Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Andropause pada Pria: Kenali Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya
Andropause (Dok. magnific.com/magnific)
  • Andropause adalah penurunan testosteron bertahap pada pria, umumnya seiring usia, yang diagnosisnya harus mempertimbangkan gejala dan pemeriksaan hormon.

  • Gejalanya dapat meliputi kelelahan, berkurangnya massa otot, libido menurun, perubahan suasana hati, sulit konsentrasi, dan gangguan tidur, tetapi keluhan serupa bisa berasal dari kondisi lain.

  • Risiko dipengaruhi obesitas, diabetes tipe 2, stres, kurang tidur, merokok, alkohol, penyakit, atau obat tertentu; penanganan mencakup gaya hidup sehat dan konsultasi dokter untuk evaluasi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Memasuki usia 40 tahun ke atas, tubuh pria mulai mengalami berbagai perubahan, mulai dari stamina yang tidak lagi sama hingga perubahan suasana hati. Sebagian pria mungkin menganggap kondisi tersebut sebagai hal biasa akibat bertambahnya usia. Namun, jika perubahan ini disertai penurunan gairah seksual, gangguan tidur, dan berkurangnya massa otot, ada baiknya kamu mulai mengenal kondisi yang disebut andropause.

Andropause kerap dijuluki sebagai menopause pria karena berkaitan dengan penurunan hormon testosteron. Meski demikian, kondisi ini berbeda dari menopause pada perempuan. Penurunan testosteron pada pria umumnya berlangsung secara bertahap, bukan berhenti secara mendadak. Lantas, apa saja gejala andropause, faktor yang meningkatkan risikonya, dan bagaimana cara mengatasinya? Yuk, simak penjelasan lengkapnya berikut ini!

1. Apa itu andropause?

Andropause (Dok. magnific.com/prostooleh)

Andropause, yang juga dikenal sebagai late-onset hypogonadism dalam konteks medis tertentu, merupakan kondisi ketika kadar hormon testosteron menurun dan dapat disertai berbagai gejala pada pria. Testosteron sendiri berperan penting dalam mengatur gairah seksual, produksi sperma, massa otot, kepadatan tulang, serta sejumlah fungsi tubuh lainnya.

Seiring bertambahnya usia, kadar testosteron pria dapat menurun secara perlahan. Penurunan ini umumnya mulai terlihat sejak usia sekitar 30–40 tahun, dengan perkiraan rata-rata sekitar 1 persen per tahun setelah usia 40 tahun. Namun, laju penurunan tersebut bisa berbeda pada setiap individu.

Perlu diketahui bahwa tidak semua pria yang mengalami penurunan testosteron otomatis mengalami andropause. Diagnosis perlu mempertimbangkan gejala yang dirasakan dan hasil pemeriksaan hormon. Sebab, beberapa keluhan yang menyerupai andropause juga dapat disebabkan oleh kondisi kesehatan lain.

2. Gejala andropause yang perlu dikenali

Andropause (Dok. magnific.com/magnific)

Gejala andropause dapat muncul secara bertahap sehingga terkadang sulit disadari. Keluhannya pun tidak selalu sama pada setiap pria. Berikut beberapa tanda yang perlu kamu ketahui.

a. Perubahan Fisik dan Penurunan Energi

Salah satu gejala yang mungkin muncul adalah tubuh terasa lebih cepat lelah meskipun aktivitas sehari-hari tidak mengalami perubahan berarti. Pria juga dapat merasakan penurunan stamina dan kekuatan fisik.

Selain itu, berkurangnya kadar testosteron dapat berkaitan dengan penurunan massa otot dan peningkatan lemak tubuh, terutama jika tidak diimbangi aktivitas fisik serta pola makan yang sehat. Dalam jangka panjang, kadar testosteron yang rendah juga dapat memengaruhi kepadatan tulang.

Meski begitu, tubuh yang mudah lelah atau perubahan bentuk badan tidak selalu menandakan andropause. Kurang tidur, pola makan, stres, dan penyakit tertentu juga bisa menjadi penyebabnya.

b. Penurunan Gairah Seksual

Perubahan pada kehidupan seksual termasuk gejala yang cukup sering dikaitkan dengan kadar testosteron rendah. Beberapa pria mungkin merasakan penurunan libido atau gairah seksual dibandingkan sebelumnya.

Kualitas ereksi juga dapat mengalami perubahan. Namun, disfungsi ereksi memiliki banyak kemungkinan penyebab, termasuk gangguan pembuluh darah, diabetes, efek obat-obatan, dan faktor psikologis.

