Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
LOOK-2-LOGO.jpg
POPBELA.com/Winston Gomez

Intinya sih...

  • Lyodra terlihat lebih tenang, matang, dan dewasa dalam pemotretan POPCreator bulan Januari 2026.

  • Awal tahun bagi Lyodra adalah undangan yang terbuka lebar untuk melangkah maju dengan rasa percaya yang tenang.

  • Kilau Lyodra tidak hanya berhenti pada estetika semata, tetapi juga sebagai sikap batin penuh harapan dan cinta.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Kilau pada Lyodra hari pemotretan saat itu bukan hanya datang dari payet, cahaya flash, atau siluet couture yang membingkai tubuhnya dengan presisi. Ada sesuatu yang lain yang terpancar dari dirinya. Ia terlihat lebih tenang, lebih matang, dan terasa lebih dewasa. Ia bukan lagi sekadar perempuan muda dengan suara memukaunya. Ia adalah seseorang yang sedang belajar berdamai dengan dirinya sendiri, sambil tetap membiarkan cahaya itu menyala.

Tema Couture Spark untuk pemotretan POPCreator bulan Januari 2026 tersebut menjadi pintu masuk yang tepat untuk membaca fase hidup Lyodra hari ini. Fase tersebut bukan hanya sebuah perayaan, tapi juga penanda. Bahwa kilau tidak selalu berarti gaduh. Kadang ia justru hadir dalam bentuk keyakinan yang tidak lagi perlu dijelaskan panjang-panjang.

Di sela-sela pemotretan dan percakapan yang mengalir tanpa naskah, Lyodra berbicara tentang banyak hal yang tak selalu terlihat di panggung: tentang kelelahan yang dipelajari, tentang keberanian untuk melambat, tentang musik yang kini ingin ia nyanyikan dengan lebih jujur dan hidup yang tidak lagi ia jalani untuk memenuhi ekspektasi siapa pun. Sparks di sini bukan sekadar cahaya awal tahun, melainkan api kecil yang dijaga dengan sadar: cukup terang untuk menerangi langkah ke depan, cukup hangat untuk mengingatkan bahwa ia sudah sampai sejauh ini.

Pintu yang Terbuka di Awal Tahun

POPBELA.com/Winston Gomez

Dress bulu Sebastian Gunawan Signature, aksesori RACCOONANDBABIES, sepatu ASICS

Bagi banyak orang, pergantian tahun sering datang dengan jeda, ruang sunyi untuk berhenti sejenak, menimbang ulang, atau sekadar menarik napas sebelum kembali melangkah. Namun bagi Lyodra, awal tahun justru terasa seperti sebuah undangan yang terbuka lebar. Bukan sesuatu yang ingin ia amati dari jauh, melainkan pintu yang ingin segera ia lewati. 

"Aku sih exciting, ya. Melihat tahun yang baru nanti dan banyak plan ke depannya. Nggak sabar," katanya, dengan nada yang ringan, hampir seperti seseorang yang sudah lama menanti giliran untuk bergerak maju.

Antusiasme itu tidak hadir sebagai kegelisahan atau dorongan untuk berlari lebih cepat dari waktu. Justru sebaliknya, ia lahir dari rasa percaya yang lebih tenang. Kata nggak sabar diucapkannya bukan karena takut tertinggal, melainkan karena ia merasa siap. Siap menghadapi apa pun yang datang, tanpa harus memaksakan tempo. Ada keyakinan baru di sana: bahwa langkah ke depan tidak harus tergesa, selama dijalani dengan kesadaran penuh. Awal tahun, bagi Lyodra, bukan tentang mempercepat segalanya, melainkan tentang berani melangkah tanpa ragu.

Kilau yang Bertahan, Bukan Sekadar Bersinar

POPBELA.com/Winston Gomez

Maxi mini dress JULIANTO, kaus kaki beads STUDIO JEJE, aksesori RACCOONANDBABIES

Dalam Couture Spark, kilau menjadi elemen visual yang paling mudah ditangkap mata, seperti pantulan cahaya, tekstur berkilap, dan gerak yang dirancang untuk mencuri perhatian. Namun saat berbicara dengan Lyodra, jelas bahwa spark yang ia bawa hari ini tidak berhenti pada estetika semata. 

Bagi dirinya, kilau adalah sikap batin, cara memposisikan diri di hadapan hidup yang terus bergerak. "Penuh dengan harapan dan cinta," ujarnya ketika menjelaskan makna spark versinya sendiri. "Lebih banyak spread positivity, dan pastinya lebih ceria."

