Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Emotional Invalidation Adalah Perasaan yang Diremehkan, Ini Dampaknya!
magnific.com/magnific
  • Emotional invalidation adalah tindakan mengabaikan atau menolak perasaan, pikiran, maupun perilaku seseorang, lewat ucapan atau sikap nonverbal yang membuat emosi terasa tidak penting atau salah.

  • Bentuknya meliputi meremehkan, menyalahkan, membandingkan, mengabaikan, memberi solusi tanpa memahami perasaan, hingga toxic positivity; pelaku bisa melakukannya sengaja atau tanpa sadar.

  • Jika berulang, invalidasi dapat mengganggu pengelolaan emosi, rasa percaya diri, hubungan, dan kesehatan mental. Self-validation membantu mengenali emosi, memahami penyebabnya, serta memisahkan perasaan dari tindakan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah merasa sedih, kecewa, atau marah, tapi respons orang lain justru membuatmu merasa terlalu sensitif? Hal seperti ini mungkin terdengar biasa, tapi ketika seseorang terus-menerus merasa emosinya diabaikan atau dianggap berlebihan, hal tersebut bisa memengaruhi cara dia melihat dan memahami dirinya sendiri.

Dalam hubungan sehari-hari, kemampuan untuk mendengarkan dan memahami perasaan satu sama lain sebenarnya punya peran penting. Lantas, apa sebenarnya emotional validation adalah dan seperti apa bentuknya? Yuk, simak penjelasannya berikut ini.

Apa itu emotional invalidation?

ilustrasi ngobrol berdua (freepik.com/katemangostar)

Emotional invalidation adalah tindakan mengabaikan atau menolak pikiran, perasaan, maupun perilaku seseorang. Secara tidak langsung, hal ini menyampaikan pesan bahwa perasaan seseorang tidak penting atau salah. Sikap ini dapat membuat seseorang merasa tidak dianggap penting atau merasa dirinya tidak rasional. Bentuknya beragam dan bisa terjadi kapan saja.

Sebagian orang melakukan emotional invalidation dengan sengaja sebagai cara untuk memanipulasi orang lain, misalnya dengan membuat mereka mempertanyakan perasaannya sendiri. Sementara itu, ada juga yang melakukannya tanpa sadar ketika berusaha menghibur seseorang dalam situasi yang penuh tekanan.

Emotional invalidation juga tidak selalu disampaikan melalui ucapan. Perilaku nonverbal seperti memutar mata, mengabaikan seseorang, atau bermain ponsel ketika orang lain sedang berbicara juga dapat menjadi bentuk invalidasi. Apa pun bentuknya, dapat menimbulkan kebingungan dan membuat seseorang kehilangan rasa percaya.

Bentuk emotional invalidation

Ilustrasi ngobrol dengan rekan kerja (freepik.com/freepik)

Emotional invalidation terjadi ketika respons emosional seseorang dianggap salah, berlebihan, tidak masuk akal, atau tidak pantas untuk diperhatikan. Bentuknya bisa terlihat jelas ataupun sangat halus, seperti contoh berikut:

  • Meminimalkan perasaan: Menganggap masalah yang dirasakan seseorang bukan sesuatu yang serius atau menyuruhnya untuk tidak berlebihan.

  • Mengabaikan perasaan: Menganggap seseorang terlalu sensitif atau terlalu terbawa perasaan.

  • Mengabaikan sepenuhnya: Tidak memberikan respons atau perhatian terhadap emosi yang sedang dirasakan seseorang.

  • Menyalahkan: Menganggap seseorang sebagai penyebab munculnya masalah sehingga perasaan yang dirasakan seolah tidak beralasan.

  • Membandingkan: Menganggap seseorang tidak seharusnya merasa sedih atau kecewa karena ada orang lain yang mengalami masalah lebih berat.

  • Terlalu mengandalkan logika: Merespons emosi hanya dengan memberikan logika atau solusi tanpa terlebih dahulu memahami perasaan orang tersebut.

  • Toxic positivity: Memaksa seseorang untuk selalu berpikir positif atau menganggap semua kejadian pasti memiliki alasan tertentu.

Respons seperti ini terkadang dilakukan dengan niat baik. Namun, jika terus terjadi, hal tersebut dapat mengurangi rasa berharga dalam diri seseorang dan membuatnya kesulitan untuk mengekspresikan serta memahami emosinya sendiri.

Mengapa orang melakukan emotional invalidation?