Sementara itu, masalah kesuburan tidak bisa langsung dianggap sebagai gejala andropause. Produksi sperma dipengaruhi berbagai faktor, sehingga diperlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui penyebabnya.

c. Perubahan Suasana Hati dan Konsentrasi

Tidak hanya berdampak pada kondisi fisik, perubahan hormon juga dapat berkaitan dengan kondisi psikologis. Sebagian pria mungkin menjadi lebih mudah tersinggung, mengalami perubahan suasana hati atau mood swing, serta merasa kurang bersemangat dalam menjalani aktivitas.

Kesulitan berkonsentrasi dan rasa cemas juga dapat muncul. Akan tetapi, keluhan tersebut bukan tanda khusus andropause karena dapat berkaitan dengan stres, depresi, gangguan tidur, maupun masalah kesehatan lainnya.

d. Gangguan Tidur

Pria yang mengalami kadar testosteron rendah mungkin mengeluhkan kualitas tidur yang menurun atau merasa tidak cukup beristirahat setelah tidur semalaman. Gangguan tidur, termasuk insomnia, juga dapat memperburuk kelelahan dan perubahan suasana hati. Di sisi lain, kurang tidur berpotensi memengaruhi kadar testosteron. Karena itu, hubungan antara tidur dan hormon perlu dilihat secara menyeluruh, bukan hanya dari satu gejala.

3. Penyebab dan faktor risiko andropause

Andropause (Dok. Alodokter)

Penuaan merupakan salah satu faktor yang berkaitan dengan penurunan kadar hormon testosteron pada pria. Seiring bertambahnya usia, produksi hormon ini dapat menurun secara bertahap. Namun, proses tersebut tidak selalu menimbulkan gejala yang sama pada setiap pria. Selain faktor usia, kondisi kesehatan dan kebiasaan sehari-hari juga dapat memengaruhi kadar testosteron serta memperburuk gejala andropause.

Obesitas menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan karena kelebihan lemak tubuh berkaitan dengan perubahan metabolisme hormon dan peningkatan risiko kadar testosteron rendah. Kondisi ini juga sering ditemukan pada pria dengan diabetes tipe 2, yang dapat memengaruhi keseimbangan hormon dan kesehatan seksual. Oleh karena itu, menjaga berat badan dan mengelola kadar gula darah menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan pria seiring bertambahnya usia.

Selain kondisi fisik, stres kronis juga dapat memengaruhi kesehatan secara keseluruhan. Tekanan yang berlangsung dalam waktu lama dapat mengganggu kualitas tidur, memicu perubahan suasana hati, dan menurunkan energi untuk menjalani aktivitas sehari-hari. Kebiasaan merokok serta konsumsi alkohol berlebihan juga dapat berdampak buruk terhadap kesehatan tubuh dan fungsi seksual.

Kurang tidur menjadi faktor lain yang tidak boleh diabaikan. Pola tidur yang tidak teratur atau durasi tidur yang terlalu pendek dapat mengganggu keseimbangan hormon, termasuk testosteron. Di samping itu, penyakit tertentu dan penggunaan obat-obatan tertentu juga dapat memengaruhi produksi hormon sehingga perlu diperiksa lebih lanjut apabila muncul gejala yang mencurigakan.

Memahami berbagai faktor tersebut dapat membantu pria mengambil langkah pencegahan sejak dini, seperti menerapkan pola makan seimbang, berolahraga secara rutin, tidur cukup, dan mengelola stres. Meski demikian, perubahan gaya hidup tidak selalu cukup untuk mengatasi kadar testosteron yang rendah akibat kondisi medis tertentu. Jika gejala berlangsung terus-menerus atau mulai mengganggu aktivitas, sebaiknya konsultasikan dengan dokter untuk mengetahui penyebabnya dan menentukan penanganan yang tepat.

4. Bagaimana andropause didiagnosis?

Andropause (Dok. halodoc)

Jika kamu mengalami beberapa gejala yang diduga berkaitan dengan andropause, sebaiknya jangan langsung menyimpulkan bahwa penyebabnya adalah penurunan hormon testosteron. Langkah yang tepat adalah berkonsultasi dengan dokter untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Pasalnya, gejala seperti mudah lelah, perubahan suasana hati, dan penurunan gairah seksual juga dapat disebabkan oleh kondisi kesehatan lain.

Proses diagnosis biasanya diawali dengan wawancara medis dan pemeriksaan fisik. Dokter akan menanyakan gejala yang dialami, kapan keluhan mulai muncul, riwayat kesehatan, obat-obatan yang dikonsumsi, serta kebiasaan sehari-hari. Informasi tersebut membantu dokter memahami kondisi pasien dan mengidentifikasi kemungkinan penyebab keluhan.

Selanjutnya, dokter dapat menyarankan tes darah untuk mengukur kadar testosteron. Jika hasil pemeriksaan menunjukkan kadar testosteron rendah, tes biasanya perlu diulang pada pagi hari untuk memastikan hasilnya, mengingat kadar hormon ini dapat berubah sepanjang hari. Diagnosis tidak hanya didasarkan pada hasil tes darah, tetapi juga mempertimbangkan gejala yang dialami dan hasil pemeriksaan secara keseluruhan.

