Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Perjalanan Cynthia Suci Lestari Menemukan Makna Bijak Berkonsumsi
Popbela.com/David Andrew
  • Cynthia Suci Lestari pernah mengalami FOMO dan kebiasaan belanja setelah mulai bekerja, sebelum menyadari pentingnya mengatur anggaran.

  • Krisis finansial keluarga menjadi titik balik yang mendorong Cynthia melakukan decluttering dan mengevaluasi hubungan dengan uang serta barang.

  • Melalui Lyfe With Less, Cynthia mengampanyekan bijak berkonsumsi sebagai prinsip yang mempertimbangkan kebutuhan, anggaran, penggunaan, dan perawatan barang.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Sekitar 2018

Cynthia mulai mencari informasi tentang minimalisme melalui blog, YouTube, dan podcast dari luar negeri. Ia kemudian mencoba berbagai perubahan kecil dalam kebiasaan konsumsinya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Cynthia Suci Lestari mengubah kebiasaan konsumsi dari berbelanja karena FOMO menjadi lebih sadar terhadap kebutuhan, anggaran, penggunaan, dan perawatan barang.
  • Who?
    Cynthia Suci Lestari, Founder Lyfe With Less, yang mengampanyekan bijak berkonsumsi.
  • Where?
    Perubahan kebiasaan Cynthia berlangsung dalam kehidupan sehari-hari, termasuk saat tinggal di kos dan mengembangkan akun Instagram Lyfe With Less.
  • When?
    Perubahan terjadi setelah Cynthia mulai bekerja dan menghadapi kesulitan finansial keluarga. Sekitar 2018, ia mulai mempelajari minimalisme.
  • Why?
    Kesulitan finansial ayahnya, tabungan yang belum memadai, tagihan kartu kredit, dan barang yang dibeli karena FOMO membuat Cynthia mengevaluasi kebiasaan konsumsinya.
  • How?
    Cynthia melakukan decluttering, menjual barang yang tidak digunakan, mengurangi pembelian, memakai produk sampai habis, dan mempertimbangkan kebutuhan serta perawatan sebelum berbelanja.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Cynthia dulu suka membeli barang karena melihat orang lain memilikinya. Setelah bekerja, ia berbelanja baju, makeup, dan sering nongkrong. Saat ayahnya mengalami kesulitan keuangan, Cynthia mulai memilah barang dan belajar mengatur uang. Sekarang, ia mengajak orang lain membeli dengan sadar, memakai barang sampai habis, dan merawatnya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Perjalanan Cynthia menunjukkan bahwa perubahan kebiasaan konsumsi dapat dimulai dari langkah yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Decluttering, penggunaan produk sampai habis, dan pertimbangan sebelum membeli membantunya menata keuangan serta mengambil keputusan dengan lebih jernih, tanpa harus mengikuti label gaya hidup tertentu atau berhenti menikmati hal yang disukai.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bela, pernah nggak sih kamu merasa ingin membeli sesuatu hanya karena melihat orang lain memilikinya? Awalnya mungkin cuma tertarik dengan baju yang sedang tren, produk makeup yang ramai dibicarakan, atau kebiasaan nongkrong di tempat yang sedang populer. Namun, tanpa sadar, keinginan kecil tersebut bisa berubah menjadi kebiasaan belanja yang sulit dikendalikan.

Hal serupa pernah dialami Cynthia Suci Lestari, Founder Lyfe With Less. Sebelum dikenal sebagai sosok yang mengampanyekan bijak berkonsumsi, Cynthia mengaku pernah berada dalam fase fear of missing out (FOMO) dan merasa ingin memiliki berbagai hal yang menurutnya menjadi simbol kemandirian finansial.

Berawal dari FOMO dan Merasa Punya Uang Setelah Bekerja

Popbela.com/David Andrew

Cynthia bercerita bahwa dirinya tumbuh dalam keluarga yang bukan berasal dari kalangan berada. Sejak kecil, ia terbiasa melihat keluarganya cukup memperhitungkan pengeluaran. Ketika masih kuliah, keterbatasan uang membuatnya tidak bisa membeli semua hal yang diinginkan.

Situasi itu berubah ketika ia mulai bekerja dan menerima gaji sendiri. Cynthia merasa memiliki kebebasan finansial yang sebelumnya belum pernah ia rasakan. Ia bahkan menyebut dirinya sempat mengalami fase OKB alias orang kaya baru.

"Dulu di kepala aku, tanda kita sudah mandiri secara finansial, sudah gede, sudah punya duit, itu harus punya kartu kredit, harus belanja baju tiap bulan, terus minum Starbucks," kenangnya.

Pada masa itu, Cynthia merasa perlu menghidupkan gambaran tentang kehidupan orang dewasa yang mandiri secara finansial. Ia mengikuti tren kecantikan yang populer di YouTube, membeli baju dan makeup, hingga menikmati kebiasaan nongkrong bersama teman-teman.

