5 Tips Menghadapi Mental yang Lagi Rapuh dari Prilly Latuconsina

- Prilly Latuconsina berbagi tips menghadapi mental yang rapuh
- Keluar dari zona nyaman, perlu waktu untuk memaafkan, dan latihan pernapasan bisa membantu
- Sediakan ruang untuk diri sendiri dan temukan hal yang disukai untuk mengekspresikan perasaan
Emosi dan mental setiap orang bisa berbeda-beda, bahkan di momen-momen tertentu. Adakalanya merasa bahagia, ada juga kalanya merasa rapuh. Hal tersebut wajar terjadi mengingat kita semua merupakan manusia, bahkan tak terkecuali para public figure sekalipun.
Salah satunya adalah Prilly Latuconsina yang secara terbuka kerap membagikan perjalanannya yang tak luput dari mental breakdown. Kelelahan, baik dalam pekerjaan maupun menghadapi lingkungan atau hubungan yang toxic, pernah ia alami. Dari pengalamannya itu, artis berusia 29 tahun ini berbagi kepada Popbela secara eksklusif tentang tips menghadapi mental yang lagi rapuh. Salah satunya punya waktu untuk diri sendiri, ini deretan tips dari Prilly Latuconsina saat mental kamu tampaknya nggak baik-baik saja.
1. Keluar dari zona nyaman atau traveling

Prilly mengaku sempat kehilangan dirinya, sampai akhirnya ia memutuskan untuk bepergian atau traveling. Bahkan ia berani traveling sendiri ke tempat yang belum pernah ia datangi sebelumnya. Keluar dari zona nyaman itu dan melihat banyak hal baru membuatnya menemukan sudut pandang yang tak pernah ia miliki sebelumnya. Bahkan, melalui hal tersebut ia kembali mendapati makna dirinya dan merasa bahagia.
“Menurutku traveling itu penting banget untuk kita alami dan traveling itu nggak harus mahal. Terserah, kita bisa traveling ke mana pun, tapi yang jelas kita keluar dari zona nyaman. Kita ke tempat lain yang kita nggak pernah, supaya kita bisa melihat sudut pandang orang lain dan di tempat lain.
Karena aku traveling, aku banyak ngobrol sama orang, traveling sendiri juga, jadinya banyak bengong, banyak mikir, banyak menanyakan ke diri sendiri dan akhirnya merasa aku bahagia dengan diriku sendiri,” ceritanya.
2. Nggak apa-apa perlu waktu untuk memaafkan

Aktris film Ketika Berhenti Di Sini itu juga berbagi dirinya saat berada di fase kembali utuh sesuai dengan buku terbarunya, Retak, Luruh, Kembali Utuh. Baginya, berada di fase yang terlihat baik-baik saja itu bukan berarti sudah melupakan atau melepaskan rasa sakit atau luka yang ada dalam diri. Jika suatu saat ada trigger yang mengembalikan rasa sakit tersebut, ini merupakan hal yang wajar, termasuk saat kamu mengalaminya.
“Karena kita ada di fase kembali utuh, bukan berarti kita melupakan atau sudah sepenuhnya melepaskan rasa-rasa sakit atau luka yang pernah ada di diri kita dan itu wajar banget. Jadi, buat siapa pun yang sudah ada di fase utuh, mungkin sudah merasa baik-baik aja. Tapi tiba-tiba kalau ada trigger-nya muncul lagi, naik lagi ke permukaan perasaannya, menurut aku itu wajar banget,” katanya.
Lebih lanjut, Prilly mengatakan saat berada di momen tersebut, harus bisa menguatkan diri lagi. Ia juga berpesan bahwa nggak apa-apa kok belum bisa memaafkan dan melupakan perbuatan orang lain. Setiap orang punya waktunya sendiri untuk berdamai, tapi yang terpenting adalah bagaimana kamu juga memaafkan dirimu dulu.
“Ada kok momen-momen di mana aku baik-baik aja, tapi mendengar satu kalimat yang mungkin bisa nge-trigger aku, aku bisa nangis saat itu juga. Dan akhirnya di saat rasanya muncul, kita harus balik lagi menguatkan diri sendiri lagi. Jadi, nggak apa-apa memaafkan gitu, dan kalau kita belum bisa memaafkan itu nggak apa-apa banget, kita nggak harus memaafkan dan melupakan untuk move on.
Jadi, ya seiring berjalannya waktu aja, kapan kita bisa memaafkan? Memaafkan atau melupakan itu nggak ada timeline-nya, kita bisa memaafkan nanti 10 tahun lagi atau 5 tahun lagi. Kita nggak bisa memaafkan kejadiannya, kita nggak bisa memaafkan orang tersebut misalnya, tapi yang penting kita bisa memaafkan diri kita sendiri dulu,” pesan Prilly.
3. Latihan pernapasan bisa bantu jadi lebih tenang

