Ketertarikan Cynthia terhadap decluttering kemudian membawanya mempelajari minimalisme. Sekitar 2018, ia mulai mencari informasi melalui blog, YouTube, dan podcast dari luar negeri karena pembahasan tentang minimalisme masih relatif jarang ia temukan di Indonesia.
Dari proses belajar tersebut, Cynthia mulai mencoba berbagai perubahan kecil. Ia belajar mengurangi barang yang tidak diperlukan, menggunakan produk sampai habis sebelum membeli yang baru, hingga mempertimbangkan barang preloved sebagai alternatif belanja.
Ia juga membagikan proses belajarnya melalui akun Instagram kedua yang kemudian berkembang menjadi Lyfe With Less. Awalnya, akun tersebut dibuat sebagai ruang pribadi untuk berbagi tanpa harus merasa sungkan dengan orang-orang yang mengenalnya di kehidupan sehari-hari.
Salah satu hal yang ia bagikan adalah kebiasaan sederhana, seperti membeli sepatu tanpa membawa pulang kotaknya agar tidak menambah tumpukan barang. Ia juga berbagi pengalaman beralih dari penggunaan kapas untuk membersihkan wajah ke cleansing balm sebagai salah satu cara mengurangi barang sekali pakai dalam rutinitasnya.
Ada pula kampanye menggunakan produk sampai habis sebelum membeli yang baru. Menurut Cynthia, kampanye tersebut awalnya dibuat untuk mengingatkan dirinya sendiri agar tidak terus membeli skincare atau makeup baru ketika produk yang dimiliki masih bisa digunakan.
Namun, seiring waktu, semakin banyak orang yang merasa terhubung dengan pengalaman dan pembelajaran yang ia bagikan. Lyfe With Less pun berkembang menjadi ruang untuk mengajak lebih banyak orang mempertimbangkan kembali kebiasaan konsumsinya.
Meski begitu, Cynthia kemudian menyadari bahwa istilah minimalisme terkadang terdengar terlalu ekstrem bagi sebagian orang. Ia merasa tidak semua orang harus melabeli dirinya sebagai seorang minimalis atau menjalani gaya hidup yang sama persis.
"Semua orang bisa jadi bijak berkonsumsi, entah apa pun labelnya," jelas Cynthia.
Baginya, setiap orang memiliki kebutuhan, kepribadian, kondisi, dan fase kehidupan yang berbeda. Karena itu, ia lebih memilih mengampanyekan bijak berkonsumsi sebagai prinsip yang bisa diterapkan siapa saja, tanpa harus mengikuti standar gaya hidup tertentu.