Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bukan Cuma Fisik, Ini Dampak Kabar Bencana bagi Kesehatan Mental
Pexels.com/Cottonbro
  • Erupsi Gunung Anak Krakatau yang ramai di media sosial dapat memengaruhi kondisi psikologis masyarakat, termasuk mereka yang jauh dari lokasi.
  • Paparan kabar bencana berulang dapat berkaitan dengan kecemasan, rasa tidak berdaya, gangguan tidur, dan kesulitan berkonsentrasi.
  • Informasi akurat tetap penting untuk keselamatan, sementara pembatasan paparan dan aktivitas lain dapat memberi jeda bagi pikiran.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Apakah kamu membatasi waktu membaca kabar bencana?
Vote Now
sejak beberapa hari terakhir

Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Apakah kamu membatasi waktu membaca kabar bencana?
Vote Now
  • What?
    Kabar erupsi Gunung Anak Krakatau yang terus dilihat dapat memengaruhi kesehatan mental.
  • Who?
    Masyarakat, termasuk orang yang berada jauh dari lokasi kejadian, dapat terdampak secara psikologis.
  • Where?
    Di media sosial serta di tempat masyarakat mengikuti video erupsi, abu vulkanik, dan informasi dampaknya.
  • When?
    Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi sejak beberapa hari terakhir.
  • Why?
    Informasi yang berulang, mengkhawatirkan, belum sepenuhnya jelas, atau terus berkembang dapat memicu rasa takut dan cemas.
  • How?
    Paparan melalui pengecekan berita, video, dan unggahan media sosial secara terus-menerus dapat membuat pikiran terpaku pada kemungkinan buruk.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Apakah kamu membatasi waktu membaca kabar bencana?
Vote Now

Gunung Anak Krakatau sedang erupsi sejak beberapa hari terakhir. Orang-orang melihat video dan kabarnya di media sosial. Ada yang jadi takut, cemas, susah tidur, dan susah fokus. Kita bisa melihat informasi yang akurat, tetapi tidak terus-menerus, lalu melakukan kegiatan lain bersama orang terdekat atau hobi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Apakah kamu membatasi waktu membaca kabar bencana?
Vote Now

Informasi akurat mengenai bencana tetap memiliki peran penting, terutama yang berkaitan dengan keselamatan. Membatasi waktu membaca berita dan memilih sumber terpercaya memberi ruang bagi pikiran untuk beristirahat. Jeda melalui aktivitas lain, seperti berjalan kaki, hobi, atau waktu bersama orang terdekat, dapat membantu mengurangi paparan kabar yang mengkhawatirkan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Apakah kamu membatasi waktu membaca kabar bencana?
Vote Now

Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi sejak beberapa hari terakhir. Kabar tersebut pun dengan cepat menyebar di media sosial, mulai dari video aktivitas erupsi, kondisi abu vulkanik, hingga berbagai informasi mengenai dampaknya. Situasi ini membuat masyarakat tak hanya memperhatikan kondisi fisik dan keselamatan, tetapi juga kondisi psikologis yang mungkin ikut terdampak.

Bagi sebagian orang, melihat pemberitaan mengenai bencana secara terus-menerus dapat memunculkan rasa takut dan cemas, bahkan ketika berada jauh dari lokasi kejadian. Keinginan untuk terus mengetahui perkembangan terbaru juga terkadang membuat kita tanpa sadar melakukan doomscrolling dan semakin sulit mengalihkan perhatian dari situasi tersebut.

1. Memicu rasa cemas dan takut

Pexels.com/RDNE Stock project

Melihat kabar mengenai erupsi secara terus-menerus dapat membuat kita semakin memikirkan kemungkinan buruk yang mungkin terjadi. Apalagi jika informasi yang muncul belum sepenuhnya jelas atau terus mengalami perkembangan.