Menurutnya, lingkungan pertemanan di kantor juga ikut memengaruhi cara ia mengeluarkan uang. Ia terbiasa melihat teman memberikan hadiah ketika ada yang sedih atau menghabiskan waktu bersama dengan bepergian. Kebiasaan tersebut membuat pengeluaran untuk bersosialisasi menjadi salah satu pos yang cukup besar.

Akibatnya, uang yang baru diterima setelah gajian terasa cepat habis. Cynthia mengaku belum benar-benar memahami pentingnya mengatur anggaran dan mempertimbangkan konsekuensi dari setiap pembelian.

Krisis Finansial Menjadi Titik Balik

Popbela.com/David Andrew

Perubahan mulai terjadi ketika ayah Cynthia mengalami kesulitan finansial dan tidak lagi bekerja. Di tengah kebiasaannya berbelanja dan kondisi tabungan yang belum memadai, Cynthia harus ikut membantu memenuhi kebutuhan keluarga.

Situasi tersebut membuatnya menghadapi tekanan finansial ketika penghasilannya sendiri masih terbatas. Di saat bersamaan, ia juga harus memikirkan tagihan kartu kredit dan berbagai pengeluaran lain yang sebelumnya terasa biasa saja.

Pengalaman itu menjadi titik balik yang membuat Cynthia mempertanyakan hubungannya dengan uang. Ia mulai menyadari bahwa kebiasaan konsumsi yang selama ini dijalani tidak bisa terus dipertahankan.

Bersama teman kosnya, Cynthia kemudian mencoba mengeluarkan barang-barang yang mereka miliki untuk melihat kembali apa saja yang sebenarnya sudah terkumpul. Dari sana, ia menyadari bahwa banyak barang yang dibeli karena FOMO ternyata tidak terlalu dibutuhkan dan hanya digunakan satu atau dua kali.

Proses tersebut kemudian memperkenalkannya pada decluttering, yaitu kegiatan memilah barang untuk menentukan mana yang masih diperlukan dan mana yang sudah tidak lagi digunakan.

Menariknya, manfaat yang dirasakan Cynthia ternyata bukan hanya soal ruangan yang menjadi lebih lapang. Ia juga mulai merasa lebih tenang karena tidak lagi merasa harus menyisihkan sebagian gaji untuk membeli sesuatu setiap bulan.

Penjualan barang-barang yang tidak lagi digunakan pun membantu meringankan tekanan finansial yang sedang dihadapinya. Dari pengalaman tersebut, Cynthia mulai memahami bahwa mengurangi konsumsi secara lebih sadar bisa membantunya memperbaiki kondisi keuangan sekaligus mengubah kebiasaan sehari-hari.

Bukan Cuma Barang, Cara Memilih Lingkungan Juga Berubah

Popbela.com/David Andrew

Seiring berjalannya waktu, Cynthia mulai mengevaluasi hal-hal lain dalam kehidupannya, termasuk kebiasaan menghabiskan waktu dan lingkungan pertemanan.

Ia menyadari bahwa terlalu sering bepergian untuk sekadar nongkrong bisa menghabiskan banyak uang. Ketika mulai lebih sering menghabiskan waktu di kos, ia justru memiliki kesempatan untuk mengenali barang-barang yang dimilikinya dan memikirkan kembali kebiasaan belanjanya.

Perubahan itu juga berdampak pada kondisi finansialnya. Cynthia yang sebelumnya kesulitan menyisihkan uang mulai bisa menabung, bahkan menggunakan hasil penghematan tersebut untuk membantu membiayai pernikahannya.

Selain lebih terarah dalam mengelola keuangan, ia merasa menjadi lebih jernih dalam mengambil keputusan. Pengalaman tersebut membantunya memahami bahwa tidak semua hal yang diinginkan harus dimiliki, begitu pula tidak semua kebiasaan atau lingkungan perlu terus dipertahankan jika ternyata tidak sesuai dengan dirinya.

Cynthia juga mulai melihat barang dari sudut pandang yang berbeda. Jika sebelumnya ia merasa cukup memiliki uang untuk membeli sesuatu, kini ia mempertimbangkan hal lain sebelum memutuskan untuk berbelanja.

"Aku punya tempatnya nggak buat menyimpan? Aku punya energi nggak buat membersihkan atau memperbaiki dia kalau rusak?" ujarnya, menggambarkan beberapa hal yang kini menjadi pertimbangannya.

Baginya, barang yang dimiliki bukan hanya membutuhkan uang saat dibeli, tetapi juga ruang, waktu, dan perhatian untuk merawatnya. Ketika barang terlalu banyak menumpuk dan tidak digunakan, keberadaannya justru bisa menjadi beban tersendiri.

