sederhana dengan mimpi yang besar

Instagram.com/netflixid

Riset Night Shift for Cuties dimulai dari premis sederhana: dua pegawai minimarket yang ingin menonton konser bersama. Dari situ, riset berkembang ke berbagai arah, mulai dari wawancara pekerja minimarket tentang ritme shift malam, hingga mendalami fenomena fandom lewat internet dan obrolan personal dengan teman-temannya yang merupakan fans garis keras.

"Risetnya benar-benar berjalan ketika kita nemu premis sebenarnya. Jadi kayak kita temuin dulu premisnya, pertama tuh beneran memikirnya dari si dua pegawai minimarket ini, yang ingin nonton konser bareng. Dari situ kan kita tahu, oke kita akan membicarakan soal K-pop, kita akan membicarakan soal kultur, jadi risetnya dimulai dari situ. Aku ingat di tahap-tahap awal, interview pekerja minimarket juga, untuk tahu shift mereka tuh seperti apa, kesehariannya, dan apa sih yang mereka lakukan. Aku juga sebenarnya banyak riset di internet, untuk mengerti fenomena-fenomena fandom dan fans-fansnya, sama ngobrol sama teman-teman aku ini sih, karena aku kan dikelilingi sama teman-teman yang benar-benar fans banget nih, dan aku mencoba untuk mencari tahu, gimana sih pengalaman mereka pribadi," kenangnya.

Riset tidak hanya pada segi cerita, tapi juga pada pemilihan baju, identitas, dan lagu idol grup yang Monica bawa di serial ini. Berbicara soal itu, Monica bercerita tentang risetnya yang dibantu oleh teman dan tim Netflix Korea agar hasil idol grup 'buatan' di serial ini terlihat lebih otentik.

"Untuk kostum ini, aku memberikan berbagai macam referensi. Karena tadi aku juga lumayan beginner nih, tapi ada beberapa referensi yang sudah ada di kepala ketika membuat series ini. Kayak lagunya itu seperti apa, kira-kira kostumnya seperti apa, branding si idol ini seperti apa, itu aku langsung bicarakan dengan showrunner, dengan produser juga, jadi mereka bisa membantu untuk, oke, kira-kira ini nih yang mungkin kita bisa capai nih yang seperti ini, termasuk pemilihan warnanya," kata Monica lagi.

Setiap detail—warna, konsep, hingga persona tiap anggota idol group—dipikirkan matang agar terasa masuk akal dalam dunia yang dibangun.

Monica siap dengan segala reaksi dari penonton kelak

Instagram.com/monictedja

Monica menyadari bahwa mengangkat tema K-pop fandom berarti berhadapan dengan kelompok penonton yang sangat passionate. Kekhawatiran akan kritik atau rasa tersinggung selalu ada, tetapi ia memilih pendekatan empati.

"Sebenarnya setiap kali aku mau rilis, pasti ada ketakutan itu. Apakah orang akan suka, ataukah orang akan punya kritik, itu bebas. Tapi in general, pasti akan selalu ada kritik, kita nggak mungkin bisa menyenangkan semua orang juga. Karena kita menceritakan soal K-pop fans, apa yang kita coba lakukan itu benar-benar stay true to the character. Jadi kita mencoba mencari tahu karakter ini tuh apa, jadi apa yang mereka lakukan di dalam cerita ini pun juga orang mengerti, orang jadi punya empati dan tidak kayak, ah ini nggak masuk akal, dan satu lagi, dengan menyisipkan komedis. Itu membuat semuanya jadi lebih lighter, aku percayanya sih, orang juga semoga terhibur, jadi bisa, kayak kita nonton stand up comedy," kata Monica.

Membahas soal tema K-pop, mungkin ada banyak penonton nantinya yang akan membandingkan serial ini dengan K-pop Demon Hunter. Apalagi ketika K-pop Demon Hunters viral, Monica mengaku tidak merasa terintimidasi. Pasalnya, saat animasi tersebut rilis, Night Shift for Cuties sudah berada di tahap pascaproduksi.

Ia justru melihat fenomena ini sebagai hal positif. Semakin banyak karya yang mengangkat tema K-pop, semakin luas pula ruang eksplorasinya. Namun, Monica menegaskan bahwa serialnya tetap berada di jalur yang berbeda: lebih grounded, lebih dekat dengan realita sehari-hari, dan berakar pada kehidupan pekerja minimarket yang sering kita jumpai.

Sebagai penutup, Monica mengaku kecintaannya memang lebih condong ke girl group. XG dan NewJeans menjadi dua referensi penting baginya—terutama karena keduanya menawarkan sesuatu yang berbeda dari K-pop konvensional.

Dari perbedaan itulah Monica melihat celah kreatif: bahwa K-pop tidak harus selalu seragam. Dan Night Shift for Cuties lahir sebagai refleksi dari keyakinan tersebut—sebuah cerita tentang fandom, identitas, dan kebahagiaan kecil yang datang dari mencintai sesuatu dengan sepenuh hati.

Editorial Team