Rasa takut dan cemas sendiri merupakan respons yang wajar ketika seseorang menghadapi situasi yang dianggap mengancam atau tidak pasti. WHO mencatat bahwa situasi darurat dapat memicu berbagai bentuk tekanan psikologis, termasuk kecemasan, kesedihan, dan rasa tidak berdaya.

2. Membuat kita merasa terus berada dalam situasi berbahaya

Pexels.com/RDNE Stock project

Ketika feed dipenuhi video erupsi, kepulan abu, atau kondisi wilayah terdampak, otak bisa terus mendapatkan pengingat mengenai ancaman tersebut. Akibatnya, kita mungkin merasa sulit benar-benar rileks meski sebenarnya sedang berada di tempat yang aman.

Karena itu, melihat satu video atau berita secara berulang belum tentu membantu kita merasa lebih siap. Justru, paparan yang terlalu banyak dapat membuat pikiran semakin terpaku pada kemungkinan buruk.

3. Menimbulkan rasa tidak berdaya

Pexels.com/Karola G

Bencana alam merupakan sesuatu yang berada di luar kendali kita. Ketika terus melihat perkembangan dari jauh, kita mungkin merasa khawatir terhadap orang-orang yang terdampak, tetapi tidak tahu apa yang bisa dilakukan.

WHO menyebut rasa tidak berdaya, sulit tidur, kelelahan, dan mudah marah sebagai beberapa respons psikologis yang dapat muncul dalam situasi darurat. Pada banyak orang, tekanan tersebut dapat membaik seiring waktu.

4. Mengganggu tidur dan konsentrasi

Pexels.com/Karola G

Kebiasaan terus mengecek berita juga dapat membuat pikiran sulit beristirahat. Misalnya, masih membuka media sosial sebelum tidur untuk melihat apakah ada perkembangan terbaru mengenai erupsi.

Kalau dilakukan berulang, informasi yang mengkhawatirkan tersebut bisa membuat kita lebih sulit melepaskan perhatian dari situasi bencana. Akibatnya, tidur dan konsentrasi pada aktivitas sehari-hari pun dapat ikut terganggu.

5. Membuat kita terus-menerus mengecek berita

Pexels.com/khánh vũ

Ironisnya, rasa cemas justru bisa membuat kita semakin ingin mencari informasi. Kita mungkin berpikir bahwa dengan terus mengikuti perkembangan terbaru, rasa takut akan berkurang. Namun, terlalu banyak terpapar informasi negatif justru dapat membuat kecemasan semakin kuat dan membuat kita kembali mengecek berita untuk mencari kepastian.

Tetap update tanpa membuat diri semakin overwhelmed

Pexels.com/Karola G

Bukan berarti kita harus menghindari semua informasi mengenai bencana. Informasi yang akurat justru penting, terutama jika berkaitan dengan keselamatan.

Namun, cobalah memilih beberapa sumber terpercaya dan batasi waktu untuk membaca berita. Tidak perlu terus menonton video atau mengikuti setiap unggahan yang muncul di media sosial.

Setelah mendapatkan informasi yang memang dibutuhkan, beri waktu bagi diri sendiri untuk melakukan aktivitas lain. Berjalan kaki, berolahraga ringan, membaca buku, melakukan hobi, atau menghabiskan waktu bersama orang terdekat dapat membantu memberikan jeda dari paparan berita.

Jika rasa cemas, sulit tidur, atau tekanan emosional terus berlangsung hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional.

Menjaga kesehatan mental bukan berarti mengabaikan situasi di sekitar. Kita tetap bisa waspada dan mengikuti perkembangan bencana tanpa harus membiarkan setiap kabar buruk memenuhi pikiran sepanjang hari. Stay safe, Bela!

Bagikan kebiasaanmu saat mengikuti kabar bencana

Apakah kamu membatasi waktu membaca kabar bencana?

See More
Ya, saya membatasinya
A*** has voted
B*** has voted
C**** has voted
Tidak, saya terus mengecek

Curated For You

Editorial Team

Related Article