Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
Install

10 Puisi Hari Ayah yang Menyentuh dan Penuh Arti

10 Puisi Hari Ayah yang Menyentuh dan Penuh Arti
Freepik.com/freepik
Share Article

Membacakan puisi Hari Ayah menjadi cara terbaik untuk mengungkapkan kasih sayang kepada sosok laki-laki yang tak kenal lelah membesarkan dan menyayangimu di momen Hari Ayah. Sebab, untaian kata penuh makna yang terkandung di dalamnya dapat dengan mudah dimengerti oleh hati sanubari.

Dengan susunan bait yang mengandung sebuah pengharapan baik, maka membacakannya bak melantunkan doa bagi ayahanda tercinta. Terlebih jika raganya sudah tidak ada di dunia, pembacaan puisi jadi salah satu sarana untuk mengenangnya.

Nah, di dalam artikel ini, Popbela akan bagikan 10 puisi hari ayah yang menyentuh untukmu dalam rangka memperingati Hari Ayah Nasional. Yuk, simak!

  1. 1. Pesan dari Ayah

    freepik.com/prostooleh
    freepik.com/prostooleh

    Oleh: Joko Pinurbo

    Datang menjelang petang, aku tercengang melihat
    Ayah sedang berduaan dengan telepon genggam
    Di bawah pohon sawo di belakang rumah.
    Ibu yang membelikan Ayah telepon genggam
    Sebab Ibu tak tahan melihat kekasihnya kesepian.
     
    “Jangan ganggu suamiku,”
    Ibu cepat-cepat meraih tanganku.
    “Sudah dua hari ayahmu belajar
    Menulis dan mengirim pesan untuk Ibu.
    Kasihan dia, sepanjang hidup berjuang melulu.”
     
    Ketika pamit hendak kembali ke Jakarta,
    Aku sempat mohon kepada Ayah dan Bunda
    Agar sering-sering telepon atau kirim pesan, sekadar
    Mengabarkan keadaan, supaya pikiranku tenang.
     
    Ayah memenuhi janjinya.
    Pada suatu tengah-malam
    Telepon genggamku terkejut mendapat kiriman
    Pesan dari Ayah,
    Bunyinya: “Sepi makin modern.”

    Langsung kubalas: “Lagi ngapain?”

    Disambung:
    “Lagi berduaan dengan ibumu di bawah pohon sawo
    di belakang rumah.
    Bertiga dengan bulan.
    Berempat dengan telepon genggam.
    Balas!”
     
    Kubalas dengan ingatan:
    Di bawah pohon sawo itu
    Puisi pertamaku lahir.
    Di sana aku belajar menulis
    hingga jauh malam sampai tertidur kedinginan,
    Lalu Ayah membopong tubuhku yang masih lugu
    Dan membaringkannya di ranjang Ibu.

  2. 2. Seorang Ayah yang Bijak

    freepik.com/master1305
    freepik.com/master1305

    Oleh: Edijushanan

    Seorang ayah yang bijak
    Mendongeng untuk anak-anaknya
    Mengantar tidur malam:
    Adalah suami-istri yang miskin,
    Hidup dengan kemiskinannya.

    Setiap hari yang suami pergi
    Ke sungai mencari ikan,
    Dan yang istri pergi ke hutan
    Mencari kayu bakar.

    Sore harinya
    Yang suami pulang dengan membawa
    Ikan banyak.

    Di tengah jalan, di sebuah kampung,
    Ikannya yang besar-besar dijualnya.
    Lalu dibelikan setengah liter beras.

    Yang istri pulang dari hutan
    Dengan membawa seikat besar
    Dan seikat kecil kayu bakar; yang
    Ikatan besar dijualnya di warung kopi.
    Lalu dibelikan setengah liter beras.

    Dalam mengakhiri dongengnya,
    Sang ayah bertanya kepada anak-anaknya:

    “Tahukah kalian apa makna cerita itu?”
    Tidak ada jawaban; anak-anaknya sudah tidur semua.

    Pertanyaan itu kembali berputar di benak sang ayah:
    "Itukah hidup?"

    Ah untunglah anak-anak sudah tidur semua.
    Mereka tak memikirkan pertanyaan itu, pikirnya.
    Lalu ia mengepulkan asap rokok kawung;
    bergulung-gulung melingkar-lingkar.
    Ia tersenyum, seperti menemukan yang semua:
    Hidup itu lingkaran?