Kalimat itu ia ucapkan tanpa berusaha terdengar heroik, justru seperti sebuah kesimpulan yang lahir dari proses panjang.

Keceriaan yang dimaksud Lyodra bukanlah euforia sesaat atau optimisme kosong yang dipaksakan. Ia lahir dari kesadaran bahwa tidak semua fase hidup berjalan ramah, dan tidak semua hari menawarkan kemudahan. Namun di tengah itu, selalu ada pilihan tentang bagaimana seseorang ingin hadir. 

Spark, bagi Lyodra, adalah keputusan untuk tetap membawa terang. Bukan karena dunia selalu lembut, tetapi justru karena dunia sering kali tidak begitu ramah. 

Bertumbuh Bersama Orang-Orang yang Ia Percaya

Instagram.com/Lyodraofficial

Perubahan visual Lyodra dalam setahun terakhir terasa jelas, bahkan bagi mereka yang hanya mengikuti dari kejauhan. Siluetnya semakin berani, pilihan gayanya semakin tajam, dan kehadirannya di depan kamera terasa lebih yakin. Namun ketika pembicaraan sampai pada kata transformasi, Lyodra tidak pernah menempatkan dirinya sebagai pusat tunggal dari perubahan itu. 

"Aku termasuk anak yang suka explore," ujarnya jujur. "Dan untuk visual sendiri, aku beruntung dibangun sama tim-tim yang hebat." Ada rasa syukur yang konsisten muncul dalam caranya bercerita, seolah ia tahu bahwa perjalanan ini tidak mungkin ditempuh sendirian.

Baginya, proses kreatif bukan tentang arahan satu arah atau ambisi untuk selalu menjadi yang paling berbeda. Ia menyebutnya sebagai dialog; percakapan yang hidup antara ide, intuisi, dan kepercayaan. 

"Kita selalu diskusi gimana caranya bikin yang beda lagi," katanya. Eksplorasi pun menjadi ruang aman untuk mencoba, gagal, lalu mencoba lagi, tanpa tekanan untuk harus selalu sempurna. Di sanalah transformasi itu tumbuh: perlahan, kolektif, dan berakar pada rasa saling percaya. Bukan sekadar mengikuti arus, melainkan membangun sesuatu yang benar-benar terasa miliknya.

Saat Gaya Menemukan Bahasa Diri

POPBELA.com/Winston Gomez

Dress beads STUDIO JEJE, aksesori RACCOONANDBABIES, sepatu Onitsuka Tiger

Di tengah eksplorasi yang terus bergerak, ada satu titik di mana pencarian berhenti. Bukan karena kehabisan kemungkinan, melainkan karena akhirnya menemukan apa yang terasa tepat. Lyodra menyebut momen itu dengan sederhana. 

"Aku sudah menemukan titik, oh ini Lyodra banget," ujarnya. Kalimat itu mungkin terdengar ringan, tapi di baliknya tersimpan proses panjang: mencoba banyak hal, melampaui ketakutan untuk terlihat berbeda, lalu perlahan menerima bahwa identitas tidak selalu harus dikejar. 

Menemukan diri sendiri, bagi Lyodra, justru berarti berdamai dengan batas, mengetahui mana yang ingin ia pertahankan, dan mana yang tak lagi perlu ia buktikan. Kesadaran itu tercermin jelas dalam cara ia memandang fashion. Gaya, baginya, bukan sesuatu yang kaku atau seragam. Ia selalu membaca konteks dan cerita yang ingin disampaikan. 

"Kalau manggung biasanya girly, tapi tergantung acaranya. Kalau festival lebih cheerful," katanya. 

Fashion pun berubah fungsi: bukan kostum untuk bersembunyi, bukan pula armor untuk melindungi diri, melainkan bahasa yang membantu ia berkomunikasi. Lewat siluet, warna, dan gestur, Lyodra tidak sedang memainkan peran, ia sedang menerjemahkan dirinya sendiri, apa adanya.

"Style itu berkembang terus. Akan ada trendsetter baru di 2026," katanya. "Dan menurut aku itu oke." 

Meski merasa sudah menemukan identitas visualnya, Lyodra tidak berniat berhenti bereksplorasi. Eksperimen boleh sejauh apa pun, selama ia tidak kehilangan pusat gravitasinya sendiri.

Musik Menjadi Ruang yang Lebih Jujur

Instagram.com/Lyodraofficial

Jika ada satu perubahan yang paling terasa dari Lyodra hari ini, itu adalah hubungannya dengan musik, yang kini terasa lebih personal dan berani. Ia tidak lagi hanya menjadi suara bagi cerita orang lain, tetapi mulai menuliskan kisahnya sendiri. 

