Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
masalah finansial
ilustrasimasalah finansial (pexels.com/Nicola Barts)

Intinya sih...

  • Tidak membuat rencana keuangan, menyebabkan gaji mengalir tanpa arah dan pengeluaran tidak terkontrol.

  • Gaya hidup konsumtif seperti belanja impulsif dan self-reward berlebihan dapat menggerus gaji tanpa terasa.

  • Small leaks (kebocoran kecil) seperti biaya parkir harian dan langganan digital juga bisa menguras gaji secara perlahan namun pasti.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Apakah kamu merasa bahwa gaji kamu hanya "numpang lewat" saja? Awal bulan masih aman, semua kebutuhan pokok terpenuhi, cicilan dan tagihan terbayarkan. Tapi mendekati pertengahan bulan, saldo sudah mulai menipis tanpa disadari. Lalu di akhir bulan, kamu kembali rutin makan mie instan agar bisa bertahan sampai hari gajian.

Siklus itu terus berulang setiap bulannya, yang kemudian membuat kamu bertanya-tanya, kenapa gaji terasa cepat habis? Terkadang, jawabannya bukan karena penghasilan kamu yang kecil, melainkan karena kesalahan finansial yang tampak sepele namun bisa berdampak fatal pada keuangan. Mau tahu apa saja? Berikut 7 kesalahan finansial yang bikin gaji cepat habis yang sudah Popbela rangkum untuk kamu!

1. Tidak membuat rencana keuangan

ilustrasi membuat rencana keuangan tahun depan (unsplash.com/Sincerely Media)

Tanpa rencana keuangan, gaji cenderung mengalir tanpa arah. Akibatnya, kamu tidak tahu kemana uang kamu pergi. Rencana keuangan (budgeting) membantu kamu untuk mengelola keuangan sesuai tujuan. Salah satu metode sederhana yang bisa kamu lakukan untuk membuat rencana keuangan adalah dengan pembagian 50-30-20 dengan rincian sebagai berikut:

  • 50% untuk kebutuhan utama: makan, transportasi, tempat tinggal, biaya internet dan tagihan

  • 30% untuk keinginan: hiburan, nongkrong, belanja non-prioritas

  • 20% untuk tabungan dan investasi

Pembagian ini bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Namun intinya, rencana keuangan dibuat agar setiap rupiahnya punya tujuan dan dikeluarkan dengan jelas. Dengan budgeting, kamu jadi tahu batas aman pengeluaran, bisa mengontrol keinginan dan memastikan masa depan tetap terjaga.

2. Gaya hidup konsumtif

ilustrasi wanita berbelanja konsumtif (pexels.com/freestocks.org)

Menggunakan barang serba mahal sering kali dianggap sebagai standar gaya hidup yang pantas. Padahal, banyak produk dengan fungsi dan kualitas yang sama namun harganya lebih terjangkau. Gaya hidup konsumtif lainnya seperti sering makan diluar, belanja impulsif saat stress, atau merasa harus selalu upgrade barang demi gengsi adalah perilaku konsumtif yang didorong oleh keinginan dan tidak terencana. Jika terus dibiarkan, pengeluaran tidak penting tapi sering ini bisa menggerus gaji tanpa terasa.

3. Self-reward berlebihan

ilustrasi self reward hemat (freepik.com/freepik)

Self-reward memang penting, tapi jika dilakukan terlalu sering justru jadi jebakan. Sedikit-sedikit memberi hadiah kepada diri sendiri dengan membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan hanya memberikan kesenangan sesaat. Keputusan untuk self-reward sering kali diambil saat kondisi emosional sedang tidak stabil. Belanja ketika kamu sedang lelah, stress atau sedang bad mood hanya akan membuat kamu menjadi rawan untuk impulsif. Akhirnya, self-reward tidak tepat sasaran, dilakukan pada waktu yang tidak tepat dan menjadi alasan pembenaran untuk belanja tanpa kontrol. Self-reward haruslah tepat dan bermanfaat karena itu merupakan bentuk apresiasi kepada diri sendiri setelah berhasil mencapai goals kamu.

4. Small leaks (kebocoran kecil)

ilustrasi langganan digital (pexels.com/FreeStock)

Biaya pengeluaran kecil sering kali dianggap remeh karena nominalnya tidak besar. Namun jika dikumpulkan, dampaknya bisa signifikan. Contohnya biaya parkir harian, uang pak ogah, pajak dan service charge di kafe atau restoran, hingga jajan-jajan kecil namun sering. Selain itu, biaya langganan digital seperti Netflix, Spotify atau aplikasi premium lainnya juga terus menggerus uangmu setiap bulannya. Evaluasi kembali apakah aplikasi berlangganan tersebut benar-benar dibutuhkan dan sering digunakan. Meski terlihat kecil, semua pengeluaran ini jika dijumlahkan bisa jadi modal untuk bertahan di akhir bulan.

5. Selalu mengikuti tren karena FOMO

FOMO (chatgpt.com)

Takut ketinggalan tren atau fear of missing out (FOMO) mendorong bayak orang untuk mengeluarkan uang demi eksistensi di media sosial. Mulai dari mencoba makanan viral, ikut kelas atau hobi yang sedang tren, hingga membuat konten seolah hidup selalu seru dan up to date. Masalahnya, keuangan sering kali menjadi korban karena keputusan diambil bukan berdasarkan kebutuhan, melainkan demi "memberi makan" media sosial.

6. Tergiur promo

ilustrasi promo belanja (pexels.com/Gustavo Fring)

Promo payday, promo tanggal kembar, diskon besar hingga tawaran paylater sering kali terasa sayang untuk dilewatkan. Padahal, promo tetaplah pengeluaran. Membeli barang karena diskon bukan karena butuh juga tetap menguras gaji. Paylater juga memberi ilusi bahwa kamu mampu membeli sekarang, lalu membayar cicilan yang terasa kecil setiap bulan. Padahal, cicilan tersebut akan menumpuk menjadi kewajiban di bulan berikutnya dan mempersempit ruang keuangan selanjutnya.

7. Tidak memiliki dana darurat

ilustrasi dana darurat (freepik.com/freepik)

Tidak ada yang tahu kapan kamu tiba-tiba jatuh sakit, tiba-tiba motor mogok dan harus dibawa ke bengkel, atau menghadapi kejadian tak terduga lainnya yang membutuhkan biaya cukup besar. Tanpa dana darurat, kamu terpaksa mengorbankan gaji kamu untuk menutup kebutuhan mendadak tersebut. Dana darurat berfungsi sebagai penyangga agar kejadian tak terduga tidak mengganggu biaya hidup bulananmu. Idealnya, dana ini terpisah dan siap digunakan kapan saja. Mulailah menabung untuk menyiapkan dana daruratmu, pastikan nominalnya cukup untuk biaya hidup selama 3-6 bulan.

Itu dia 7 kesalahan finansial yang bikin gaji cepat habis. Dengan mengenali dan memperbaiki kesalahan di atas, kamu bisa mulai mengelola gaji kamu agar bisa bertahan lebih lama.

Editorial Team

EditorAyu Utami