Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
gita-cinta-dari-sma_ratio-16x9.jpg
Dok. Internet

Intinya sih...

  • Debut layar lebar Prilly Latuconsina di film drama Honeymoon sebagai Kania kecil menunjukkan potensi aktingnya sejak usia muda.

  • Peran emosional Prilly dalam Surat Untukmu, Danur, dan Matt & Mou memperlihatkan konsistensi dan kedewasaan aktingnya.

  • Akting Prilly dalam film-film terbaru seperti Kukira Kau Rumah, Gita Cinta dari SMA, dan Budi Pekerti mendapat pujian luas karena keseriusannya.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Keputusan terbaru Prilly Latuconsina untuk mundur dari Sinemaku Pictures menandai babak baru dalam perjalanan kariernya di industri perfilman Indonesia. Momen ini menjadi refleksi atas kiprah Prilly sebagai aktris yang telah tumbuh dan berevolusi selama lebih dari satu dekade, dari peran-peran kecil hingga karakter utama dengan kompleksitas emosi yang kuat.

Seiring sorotan terhadap langkah barunya tersebut, publik kembali menaruh perhatian pada deretan film yang berhasil dibintangi Prilly Latuconsina sepanjang kariernya. Mulai dari debut layar lebar di Honeymoon (2013) hingga penampilan matang dalam film-film terbaru, filmografi Prilly memperlihatkan konsistensi dan keberanian dalam memilih cerita yang mengangkat tema trauma, kehilangan, dan pencarian jati diri. Lantas, film apa saja yang berhasil dibintangi Prilly Latuconsina sepanjang perjalanan kariernya? Mari simak informasinya berikut ini, Bela!

1. Honeymoon (2013)

Film drama Honeymoon menjadi debut layar lebar Prilly Latuconsina, meski masih tampil sebagai Kania kecil. Diproduksi Starvision dan diproduseri Chand Parwez Servia, film ini dibintangi Shireen Sungkar dan Nino Fernandez, serta mengangkat kisah rumah tangga yang tampak harmonis di permukaan, namun menyimpan trauma masa lalu yang dalam.

Kania kecil hadir dalam kilas balik yang memperkuat lapisan psikologis cerita, terutama terkait luka batin tokoh utama. Meski porsinya terbatas, kemunculan Prilly menjadi penanda awal langkahnya di dunia film dan menunjukkan potensinya sebagai aktris yang mampu menghidupkan emosi sejak usia muda.

2. Surat Untukmu (2016)

Dalam film drama petualangan Surat Untukmu, Prilly memerankan Gendis, remaja 16 tahun yang tumbuh tanpa kehadiran kasih sayang ibu. Film arahan Harris Nizam ini mengambil latar Dieng, Semarang, hingga Jakarta, menyajikan perjalanan fisik sekaligus pencarian identitas diri.

Penemuan surat-surat peninggalan sang ibu mendorong Gendis menelusuri masa lalu keluarganya. Peran ini menuntut Prilly tampil natural dan emosional, menggambarkan rasa kehilangan, rindu, serta keberanian remaja dalam menghadapi kebenaran hidup.

3. Danur: I Can See Ghosts (2017)

Danur menjadi titik balik besar dalam karier Prilly saat memerankan Risa Saraswati, gadis indigo yang mampu melihat makhluk tak kasatmata. Disutradarai Awi Suryadi dan diadaptasi dari buku autobiografi Risa Saraswati, film ini memadukan horor dengan kisah kesepian seorang anak.

Persahabatan Risa dengan arwah anak-anak Belanda berubah menjadi teror ketika sosok Asih muncul. Prilly berhasil menyeimbangkan kepolosan, ketakutan, dan keberanian, menjadikan Danur fenomena box office sekaligus mengukuhkannya sebagai ikon horor Indonesia.

4. Danur 2: Maddah (2018)

Sekuel Danur 2: Maddah kembali mengikuti Risa yang menghadapi teror arwah Elizabeth dengan ritual pendalaman batin. Konflik tidak hanya datang dari dunia gaib, tetapi juga dari kelelahan psikologis Risa yang hidup di antara dua dunia. Dalam film ini, Prilly menampilkan perkembangan karakter yang lebih dewasa dan rapuh. Pendekatan emosional yang lebih dalam membuat horor terasa personal, bukan sekadar mengandalkan kejutan visual.

5. Danur 3: Sunyaruri (2019)

Dalam Danur 3: Sunyaruri, Risa menghadapi teror Asih yang kembali muncul, sekaligus konflik batin akibat renggangnya hubungan dengan sahabat-sahabat gaibnya. Tema kesepian dan perpisahan menjadi fokus utama film ini. Prilly menampilkan Risa yang lebih pasrah dan lelah secara emosional. Nuansa melankolis membuat film ini terasa sebagai horor reflektif tentang kehilangan, bukan sekadar ketakutan.