"Aku sudah mulai nulis lagu sendiri," ujarnya. "Ini step-up dari yang sebelumnya." 

Kalimat itu ia sampaikan tanpa gegap gempita, seolah ia sadar bahwa langkah ini bukan soal pembuktian, melainkan kebutuhan. Ia ingin musiknya tidak hanya didengar, tapi dirasakan sebagai perpanjangan dari dirinya. 

"Bukan cuma dengerin rilisannya," katanya lagi, "tapi lewat lirik, lewat melodi, mereka tahu, ‘oh ini Lyodra banget.’"

Namun perjalanan menuju suara yang lebih jujur itu tidak selalu berjalan mulus. Tahun 2025 memberinya banyak pelajaran tentang ketidakpastian, tentang pasar yang berubah cepat, tentang respons yang tak selalu bisa ditebak. 

"Banyak ups and downs. Pasar juga nggak bisa ditebak," tuturnya apa adanya. Di tengah dinamika itu, Lyodra memilih satu pegangan yang tidak ia lepaskan: kualitas. 

"Aku selalu pengen berkarya dengan kualitas yang bagus," katanya. Ia percaya, selama niatnya jujur dan prosesnya dijaga, waktu akan menemukan jalannya sendiri. Musik, baginya, bukan lagi soal kecepatan atau angka, melainkan tentang bertahan dengan integritas.

Ketika Kejujuran Menemukan Pendengarnya

Lagu "Teganya Kau" hadir tanpa ambisi untuk terdengar besar. Ia tidak dibangun dengan pretensi untuk menjadi lagu yang viral, justru sebaliknya. Kesederhanaan itulah yang menjadi kekuatannya. 

"Background ceritanya sedih," ujar Lyodra. "Banyak orang merasa, ‘gue banget.’" Lagu ini lahir dari emosi yang tidak dibungkus rapat, dan mungkin karena itu pula ia terasa dekat. Di tengah lanskap musik yang serba cepat, "Teganya Kau" hadir sebagai ruang hening, tempat pendengar berhenti sejenak dan merasa ditemani.

Lyodra melihat perubahan cara orang mendengarkan musik hari ini. Pendengar tidak lagi hanya mencari nada yang enak atau chorus yang mudah diingat, tetapi cerita yang terasa jujur. 

"Sekarang orang suka lagu yang bercerita," katanya. “Teganya Kau” tidak berusaha menghibur atau memberi solusi. Ia hanya hadir, duduk di samping, dan membiarkan perasaan itu diakui. Dalam kejujuran yang sederhana itu, lagu ini menemukan jalannya sendiri menuju banyak orang.

Seiring lagu ini beredar luas, Lyodra pun merasakan pergeseran dalam relasinya dengan publik. "Sekarang orang makin notice kalau itu lagu aku," katanya. 

Jika sebelumnya banyak lagu didengar tanpa benar-benar mengaitkannya dengan sosok di balik suara, kini ada keterhubungan yang lebih utuh. Lagu dan wajahnya mulai berjalan berdampingan, membentuk identitas yang lebih jelas. Bukan lagi sekadar suara yang lewat, tetapi cerita yang melekat dan penyanyi yang diingat.

Memberi Ruang bagi Cahaya yang Berbeda

Instagram.com/Lyodraofficial

Menariknya, setelah melalui fase musik yang begitu emosional dan melankolis, Lyodra justru merasa tertarik untuk bergerak ke arah yang lebih terang. Bukan sebagai penyangkalan atas kesedihan, melainkan sebagai kelanjutan yang alami.

"Aku pengen coba lagu-lagu beat up. Yang Temanya lebih tentang motivasi," jelas Lyodra.

Keinginan itu lahir bukan dari tuntutan pasar atau dorongan untuk terlihat kontras, melainkan dari kebutuhan personal untuk mengekspresikan spektrum emosi yang lebih utuh. Baginya, terang dan gelap tidak saling meniadakan, keduanya bisa hadir berdampingan, memberi keseimbangan yang lebih dewasa dalam bermusik.

Sikap yang sama ia bawa saat berbicara tentang tren dan kolaborasi. Di tengah industri yang bergerak cepat dan terus menawarkan hal-hal baru, Lyodra memilih untuk tetap terbuka tanpa kehilangan kendali atas dirinya sendiri. "Kalau bagus dan keren, why not?" ujarnya. 

