Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Merasakan Pengalaman Visual Epson di Live Showcase Naura Ayu
Popbela.com/Windari Subangkit
  • Cerita Penuh Cahaya Live Showcase Naura Ayu memadukan musik, koreografi, tata cahaya, dan visual panggung yang berubah mengikuti suasana.
  • Epson Indonesia memakai projection mapping untuk memproyeksikan visual pada bidang panggung sekitar 18 meter x 8 meter.
  • Naura dan Epson telah berkolaborasi sekitar delapan hingga sembilan tahun, termasuk dalam rangkaian Konser Dongeng Naura.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Menurutmu, visual konser sebaiknya berperan seperti apa?
Vote Now
sekitar delapan hingga sembilan tahun lalu

Epson dan Naura Ayu mulai bekerja sama dalam berbagai pertunjukan Naura. Video mapping digunakan dalam rangkaian Konser Dongeng Naura.

Sabtu (15/8/2026)

Cerita Penuh Cahaya Live Showcase digelar di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Epson menggunakan projection mapping untuk visual panggung showcase tersebut.

Kini

Konsep visual hadir dengan cerita yang berbeda melalui Cerita Penuh Cahaya. Epson juga memperkenalkan perangkat proyeksi untuk pengalaman hiburan di rumah.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Menurutmu, visual konser sebaiknya berperan seperti apa?
Vote Now
  • What?
    Cerita Penuh Cahaya Live Showcase Naura Ayu memadukan musik, koreografi, tata cahaya, dan visual panggung.
  • Who?
    Naura Ayu, Epson Indonesia, dan Senior Product Manager Visual Instrument Epson Indonesia Ardian Ami Mahmudi terlibat dalam showcase ini.
  • Where?
    Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
  • When?
    Sabtu (15/8/2026).
  • Why?
    Projection mapping digunakan karena bidang media proyeksi dapat memiliki bentuk, struktur, dan kontur yang tidak regular.
  • How?
    Epson menggunakan proyektor EB-L30000UNL untuk memproyeksikan visual ke bidang panggung sekitar 18 meter x 8 meter.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Menurutmu, visual konser sebaiknya berperan seperti apa?
Vote Now

Naura Ayu bernyanyi di Cerita Penuh Cahaya Live Showcase di Jakarta. Panggungnya punya warna dan gambar yang ikut berubah saat lagu berjalan. Epson Indonesia memakai projector besar untuk membuat gambar di panggung. Naura bercerita tentang perjalanan dan perasaannya lewat lagu-lagu yang ia tulis.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Menurutmu, visual konser sebaiknya berperan seperti apa?
Vote Now

Kolaborasi Naura Ayu dan Epson Indonesia memperlihatkan bagaimana visual dapat disesuaikan dengan konsep pertunjukan sejak awal. Pengalaman kerja sama bertahun-tahun membuat kedua tim memahami karakter dan kebutuhan teknis masing-masing. Dalam showcase ini, teknologi proyeksi membantu menyatukan musik, koreografi, cahaya, serta cerita personal Naura di atas panggung.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Menurutmu, visual konser sebaiknya berperan seperti apa?
Vote Now

Panggung konser biasanya menjadi tempat penyanyi bernyanyi dan menyapa para penggemarnya. Namun, dalam Cerita Penuh Cahaya Live Showcase milik Naura Ayu, panggung terasa seperti ikut bercerita.

Digelar di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Sabtu (15-8-2026), pertunjukan tersebut memadukan musik, koreografi, tata cahaya, hingga visual yang berubah mengikuti suasana. Warna dan gambar yang memenuhi area panggung membuat penampilan Naura terasa lebih dinamis, seolah membawa penonton masuk ke dalam cerita yang sedang ia sampaikan.

Bukan Sekadar Backdrop, Visual Jadi Bagian dari Cerita

Popbela.com/Windari Subangkit

Dalam Cerita Penuh Cahaya, visual panggung bukan hanya berfungsi sebagai latar belakang Naura saat bernyanyi. Perubahan warna dan gambar ikut membangun ambience serta atmosfer dari satu bagian pertunjukan ke bagian lainnya.