6. Matt & Mou (2019)

Film romantis Matt & Mou menampilkan Prilly sebagai Mouretta, sahabat masa kecil Matt yang perlahan menyadari perasaannya sendiri. Disutradarai Monty Tiwa dan diadaptasi dari novel Wulanfadi, film ini mengangkat cinta yang tumbuh dari persahabatan.

Konflik muncul ketika perasaan tidak berjalan searah harapan. Lewat Mou, Prilly memperlihatkan karakter ceria namun rapuh, memperkuat posisinya sebagai aktris drama romantis yang dekat dengan penonton muda.

7. Kukira Kau Rumah (2022)

Dalam Kukira Kau Rumah, Prilly tampil kuat sebagai Niskala, mahasiswi dengan gangguan bipolar. Film arahan Umay Shahab ini membahas kesehatan mental dengan pendekatan empatik dan realistis. Hubungan Niskala dan Pram dihadapkan pada stigma, keluarga overprotektif, dan ketidakstabilan emosi. Akting Prilly menuai pujian luas dan disebut sebagai salah satu performa terbaik dalam kariernya.

8. Gita Cinta dari SMA (2023)

Prilly memerankan Ratna Suminar dalam adaptasi modern Gita Cinta dari SMA, disutradarai Monty Tiwa. Film ini menghidupkan kembali kisah cinta klasik dengan perspektif generasi baru. Ratna digambarkan lebih mandiri dan tegas, namun tetap lembut. Prilly berhasil menjaga esensi karakter legendaris sekaligus memberi sentuhan relevan bagi penonton masa kini.

9. Budi Pekerti (2023)

Dalam Budi Pekerti, Prilly memerankan Tita, siswi SMA yang hidupnya berubah setelah konflik keluarganya viral di media sosial. Film garapan Wregas Bhanuteja ini menyoroti perundungan digital dan penghakiman publik. Tita harus menghadapi tekanan sosial dan luka batin yang sunyi. Akting Prilly yang menahan emosi dipuji karena terasa jujur dan membumi, menjadikan film ini salah satu karya paling serius dalam filmografinya.

10. Ketika Berhenti di Sini (2023)

Prilly berperan sebagai Dita, perempuan yang berusaha berdamai dengan cinta dan kehilangan. Film arahan Umay Shahab ini menyajikan kisah tentang melepaskan masa lalu dengan pendekatan intim. Karakter Dita menuntut emosi yang tenang dan reflektif. Prilly menunjukkan kedewasaan akting melalui kesedihan yang tidak meledak, tetapi terasa dalam.

11. Bolehkah Sekali Saja Kumenangis (2024)

Dalam film ini, Prilly memerankan Tara, perempuan yang tumbuh dalam keluarga disfungsional dan terbiasa menekan emosinya. Cerita berfokus pada trauma psikologis dan pencarian ruang aman. Lewat Tara, Prilly menyampaikan pesan bahwa menangis bukan kelemahan. Film ini menjadi refleksi lembut tentang penyembuhan dan keberanian jujur pada diri sendiri.

12. Perayaan Mati Rasa (2025)

Dalam Perayaan Mati Rasa, Prilly memerankan Dinda, sosok empatik yang menjadi penyeimbang bagi Ian Antono. Film ini mengangkat isu mati rasa emosional dan kesehatan mental generasi muda. Karakter Dinda tidak hadir sebagai penyelamat, melainkan cermin kejujuran emosi. Prilly tampil subtil, memperkuat pesan bahwa hampa pun adalah bagian dari proses manusia.

13. Tinggal Meninggal (2025)

Film Tinggal Meninggal menampilkan Prilly sebagai Kerra, perempuan muda yang harus menghadapi duka berlapis. Cerita berfokus pada kesepian dan proses berdamai dengan kematian. Kerra digambarkan dengan emosi yang tertahan dan sunyi. Akting Prilly menonjolkan kedalaman rasa tanpa dialog berlebihan, memperlihatkan kematangan artistiknya.

14. Danur: The Last Chapter (2026)

Danur: The Last Chapter menjadi penutup resmi perjalanan Risa Saraswati. Disutradarai Awi Suryadi, film ini menampilkan Risa dewasa yang mencoba hidup normal dengan menutup kemampuan indigonya. Masa lalu kembali menghantui, memaksa Risa berdamai dengan trauma dan kehilangan. Prilly menghadirkan Risa yang matang dan lelah, menjadikan film ini perpisahan emosional sekaligus simbol kedewasaan kariernya.

Deretan film Prilly Latuconsina mencerminkan perjalanan akting yang terus berkembang dari waktu ke waktu. Dari semua film tersebut, mana yang jadi favoritmu, Bela?

Editorial Team