Meskipun niacinamide dikenal sebagai kandungan yang ramah untuk banyak jenis kulit, tetap ada kondisi tertentu yang bisa memicu munculnya jerawat setelah pemakaian. Untuk memahami kenapa pakai niacinamide malah jerawatan, berikut beberapa penyebab paling umum yang sering tidak disadari.
1. Kadar niacinamide terlalu tinggi
Salah satu penyebab paling umum adalah konsentrasi yang terlalu tinggi, misalnya 10 persen ke atas. Bagi sebagian orang, terutama pemula, kadar ini bisa terasa terlalu kuat dan memicu iritasi ringan.
Kulit yang belum terbiasa dengan bahan aktif bisa mengalami kemerahan, rasa perih, atau muncul bruntusan kecil yang kemudian berkembang menjadi jerawat. Reaksi ini bukan berarti niacinamide adalah kandungan yang buruk, melainkan kulit butuh waktu untuk beradaptasi.
Jika kamu baru mulai, sebaiknya pilih kadar yang lebih rendah, misalnya 2–5 persen, lalu tingkatkan secara bertahap sesuai toleransi kulit.
2. Skin barrier sedang rusak
Skin barrier yang terganggu membuat kulit lebih sensitif terhadap bahan aktif apa pun, termasuk niacinamide. Saat lapisan pelindung kulit melemah, kulit lebih mudah kehilangan kelembapan dan rentan mengalami peradangan.
Tanda skin barrier rusak biasanya meliputi rasa perih saat memakai skincare, kemerahan, terasa kering ketarik, atau muncul jerawat kecil meradang. Dalam kondisi ini, bahan aktif yang sebenarnya lembut pun bisa memicu breakout.
Jika jerawat muncul bersamaan dengan tanda-tanda tersebut, bisa jadi masalah utamanya bukan pada niacinamide, melainkan kondisi barrier yang belum pulih.
3. Salah kombinasi dengan bahan aktif lain
Menggabungkan niacinamide dengan AHA, BHA, retinol, atau benzoyl peroxide dalam satu rutinitas tanpa jeda bisa membuat kulit “stres”. Terlalu banyak bahan aktif sekaligus berisiko menimbulkan iritasi.
Overlayering atau penggunaan berlapis-lapis produk aktif sering menjadi penyebab tersembunyi jerawat yang tiba-tiba muncul. Bukan karena satu kandungan saja, melainkan akumulasi efeknya.
Coba evaluasi kembali rutinitas skincare kamu. Sederhanakan langkah perawatan dan beri waktu jeda agar kulit tidak kewalahan.
4. Reaksi purging yang disalahartikan
Purging sering disamakan dengan breakout, padahal keduanya berbeda. Purging biasanya muncul di area yang memang sering berjerawat dan terjadi karena percepatan regenerasi kulit.
Perlu diketahui, niacinamide jarang menyebabkan purging karena bukan termasuk eksfoliator. Namun, jika dipakai bersamaan dengan AHA atau retinol, reaksi purging bisa saja terjadi akibat bahan tersebut.
Jika jerawat muncul di area yang biasa berjerawat dan membaik dalam beberapa minggu, kemungkinan itu purging. Tapi jika muncul di area baru dan makin parah, bisa jadi itu breakout akibat iritasi.
5. Formula produk tidak cocok dengan tipe kulit
Bukan hanya kandungan utama yang berpengaruh, tetapi juga base formula produk. Tekstur yang terlalu berat atau terlalu oklusif bisa menyumbat pori, terutama pada kulit berminyak.
Sebaliknya, kulit kering atau sensitif mungkin membutuhkan formula yang lebih lembut dan melembapkan. Setiap tipe kulit memiliki kebutuhan berbeda, sehingga cocok atau tidaknya produk bisa sangat individual.
Jadi, meskipun mengandung niacinamide, faktor lain dalam formula tetap perlu diperhatikan.
6. Terlalu sering dipakai dalam satu hari
Pemakaian berlebihan juga bisa memicu iritasi mikro yang akhirnya berkembang menjadi jerawat. Kulit butuh waktu untuk beradaptasi dengan bahan aktif, meskipun tergolong ringan.
Untuk pemula, cukup gunakan satu kali sehari terlebih dahulu, lalu lihat respons kulit selama satu hingga dua minggu. Konsistensi jauh lebih penting daripada intensitas berlebihan dalam waktu singkat.