Mental nggak stabil bisa karena banyak penyebab, di saat seperti ini biasanya orang cenderung melakukan hal impulsif. Prilly pun memberikan saran untuk latihan pernapasan demi menghindari tindakan impulsif yang tak bermakna. Hal ini juga yang ia lakukan saat sedang merasakan emosi negatif, sesuai dengan pesan dari psikolognya. Lalu, ia juga meninggalkan media sosial untuk lebih fokus dan mindful.
“Jadi misalnya aku lagi sedih, lagi marah, itu aku cuma diam di kamar terus bernapas. Aku breathing exercise, bernapas aja sendirian gitu. Karena kan hidupku tuh riuh banget ya. Kayak keluar rumah ketemu sama orang, buka sosmed isinya orang juga, isi WhatsApp-ku tuh grup-grup kerjaan semua, isinya orang-orang semua. Jadi, aku benar-benar meninggalkan dulu sosial media, handphone, untuk breathing exercise.
Biasanya kalau aku sedih, aku tahan nafasnya lebih lama. Sebenarnya secara medis juga kalau kita training freedive dan tahan nafas di kedalaman tertentu itu kan detak jantung jadi melambat. Nah, karena detak jantung melambat, tubuh kita tuh jadi relax. Terus abis itu jadi ngantuk, jadi cepat tidur gitu,” terang aktris yang gemar freediving ini.
“Breathing exercise itu banyak caranya. Tapi, kalau aku tarik napas 3 detik, tahan 5 detik, buang 7 detik. Dan itu lumayan bisa bikin tenang gitu. Karena itu juga yang disarankan dari psikologku sebenarnya,” tambahnya.
4. Sediakan ruang untuk diri

Selain latihan pernapasan, Prilly Latuconsina juga menganjurkan untuk menyediakan ruang untuk diri sendiri. Bertanya pada diri sendiri, menggali penyebab kamu merasakan semua emosi tersebut, bisa membantu untuk bangkit dari mental yang rapuh.
“Sebelum melakukan sesuatu yang impulsif, karena kadang kalau mental lagi nggak baik-baik saja, kita ingin melakukan sesuatu yang impulsif dan bisa jadi menyakiti diri kita. Itu juga pengalamannya dari diriku sendiri ya.
Karena aku nggak expert di mental, tapi aku selalu bawa dari pengalaman pribadi gitu. Kalau aku nggak stabil, pasti ada rasa pengen menyakiti diri sendiri. Nah, sebelum kita melakukan hal yang impulsif, menurut aku ada baiknya kita kasih ruang ke diri kita sendiri gitu,” ujarnya.
Alhasil, tindakan yang dilakukan atau ekspresi dari perasaan tersebut tersalurkan dalam hal yang lebih positif. Contohnya, Prilly yang senang untuk menulis puisi.
“Terus kita mengenali emosi. Berusaha untuk mengenali emosi kita. Kita sedih kenapa? Kita marah kenapa? Kita burnout kenapa? Dan kalau sudah ada akarnya, ya berarti tinggalkan dulu itu sejenak gitu. Jadi, ya kasih waktu diri kita untuk istirahat dari keriuhan hidup atau dunia yang kamu punya.
Ketika kita udah bisa menstabilkan dan mengenalkan emosi. Biasanya output-nya akan lebih positif gitu. Kita bisa mungkin bikin konten atau mungkin coping mekanismenya bisa mendengarkan lagu-lagu, olahraga. Kan itu jadinya lebih positif gitu,” jelasnya lagi.
5. Temukan yang disukai

Terakhir tips dari Prilly Latuconsina untuk kamu yang mau mengekspresikan perasaanmu dengan sebuah karya adalah dengan menemukan yang kamu sukai. Apa pun yang membuatmu merasa bahagia dan sukai, bisa menjadi media untuk meluapkan emosi serta kreativitasmu.
“Temuin yang kamu suka! Misalnya kamu sukanya makeup, bisa bikin kreasi makeup yang kamu mau. Atau kamu suka makan atau suka masak, kamu bisa masak. Atau kalau kamu suka nulis, ketika udah punya ruang buat diri sendiri, bisa jadi tulisannya akan semakin bagus dan semakin lancar untuk menulisnya,” katanya.
Itulah tips untuk menghadapi mental yang rapuh dari Prilly Latuconsina.


















