Penyebab Jerawat Kistik yang Perlu Kamu Tahu, agar Tidak Makin Parah

- Produksi minyak berlebih: Kelenjar minyak yang terlalu aktif dapat menyumbat pori-pori dan menciptakan lingkungan ideal bagi bakteri penyebab jerawat.
- Perubahan hormon: Fluktuasi hormon, terutama pada remaja, wanita dewasa, dan ibu hamil, dapat merangsang kelenjar minyak untuk memproduksi lebih banyak sebum.
- Infeksi bakteri Propionibacterium Acnes: Bakteri ini berkembang pesat saat pori-pori tersumbat dan memicu peradangan hebat, menyebabkan jerawat kistik semakin besar dan sulit sembuh.
Jerawat kistik (cystic acne) merupakan jerawat inflamasi berat yang terjadi ketika pori-pori kulit tersumbat oleh minyak berlebih, sel kulit mati, dan bakteri, lalu berkembang menjadi infeksi yang lebih dalam. Jerawat ini biasanya muncul di area wajah, rahang, dagu, leher, dada, hingga punggung. Karena letaknya yang dalam, jerawat kistik sering terasa sakit saat disentuh dan membutuhkan waktu lama untuk sembuh.
Nah, kondisi ini tidak hanya mengganggu penampilan, tetapi juga berisiko meninggalkan bekas jerawat yang sulit dihilangkan. Oleh karena itu, penting untuk memahami penyebab jerawat kistik agar penanganannya bisa lebih tepat dan efektif.
1. Produksi minyak berlebih

Salah satu penyebab utama jerawat kistik adalah produksi sebum yang berlebihan. Kelenjar minyak yang terlalu aktif dapat menyumbat pori-pori, terutama jika tidak dibersihkan dengan baik. Ketika minyak bercampur dengan sel kulit mati, pori-pori akan tersumbat dan menciptakan lingkungan ideal bagi bakteri penyebab jerawat untuk berkembang. Produksi minyak berlebih sering dialami oleh pemilik kulit berminyak dan kombinasi, terutama saat cuaca panas atau lembap.
2. Perubahan hormon

Fluktuasi hormon menjadi penyebab jerawat kistik yang sangat umum, terutama pada remaja, wanita dewasa, dan ibu hamil. Hormon androgen dapat merangsang kelenjar minyak untuk memproduksi lebih banyak sebum. Kondisi ini sering terjadi saat pubertas, menstruasi, kehamilan, atau akibat sindrom PCOS (Polycystic Ovary Syndrome). Tak heran jika jerawat kistik sering muncul di area dagu dan rahang yang berkaitan erat dengan hormon.
3. Infeksi bakteri Propionibacterium Acnes

Bakteri Cutibacterium acnes (sebelumnya dikenal sebagai Propionibacterium acnes) berperan besar dalam pembentukan jerawat kistik. Ketika pori-pori tersumbat, bakteri ini berkembang pesat dan memicu peradangan hebat. Karena infeksi terjadi di lapisan kulit yang lebih dalam, jerawat kistik cenderung lebih besar, merah, dan nyeri.
4. Penumpukan sel kulit mati

Regenerasi kulit yang tidak optimal dapat menyebabkan sel kulit mati menumpuk di permukaan kulit. Jika sel-sel ini masuk ke dalam pori-pori dan bercampur dengan minyak, sumbatan akan terbentuk. Dalam kondisi tertentu, sumbatan ini bisa berkembang menjadi jerawat kistik yang parah. Kurangnya eksfoliasi atau penggunaan produk yang tidak sesuai sering memperburuk kondisi ini.
5. Kebiasaan menyentuh dan memencet jerawat

Sering menyentuh wajah dengan tangan kotor atau memencet jerawat dapat mendorong bakteri masuk lebih dalam ke kulit. Hal ini dapat memperparah peradangan dan menyebabkan jerawat kistik semakin besar dan sulit sembuh. Memencet jerawat kistik juga meningkatkan risiko bekas jerawat permanen.
6. Pola makan tidak seimbang

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsumsi makanan tinggi gula, produk susu, dan makanan olahan dapat memicu peradangan dan memperburuk jerawat kistik. Makanan dengan indeks glikemik tinggi dapat meningkatkan kadar insulin, yang kemudian merangsang produksi hormon penyebab jerawat. Kurangnya asupan nutrisi seperti zinc, vitamin A, dan omega-3 juga dapat memengaruhi kesehatan kulit.
Karena termasuk jerawat inflamasi berat, jerawat kistik tidak boleh dianggap sepele. Dengan memahami penyebabnya secara menyeluruh, kamu bisa mengambil langkah pencegahan dan perawatan yang lebih efektif untuk menjaga kesehatan kulit jangka panjang.


