  3. 3. Puisi Hari Ayah

    Pexels.com/Andrea Piacquadio
    Pexels.com/Andrea Piacquadio

    Oleh: Pramoedya Ananta Toer

    "Tidak, Bapak, aku tak akan kembali ke kampung. Aku mau pergi yang jauh”

    Sebenarnya, aku ingin kembali.
    Pulang ke teduh matamu.
    Berenang di kolam yang kau beri nama rindu.
    Aku, ingin kembali
    Pulang menghitung buah mangga yang ranum di halaman.
    Memetik tomat di belakang rumah nenek.

    Tapi jalanan yang jauh, cita-cita yang panjang tak mengizinkanku.
    Mereka selalu mengetuk daun pintu saat aku tertidur.
    Menggaruk-garuk bantal saat aku bermimpi.
    Aku ingin kembali ke rumah, Ayah.

    Tapi nasib memanggilku.
    Seekor kuda sembrani datang, menculikku dari alam mimpi.
    Membawaku terbang melintasi waktu dan dimensi kata-kata.
    Aku menyebut pulang, tapi ia selalu menolaknya.
    Aku menyebut rumah, tapi ia bilang tak pernah ada rumah.
    Aku sebut kampung halaman, ia bilang kampung halaman tak pernah ada

    Maka aku menungganginya.
    Maka aku menungganginya.
    Menyusuri hutan-hutan jati.

    Melihat rumput-rumput yang terbakar di bawahnya.
    Menyaksikan sepur-sepur yang batuk membelah tanah Jawa
    Arwah-arwah pekerja bergentayangan menuju ibu kota.
    Mencipta banjir dari genangan air mata

    Arwah-arwah buruh menggiring hujan air mata, mata mereka menyeret banjir.
    Kota yang tua telah lelah menggigil, sudah lupa bagaimana bermimpi dan bangun pagi.
    Hujan ingin bercerai dengan banjir.
    Tapi kota yang pikun membuatnya bagai cinta sejati dua anak manusia.

    Aku tak bisa pulang lagi, Ayah, kuda ini telah menambatkan hatiku di pelananya.
    Orang-orang datang ke pasar malam, satu persatu, seperti katamu
    Berjudi dengan nasib, menunggu peruntungan menjadi kaya raya.
    Tapi seperti rambu lalu lintas yang setia, sedih dan derita selalu berpelukan dengan setia.
    Aku tak bisa pulang lagi, Ayah, kuda ini telah menambatkan hatiku di pelananya.

    Orang bilang, apa yang ada di depan manusia hanya jarak.
    Dan batasnya adalah ufuk.
    Begitu jarak ditempuh sang ufuk menjauh.
    Yang tertinggal jarak itu juga-abadi.
    Di depan sana ufuk yang itu juga-abadi.
    Tak ada romantika cukup kuat untuk dapat menaklukan dan menggenggamnya dengan tangan-jarak dan ufuk abadi itu.

  4. 4. Ayah dan Burung-Burung

    Freepik.com/prostooleh
    Freepik.com/prostooleh

    Oleh: Radial Tanjung Banua

    Aku terbayang ayah yang melangkah di pematang
    Sawah kenangan.

    Sesekali langkahnya tertegun
    Ngungun bersama embun.

    Kadang ayah
    Bagai orang-orangan dari jerami
    Di tengah menguning padi.

    Kusentakkan tali rindu
    Di antara kami.

    Maka tersintaklah ayah
    Bersama riuh burung-burung yang berlepasan
    Tak kembali lagi.

  5. 5. Ayah Segalanya untukku

    Freepik.com/prostooleh
    Freepik.com/prostooleh

    Oleh: Clara

    Ayah..
    Beribu kata telah kau ucapkan..
    Beribu cinta tlah kau berikan.
    Beribu kasih telah kau curahkan..
    Hanya untuk anakmu..

    Ayah..
    Kau ajarkanku tentang kebaikan..
    Kau tunjukanku tentang arti cinta..
    Kau jelaskanku tentang makna kehidupan..
    Dan kau mendidikku dengan sungguh kasih sayang...

    Ayah..
    Betapa mulianya hatimu..
    Kau korbankan segalanya demi anakmu..
    Kau banting tulang hanya untuk anakmu..
    Kini ku berjanji untuk semua kerja kerasmu..
    Ku berjanji untuk semua kasih sayangmu..
    Dan ku berjanji untuk ketulusan hatimu..
    Bahwa aku akan selalu menjagamu..
    Aku akan selalu menyayangi mu hingga akhir hidupku..
    Terima kash ayah untuk semua kasih sayangmu...

