Dampak seorang guru dapat terlihat dari langkah yang diambil murid setelah meninggalkan ruang belajar. Dedikasi tersebut hadir melalui figur Ibu Achadiningtyas (Aca), trainer Beauty for a Better Life (BFBL) Training Center Cianjur, dan Ibu Made Sumiati, guru tata kecantikan SMKN 3 Bogor.
Aca telah berkarya di industri kecantikan selama kurang lebih 45 tahun. Ia memulai karier di salon pada usia 20 tahun, kemudian menjadi pengajar di berbagai lembaga kursus dan pelatihan, asesor sertifikasi kompetensi nasional di bawah Badan Nasional Sertifikasi Profesi, serta Ketua Tiara Kusuma Kabupaten Cianjur. Sejak bergabung sebagai trainer BFBL pada 2015, ia telah membantu melatih dan meluluskan sekitar 4.800 peserta.
Di antara peserta yang ditemuinya, ada perempuan yang ingin kembali bekerja setelah jeda karier, ada yang membagi waktu belajar dengan tanggung jawab keluarga, dan ada pula yang masih meragukan kemampuannya sendiri. Aca memahami bahwa mereka tidak selalu dapat didampingi dengan cara yang sama. Ia perlu menyesuaikan ritme pengajaran, menyederhanakan materi ketika dibutuhkan, dan memberi dorongan agar peserta berani menggunakan keterampilan yang telah dipelajari.
“Mengajar tata rambut tidak cukup hanya dengan menunjukkan teknik. Saya juga harus terus belajar karena kebutuhan di industri berubah, sementara setiap peserta datang dengan kondisi yang berbeda. Ada yang cepat menguasai materi, ada pula yang perlu lebih banyak waktu dan dorongan untuk percaya pada dirinya sendiri. Bagi saya, hal yang paling berarti adalah ketika mereka mulai berani menggunakan keterampilannya untuk bekerja atau memulai usaha,” kata Aca.
Pendampingannya tidak selalu berhenti saat pelatihan selesai. Pemilik salon, termasuk alumni BFBL yang telah membuka usaha, kerap menghubungi Aca untuk meminta rekomendasi lulusan yang siap bekerja. Dengan demikian, pengalaman dan jaringan yang ia bangun ikut membantu menghubungkan peserta dengan peluang berikutnya.
Sementara di ranah pendidikan formal, Ibu Made mengabdikan dirinya mengajar tata rambut di SMKN 3 Bogor. Ketertarikannya pada dunia kecantikan membawanya memperoleh beasiswa pemerintah untuk menempuh pendidikan sebagai calon guru kecantikan pada 1986. Sejak itu, ia mengabdikan diri untuk mengajar tata rambut hingga kini mendekati masa pensiun.
Kesempatan belajar bersama L’Oréal memperdalam pemahaman Ibu Made mengenai ilmu di balik teknik tata rambut, termasuk anatomi rambut dan proses pewarnaan. Pengetahuan tersebut mengubah cara ia mengajar. Murid tidak hanya diminta mengikuti tahapan kerja, tetapi juga memahami mengapa suatu teknik digunakan dan bagaimana menyesuaikannya dengan kondisi rambut yang mereka hadapi.
“Sebelum mengikuti pelatihan bersama L’Oréal, saya sudah dapat mempraktikkan teknik pewarnaan rambut, tetapi belum memahami teorinya secara mendalam. Saya kemudian mempelajari anatomi rambut dan hair science, termasuk bagaimana warna meresap ke batang rambut serta perubahan yang terjadi selama proses pewarnaan.
Pengetahuan itu mengubah cara saya mengajar. Sekarang saya dapat menjelaskan bukan hanya apa yang harus dilakukan, tetapi juga alasan di balik setiap tahap, sehingga murid tidak sekadar menghafal prosedur, tetapi mampu menganalisis kondisi rambut dan menentukan penanganan yang tepat,” ujar Made.
Ibu Made juga mencari cara agar ilmunya menjangkau lebih banyak orang. Saat pandemi, ia membuat materi presentasi dan video agar murid dapat terus belajar dari jarak jauh. Ia menulis buku Pemangkasan dan Pewarnaan Rambut untuk Kelas XI yang telah memiliki ISBN dan digunakan oleh sejumlah guru di Indonesia. Ia pun membawa murid belajar langsung di L’Oréal Professionnel Academy dan menghadirkan guru tamu melalui kelas Hairducation agar pembelajaran di sekolah semakin dekat dengan praktik industri.