Jika diperlukan, dokter juga dapat merekomendasikan pemeriksaan tambahan untuk mengetahui penyebab rendahnya testosteron atau menyingkirkan kemungkinan penyakit lain yang memiliki gejala serupa. Dengan demikian, penanganan yang diberikan dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan setiap pasien.

5. Cara mengatasi andropause agar kualitas hidup tetap terjaga

Andropause (Dok. Alodokter)

Penanganan andropause bergantung pada penyebab, tingkat keparahan gejala, dan hasil pemeriksaan medis. Jika ditemukan faktor gaya hidup yang berperan, dokter dapat menyarankan sejumlah perubahan kebiasaan untuk mendukung kesehatan tubuh.

a. Rutin Berolahraga

Aktivitas fisik secara teratur dapat membantu menjaga massa otot, kesehatan jantung, berat badan, dan kualitas tidur. Kamu bisa memulainya dengan berjalan kaki, bersepeda, berenang, atau melakukan latihan kekuatan sesuai kemampuan.

Sebagai panduan umum, orang dewasa dianjurkan melakukan aktivitas aerobik intensitas sedang sekitar 150 menit per minggu, ditambah latihan penguatan otot setidaknya dua hari per minggu. Namun, sesuaikan jenis dan intensitas olahraga dengan kondisi kesehatan masing-masing.

b. Menjaga Pola Makan dan Berat Badan

Pola makan bergizi seimbang membantu mendukung kesehatan metabolisme dan fungsi tubuh secara keseluruhan. Usahakan mengonsumsi sayuran, buah-buahan, protein, biji-bijian utuh, serta sumber lemak sehat dalam jumlah yang sesuai kebutuhan.

Jika mengalami kelebihan berat badan, penurunan berat badan secara bertahap dapat membantu memperbaiki kesehatan metabolik dan berpotensi meningkatkan kadar testosteron pada sebagian pria.

c. Memperbaiki Kualitas Tidur

Orang dewasa umumnya membutuhkan tidur sekitar 7–9 jam setiap malam. Untuk mendapatkan tidur yang lebih berkualitas, cobalah tidur dan bangun pada jam yang konsisten, membatasi kafein menjelang waktu tidur, serta mengurangi penggunaan perangkat elektronik sebelum beristirahat.

Jika kamu sering mendengkur keras, terbangun dengan rasa terengah-engah, atau tetap merasa sangat lelah meskipun sudah cukup tidur, konsultasikan kondisi tersebut kepada dokter karena bisa berkaitan dengan gangguan tidur.

d. Mengelola stres

Stres berkepanjangan dapat memengaruhi kondisi emosional, kualitas tidur, dan kesehatan secara keseluruhan. Luangkan waktu untuk melakukan kegiatan yang membantu tubuh lebih rileks, seperti berjalan santai, berolahraga, melakukan latihan pernapasan, atau menjalani hobi.

Jika kecemasan, suasana hati yang terus menurun, atau hilangnya minat terhadap aktivitas berlangsung lama hingga mengganggu kehidupan sehari-hari, jangan ragu mencari bantuan profesional.

e. Menghindari Kebiasaan yang Merugikan Kesehatan

Mengurangi konsumsi alkohol, berhenti merokok, dan menghindari penggunaan suplemen atau produk peningkat testosteron tanpa pengawasan medis merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan.

Perlu diingat, produk yang mengklaim dapat meningkatkan testosteron secara instan belum tentu terbukti efektif atau aman. Sebaiknya, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter sebelum mengonsumsi produk semacam itu.

Andropause merupakan kondisi yang perlu dipahami dengan baik karena penurunan testosteron dapat berkaitan dengan perubahan fisik, kehidupan seksual, suasana hati, hingga kualitas tidur. Meski sering dikaitkan dengan proses penuaan, tidak semua pria akan mengalami gejala yang sama atau membutuhkan penanganan hormon.

Jika kamu mulai merasakan kelelahan berkepanjangan, penurunan gairah seksual, perubahan suasana hati, atau keluhan lain yang mengganggu aktivitas, jangan langsung menganggapnya sebagai bagian normal dari bertambahnya usia. Pemeriksaan medis dapat membantu menemukan penyebab yang tepat sekaligus menentukan penanganan yang sesuai.

Menjaga pola makan, rutin berolahraga, tidur cukup, dan mengelola stres merupakan langkah yang bisa dilakukan untuk mendukung kesehatan seiring bertambahnya usia. Yang terpenting, jangan ragu mencari bantuan medis agar kualitas hidup tetap terjaga.

Curated For You

Editorial Team

Related Article