  6. 6. Titip Rindu untuk Ayah

    Freepik.com/prostooleh
    Freepik.com/prostooleh

    Oleh: Riska Cania Dewi

    Hening malam
    Serpihan-serpihan harapan datang

    Merindu kau kembali bersama

    Setitik harapan ingin kau kembali datang

    Berkumpul bersama kami semua
    Air mata menyesakkan dada

    Harapan tersapu badai kekecewaan

    Apa daya mengharapkanmu datang

    Kau tak akan kembali sebab kau telah bersama Tuhan
    Ku panggil merpati menyampaikan salam rindu dari anakmu untuk ayah tercinta.

  7. 7. Setiap Ayah

    Freepik.com/freepik
    Freepik.com/freepik

    Oleh: Alex R. Nainggolan

    Di tubuh setiap ayah
    Akan ada jalan pulang
    Rumah yang bagai selimut
    Dari kepala yang kusut
    Telah kugali-gali
    Tangis yang kecut
    Dan terduduk di sudut

    Segala sesal yang sampai sekarang
    Hanya tertunduk
    Maka aku ingat ayah
    Setiap percakapan
    Yang abai kutafsirkan
    Lalu ayah mengerubung
    Di setiap hari
    Bahkan bertahun setelah dirinya pergi

    Di setiap mata ayah
    Selalu ada kegembiraan
    Meski hanya sebentar
    Bertemu
    Atau percakapan yang biasa saja
    Dengan anaknya

  8. 8. Titip Rindu untuk Ayah

    Freepik.com/andreas
    Freepik.com/andreas

    Oleh: Mentorkata

    Masih teringat jelas..
    Wajah itu berubah menjadi pucat.. Badan tegap itu berubah menjadi kaku...
    Masih teringat jelas.. saat orang bertanya:
    "Mana anaknya, cium dulu ayahnya untuk yang terakhir. Hati-hati air matanya ya, jangan sampai kena ayahnya"...
    Masih teringat jelas...
    Saat tanah basah itu menutupi jiwa dan raga orang yang benar-benar mencintaiku....

    Ayah..
    Kepergianmu membuatku kehilangan arah.. padahal
    Belum sempat ku bertanya bagaimana caranya aku menjalani kehidupan ini..
    Bagaimana agar aku tidak menyerah akan keadaan yang mash sangat tidak aku tahu dan Belum bisa aku mengerti...
    Bagaimana seharusnya aku menghadapi dunia yang penuh tipu ini...
    Tahukah ayah, aku sering tertawa, tapi tawa itu palsu karena sebenarnya dalam hati aku Sering menangis..

    Ayah..
    Nanti akan kuceritakan lebih banyak lagi bagaimana cara aku menjalani hidup ini Tanpamu...

  9. 9. Berlima

    Freepik.com/freepik
    Freepik.com/freepik

    Oleh: JOR

    Dulu kami berlima
    Hidup berirama
    Satu atap bersama

    Tahun 2020
    Datang membawa sendu
    Dipaksa terhenti jumlah itu
    Berkurang satu

    Banjir kesedihan
    Berpegangan dan bertahan
    Sampai kapan?
    Kami sangat kehilangan

    Ini rasa dari kami berempat
    Yang mencoba tersenyum dengan jiwa lemah
    Ini sungguh berat
    Semenjak engkau pergi, ayah.

  10. 10. Ayah

    Freepik.com/prostooleh
    Freepik.com/prostooleh

    Oleh: Laisya Failah Sufa

    Engkau rela membanting tulang untukku
    Tidak membiarkan sedikitpun aku kesusahan
    Tidak membiarkan aku tersakiti orang
    Dan selalu membuatku bahagia

    Ayah…
    Perjuanganmu tak akan aku biarkan sia-sia
    Akan kubalas semua kebaikan di masa akan datang
    Anak-anakmu akan menjadi sepertimu

    Menjadi orang yang sangat tangguh
    Penyabar dan penyayang
    Walaupun kau bersikap tegas pada kami
    Tapi itu merupakan caramu untuk mendidik kami

    Walau ibu yang melahirkan kami
    Tapi kau merupakan orang yang menghidupi kami
    Yang tak kalah hebatnya dengan ibu

    Itu tadi beberapa puisi Hari Ayah yang menyentuh. Puisi mana yang paling kamu suka, Bela?

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More