Dari Belajar Minimalisme hingga Mengampanyekan Bijak Berkonsumsi

Popbela.com/David Andrew

Ketertarikan Cynthia terhadap decluttering kemudian membawanya mempelajari minimalisme. Sekitar 2018, ia mulai mencari informasi melalui blog, YouTube, dan podcast dari luar negeri karena pembahasan tentang minimalisme masih relatif jarang ia temukan di Indonesia.

Dari proses belajar tersebut, Cynthia mulai mencoba berbagai perubahan kecil. Ia belajar mengurangi barang yang tidak diperlukan, menggunakan produk sampai habis sebelum membeli yang baru, hingga mempertimbangkan barang preloved sebagai alternatif belanja.

Ia juga membagikan proses belajarnya melalui akun Instagram kedua yang kemudian berkembang menjadi Lyfe With Less. Awalnya, akun tersebut dibuat sebagai ruang pribadi untuk berbagi tanpa harus merasa sungkan dengan orang-orang yang mengenalnya di kehidupan sehari-hari.

Salah satu hal yang ia bagikan adalah kebiasaan sederhana, seperti membeli sepatu tanpa membawa pulang kotaknya agar tidak menambah tumpukan barang. Ia juga berbagi pengalaman beralih dari penggunaan kapas untuk membersihkan wajah ke cleansing balm sebagai salah satu cara mengurangi barang sekali pakai dalam rutinitasnya.

Ada pula kampanye menggunakan produk sampai habis sebelum membeli yang baru. Menurut Cynthia, kampanye tersebut awalnya dibuat untuk mengingatkan dirinya sendiri agar tidak terus membeli skincare atau makeup baru ketika produk yang dimiliki masih bisa digunakan.

Namun, seiring waktu, semakin banyak orang yang merasa terhubung dengan pengalaman dan pembelajaran yang ia bagikan. Lyfe With Less pun berkembang menjadi ruang untuk mengajak lebih banyak orang mempertimbangkan kembali kebiasaan konsumsinya.

Meski begitu, Cynthia kemudian menyadari bahwa istilah minimalisme terkadang terdengar terlalu ekstrem bagi sebagian orang. Ia merasa tidak semua orang harus melabeli dirinya sebagai seorang minimalis atau menjalani gaya hidup yang sama persis.

"Semua orang bisa jadi bijak berkonsumsi, entah apa pun labelnya," jelas Cynthia.

Baginya, setiap orang memiliki kebutuhan, kepribadian, kondisi, dan fase kehidupan yang berbeda. Karena itu, ia lebih memilih mengampanyekan bijak berkonsumsi sebagai prinsip yang bisa diterapkan siapa saja, tanpa harus mengikuti standar gaya hidup tertentu.

Bijak Berkonsumsi Bukan Berarti Tidak Boleh Membeli Apa-Apa

Popbela.com/David Andrew

Bagi Cynthia, bijak berkonsumsi tidak sekadar berarti mengurangi jumlah barang atau menahan diri untuk tidak berbelanja. Lebih dari itu, prinsip ini mengajak setiap orang untuk memahami bahwa konsumsi memiliki rangkaian proses yang perlu disertai kesadaran dan tanggung jawab.

Artinya, pertimbangan tersebut tidak berhenti ketika seseorang memutuskan membeli barang. Sebelum membeli, kita perlu memahami alasan di balik keinginan tersebut. Saat membeli, kita bisa mempertimbangkan kebutuhan, anggaran, serta pilihan yang tersedia. Setelah membeli, kita juga bertanggung jawab untuk menggunakan dan merawat barang tersebut dengan baik.

Cynthia menyadari bahwa proses belajar ini berlangsung seumur hidup. Keputusan konsumsi seseorang bisa berubah seiring bertambahnya pengalaman, kondisi finansial, hingga perubahan fase kehidupan.

Karena itu, ia tidak melihat bijak berkonsumsi sebagai aturan yang membuat seseorang tidak boleh menikmati hal-hal yang disukai. Sebaliknya, prinsip ini membantu kita membedakan antara sesuatu yang benar-benar ingin dan perlu dimiliki dengan sesuatu yang hanya menarik perhatian sesaat.

Sebab, barang yang terlihat lucu atau sedang tren tidak selalu harus dibeli. Begitu pula keinginan yang muncul ketika melihat unggahan orang lain di media sosial tidak selalu perlu diikuti.

Perjalanan Cynthia mengajarkan bahwa hubungan yang lebih sehat dengan barang dan uang tidak harus dimulai dengan perubahan besar. Kita bisa memulainya dengan mengenali kebiasaan sendiri, memahami alasan di balik setiap pembelian, dan memberikan waktu untuk berpikir sebelum memutuskan sesuatu.

Bukan tentang memiliki barang sesedikit mungkin, melainkan tentang memastikan bahwa apa yang kita konsumsi memang memiliki arti dan manfaat dalam kehidupan kita.

Curated For You

Editorial Team

Related Article