Senior Product Manager Visual Instrument Epson Indonesia, Ardian Ami Mahmudi, menjelaskan bahwa proyektor yang digunakan pada showcase tersebut memang dirancang untuk kebutuhan dengan skala besar.

“Tujuan Epson adalah menciptakan experience bagi para penonton. Jadi, nggak melulu tentang LED. Orang-orang tahunya LED untuk konser, padahal dengan adanya teknologi yang terbarukan, projector pun bisa dimodifikasi untuk konser. Jadi, experience-nya lebih berbeda dari LED,” ujar Ardian di Jakarta, Sabtu (15-8-2026).

Untuk mendukung visual di main stage, Epson menggunakan EB-L30000UNL, proyektor dengan tingkat kecerahan hingga 30.000 lumens dan resolusi WUXGA. Visual tersebut diproyeksikan ke bidang panggung berukuran sekitar 18 meter x 8 meter.

Skala tersebut tentu berbeda jauh dari penggunaan proyektor yang selama ini lebih familiar untuk kebutuhan presentasi di ruang kelas atau ruang meeting.

“Kalau di sini, di konser ini, mungkin kita lihat projector di ruang meeting ukurannya cuma sekitar 60 inch. Kalau ini, medianya lebarnya 18 meter dan tingginya 8 meter,” ungkap Ardian.

Gunakan Projection Mapping, Bukan Videotron

Popbela.com/Windari Subangkit

Salah satu alasan projection mapping digunakan dalam pertunjukan adalah karena bidang yang menjadi media proyeksi tidak selalu berbentuk kotak atau persegi seperti layar konvensional.

Dalam sebuah konser, backdrop bisa memiliki bentuk, struktur, dan kontur yang berbeda. Karena itu, visual perlu menyesuaikan bidang tersebut agar gambar yang ditampilkan tetap mengikuti bentuk panggung.

“Biasanya, untuk media-media yang nanti dilihat itu medianya nggak regular atau nggak kotak biasa. Kalau kotak biasa bisa pakai videotron yang gede. Nah, kalau bentuknya nggak regular, dia lebih cocok memang pakai projector,” jelas Ardian.

Pendekatan inilah yang membuat projection mapping menarik untuk kebutuhan pertunjukan. Panggung tidak lagi hanya menjadi tempat untuk memasang layar, tetapi dapat diubah menjadi bagian dari konsep visual itu sendiri.

Pada showcase Naura, teknologi tersebut digunakan untuk memberikan warna sekaligus membangun suasana di atas panggung.

“Untuk backdrop-nya, untuk kasih ambience, kasih warna, itu nanti dari projectornya ini. Jadi, itu menghidupkan ambience, suasana di konsernya nanti,” kata Ardian.

Epson dan Naura Sudah Berkolaborasi Bertahun-tahun

Popbela.com/Windari Subangkit

Kolaborasi Epson dan Naura Ayu dalam menghadirkan pengalaman visual di atas panggung sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Keduanya telah bekerja sama dalam berbagai pertunjukan Naura sejak sekitar delapan hingga sembilan tahun lalu.

Salah satu yang cukup lekat dengan perjalanan tersebut adalah penggunaan video mapping dalam rangkaian Konser Dongeng Naura. Saat itu, teknologi visual digunakan untuk membantu menciptakan dunia dongeng di atas panggung, sesuai dengan karakter pertunjukan Naura yang dekat dengan cerita musikal dan fantasi.

Kini, setelah bertahun-tahun, konsepnya hadir dengan cerita yang berbeda.

Jika dulu visual digunakan untuk membawa penonton masuk ke dunia dongeng, Cerita Penuh Cahaya justru terasa lebih personal. Showcase ini menjadi ruang bagi Naura untuk menceritakan perjalanan, proses bertumbuh, dan refleksi dirinya melalui album terbarunya.

“Ibaratnya, konser Naura Ayu tumbuh-kembang bersama Epson,” ujar Ardian.

Menurutnya, pengalaman bekerja sama selama bertahun-tahun juga membuat proses persiapan menjadi lebih mudah. Tim Epson dan tim Naura sudah sama-sama memahami karakter serta kebutuhan teknis masing-masing, sehingga teknologi yang digunakan dapat disesuaikan dengan konsep pertunjukan sejak awal.