Namun keterbukaan itu selalu disertai kesadaran bahwa setiap musisi memiliki warna yang tidak mudah tergantikan. Tren bisa datang dan pergi, kolaborasi bisa berganti, tapi identitas tidak boleh kabur. Bagi Lyodra, menjadi relevan tidak harus berarti berubah menjadi orang lain, cukup dengan terus jujur pada suara yang sudah ia temukan.

Belajar Tenang, Belajar Meluas

Instagram.com/Lyodraofficial

Jika dulu visi karier kerap hadir bersama ambisi dan dorongan untuk membuktikan diri, hari ini Lyodra berbicara tentang mimpinya dengan nada yang jauh lebih sunyi, namun justru terasa kokoh. Tidak ada lagi kebutuhan untuk berlari paling depan atau menjadi yang paling keras suaranya. 

"Aku pengen berkarya setulus-tulusnya," ujarnya. "Dengan hati yang lapang." 

Kalimat itu merangkum perubahan cara pandangnya: bahwa keberhasilan tidak selalu diukur dari kompetisi, melainkan dari kemampuan untuk bertahan, berkembang, dan tetap bahagia di jalan yang ia pilih sendiri. Visi itu tidak lagi ribut, tapi jelas arahnya.

Menariknya, banyak pelajaran penting yang membentuk ketenangan itu justru datang dari luar panggung dan studio rekaman. 

"Ketemu banyak orang dengan latar belakang berbeda bikin aku banyak berubah secara mindset," kata Lyodra. 

Interaksi sederhana, percakapan yang tidak selalu tentang musik, dan cerita hidup orang lain perlahan memperluas cara pandangnya. Ia belajar bahwa hidup tidak hanya berputar pada dirinya, bahwa empati, rasa syukur, dan kesadaran sosial ikut membentuk siapa dirinya hari ini. Di titik ini, cahaya yang ia bawa bukan lagi soal sorotan, melainkan tentang bagaimana ia hadir sebagai manusia yang lebih utuh.

Di Titik Tenang, Cahaya Itu Bersinar Lebih Terang

POPBELA.com/Winston Gomez

Dress bulu Sebastian Gunawan Signature

Menyambut tahun baru, Lyodra tidak mencari perayaan yang berlebihan. Ia memilih kembali ke hal-hal yang paling mendasar yang menjaga kakinya tetap menyentuh tanah. 

"Kumpul sama keluarga dan berdoa," katanya. Tidak ada ritual muluk, tidak ada target yang diumumkan keras-keras. Yang ada hanyalah ruang untuk refleksi, kebersamaan, dan rasa cukup. Di tengah perjalanan yang semakin sibuk, kesederhanaan justru menjadi cara baginya untuk menjaga keseimbangan.

Memasuki 2026, ada satu hal yang ingin ia tinggalkan dengan sadar: "Overthinking," ujarnya singkat. Dan satu hal yang ingin ia jaga: keceriaan. 

"Sebagai energi baru untuk setahun ke depan dan hal yang aku ingin lepaskan adalah pemikiran-pemikiran yang nggak penting. Walaupun nggak akan bisa lepas seratus persen, tapi maksudnya, aku harus bisa handle itu. Kadang pemikiran-pemikiran kayak gitu Itu bukan hanya datang dari kita sendiri, malah dari orang-orang terdekat kita. Aku harap aku bisa lebih wise lagi. Jadi yang bisa aku bawa adalah keceriaan," kata Lyodra.

Keinginan itu terdengar ringan, namun sarat makna. Yakni tentang memilih hidup yang lebih lapang, tanpa terlalu banyak beban yang tidak perlu. Kilau Lyodra hari ini pun tidak lagi bergantung pada sorotan atau validasi. Ia tumbuh dari dalam; tenang, sadar, dan mantap. Sebuah new glow yang lahir dari keberanian untuk menjadi diri sendiri, dan tetap bersinar tanpa harus meminta izin.

POPBELA.com/Winston Gomez

Maxi mini dress JULIANTO, kaus kaki beads STUDIO JEJE, aksesori RACCOONANDBABIES, sepatu ASICS

Credit

Photographer: Winston Gomez
Fashion Editor: Michael Richards
Stylist: Hafidhza Putri Andiza

Beauty Asst.: Shavira Annisa
Makeup Artist: Dicky 
Hair Stylist: Rangga Yusuf 
Nails: Linnea Beauty Bar 

Interview by: Niken Ari Prayitno
POPBELA.com Crew: Nadhira Annisa

Location: 11.11 Studio Jakarta

Editorial Team