Ilustrasi wanita ngobrol dengan teman (freepik.com/jcomp)

Emotional invalidation sering terjadi ketika seseorang sedang mengungkapkan perasaan atau menceritakan pengalaman yang dialaminya. Seseorang bisa melakukan invalidasi karena tidak mampu memproses emosi orang lain. Mereka mungkin sedang sibuk dengan masalah pribadi atau tidak tahu bagaimana harus merespons emosi tersebut pada saat itu.

Invalidasi juga bisa digunakan sebagai strategi dalam sebuah argumen. Respons tersebut dapat memberikan kesan seolah-olah memahami perasaan seseorang, padahal sebenarnya digunakan untuk menjaga jarak atau menghindari tanggung jawab atas peran yang dimiliki dalam munculnya emosi tersebut.

Emotional invalidation dapat terlihat dalam bentuk menyalahkan, memberi sebutan yang merendahkan, atau langsung menawarkan solusi sebelum memahami pengalaman orang lain. Meremehkan pengalaman seseorang juga termasuk bentuk invalidasi.

Dampak emotional invalidation

Ilustrasi minum teh sambil ngobrol hangat (Pexels.com/Alex.Green)

Jika terjadi berulang, emotional invalidation dapat memengaruhi cara seseorang memahami emosi dan dirinya sendiri. Beberapa dampaknya antara lain:

  • Sulit mengelola emosi: Seseorang bisa merasa bingung, meragukan diri sendiri, dan mulai tidak percaya pada emosinya karena terus merasa bahwa perasaannya salah.

  • Menurunkan rasa percaya diri: Emosi yang terus diabaikan dapat membuat seseorang terbiasa memendam perasaan dan merasa dirinya kurang berharga.

  • Mengganggu hubungan dengan orang lain: Emotional invalidation dapat menimbulkan kebingungan dan rasa tidak percaya, sehingga seseorang mungkin kesulitan merasa aman saat terbuka kepada orang lain.

  • Memengaruhi kesehatan mental: Dalam kondisi tertentu, emotional invalidation dapat membuat masalah seperti kecemasan dan depresi, atau memperburuk gejala yang sudah ada.

  • Berdampak hingga dewasa: Jika dialami sejak masa kanak-kanak, maka bisa memengaruhi cara seseorang memahami dan mengelola emosi hingga dewasa.

Apakah emotional invalidation termasuk emotional abuse?

Ilustrasi ngobrol dengan mantan (freepik.com/mego-studio)

Emotional invalidation berada dalam sebuah spektrum. Sesekali gagal memahami atau memvalidasi perasaan orang lain merupakan bagian dari ketidaksempurnaan manusia, karena tidak ada orang yang selalu mampu memberikan respons penuh empati setiap saat.

Namun, ketika invalidasi itu sering dilakukan, sengaja, atau digunakan sebagai alat untuk mengendalikan orang lain, perilaku tersebut dapat masuk ke dalam emotional abuse atau kekerasan emosional.

Self-validation: belajar mempercayai emosi diri sendiri

ilustrasi ngobrol (pexels.com/Katerina Holmes)

Salah satu kemampuan yang penting untuk dikembangkan, terutama jika seseorang sudah lama mengalami invalidasi, adalah melakukan self-validation atau validasi terhadap diri sendiri.

Self-validation bukan berarti menganggap setiap reaksi emosional pasti sudah tepat atau membenarkan semua perilaku yang dilakukan. Hal ini berarti mengakui bahwa perasaan tersebut memang ada, nyata, dan tidak membuat seseorang menjadi lemah, terlalu dramatis, atau bermasalah. Adapun beberapa caranya sebagai berikut:

  • Memberi nama pada emosi: kenali apa yang sedang dirasakan, misalnya menyadari bahwa diri sedang terluka atau kecewa. Memberi nama pada emosi dapat membantu seseorang memahami dan mengelola intensitas perasaan tersebut.

  • Memahami alasan di balik emosi: sadari bahwa perasaan tertentu dapat muncul sebagai respons terhadap pengalaman yang telah dilalui.

  • Memisahkan perasaan dan tindakan: memahami bahwa merasakan sesuatu tidak berarti harus langsung bertindak berdasarkan emosi tersebut.

  • Menantang suara kritis dalam diri: ketika muncul pikiran bahwa diri sendiri terlalu berlebihan, coba pertanyakan dari mana suara atau keyakinan tersebut berasal.

Emotional invalidation bisa membuat seseorang meragukan perasaannya sendiri. Karena itu, penting untuk belajar mengenali, memahami, dan memvalidasi emosi yang dirasakan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article