Saat Lagu Naura Tak Hanya Didengar, tapi Juga Terlihat

Popbela.com/Windari Subangkit

Bagi Naura, Cerita Penuh Cahaya bukan sekadar showcase musik. Pertunjukan tersebut menjadi bagian dari perjalanan album yang cukup personal karena untuk pertama kalinya ia ikut menulis lagu-lagu berdasarkan pengalaman yang ia rasakan sendiri.

“Pertunjukan ini adalah pertunjukan yang penuh doa, cinta, dan harapan,” ujar Naura kepada penonton.

Karena itu, kehadiran visual di atas panggung terasa relevan dengan konsep pertunjukan. Ketika cerita dalam lagu berubah, suasana panggung pun ikut bergerak. Musik, koreografi, cahaya, dan visual kemudian bekerja bersama untuk membangun pengalaman yang lebih utuh.

Penonton pun tidak hanya diajak mendengarkan lagu-lagu Naura, tetapi juga mengikuti perjalanan yang ingin ia sampaikan lewat pertunjukan tersebut.

Di titik ini, projection mapping Epson mengambil peran sebagai medium visual yang membantu menerjemahkan cerita ke dalam bentuk yang bisa dilihat. Panggung berukuran 18 x 8 meter tersebut seolah berubah menjadi kanvas besar yang dapat mengikuti alur pertunjukan.

Projection Mapping Tak Hanya untuk Konser

Popbela.com/Windari Subangkit

Penggunaan teknologi proyeksi dalam Cerita Penuh Cahaya juga menunjukkan bahwa fungsi projector kini semakin berkembang. Jika sebelumnya perangkat ini identik dengan ruang kelas, ruang meeting, atau presentasi, teknologi proyeksi kini dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan kreatif.

Menurut Ardian, projection mapping juga telah digunakan dalam berbagai kegiatan, mulai dari acara olahraga, perayaan tahun baru, hingga museum dan pameran seni.

“Kalau kita ngomongin video mapping juga bukan hanya di outdoor. Indoor juga ada. Indoor itu biasanya yang sekarang tren dipakai di museum-museum,” katanya.

Menurut Ardian, penggunaan projection mapping di museum bahkan dapat membantu membuat pengalaman pengunjung menjadi lebih interaktif. Benda atau karya yang dipamerkan tidak lagi hanya dilengkapi informasi tertulis, tetapi dapat diceritakan melalui visual dan video.

“Misalkan dulu kita tahu masuk museum ada barangnya, ada arcanya, terus ada keterangannya. Nah sekarang tuh ada barangnya, kita pakai projector, kita bisa langsung ceritain di situ secara gambar, secara video,” lanjutnya.

Selain untuk kebutuhan profesional dan industri kreatif, Epson juga memperkenalkan perangkat proyeksi untuk pengalaman hiburan di rumah dalam showcase tersebut. Di antaranya adalah Epson EH-LS970B, home extreme short throw projector dengan kecerahan 4.000 lumens, resolusi 4K UHD, Google TV, dan Sound by Bose.

Ada pula EF-72, portable home projector dengan kecerahan 1.000 lumens, resolusi 4K UHD, Google TV, serta Sound by Bose.

Dari panggung konser berukuran belasan meter hingga ruang hiburan di rumah, perkembangan teknologi proyektor membuat perangkat ini memiliki ruang yang semakin luas untuk digunakan.

Lewat dukungannya pada Cerita Penuh Cahaya Live Showcase, Epson pun memperlihatkan bahwa pengalaman menonton pertunjukan kini bisa dibangun lewat lebih dari sekadar musik dan tata cahaya. Ketika teknologi dan kreativitas bertemu, sebuah panggung dapat berubah menjadi ruang untuk bercerita dan membuat sebuah lagu terasa bukan hanya didengar, tetapi juga dilihat.

Pilih peran visual favoritmu dalam konser

Menurutmu, visual konser sebaiknya berperan seperti apa?

See More

Curated For You

Editorial Team

Related Article